Penyelidikan insiden tabrakan antara KA Argo Bromo Anggrek dan KRL Commuter Line di kawasan Stasiun Bekasi Timur terus bergulir dengan melibatkan berbagai pihak. Aparat kepolisian, regulator transportasi, hingga Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) masih mengumpulkan data dan keterangan guna mengungkap penyebab pasti kecelakaan yang sempat mengganggu operasional perkeretaapian tersebut.
Sejumlah temuan awal mulai mengemuka, mulai dari dugaan gangguan sistem persinyalan hingga aspek keselamatan kendaraan yang berada di perlintasan sebidang. Di sisi lain, evaluasi terhadap faktor manusia dan kesiapan operator juga menjadi sorotan, termasuk pelatihan pengemudi kendaraan listrik serta standar operasional dalam situasi darurat, yang kini tengah didalami untuk mencegah kejadian serupa terulang.
Imbas KA vs KRL, Polisi Panggil Semua Pengusaha Taksi Listrik Pekan DepanDirektorat Penegakan Hukum (Dirgakkum) Korlantas Polri Brigjen Faizal akan memanggil para pengusaha taksi berbasis kendaraan listrik (electric vehicle/EV) pada pekan depan. Langkah ini dilakukan sebagai tindak lanjut kecelakaan di perlintasan kereta di Bekasi, sekaligus memperkuat pemahaman SOP dalam kondisi darurat.
"Dengan kejadian ini, minggu depan kami sudah melayangkan surat kepada seluruh pengusaha taksi atau mobil penumpang taksi terutama yang sekarang menggunakan kendaraan listrik atau EV untuk kami kumpulkan," kata Faizal dalam diskusi bertajuk 'Kecelakaan Kereta di Bekasi Timur', di kompleks parlemen, Senayan, Jakarta, Kamis (30/4).
Faizal mengatakan, pemanggilan ini penting untuk memastikan para pengemudi memahami cara menangani kondisi darurat, khususnya saat kendaraan mengalami kendala di perlintasan kereta. Ia menyoroti perbedaan penanganan antara kendaraan listrik dan kendaraan manual.
"Bagaimana mengatasi apabila terjadi hal yang kemarin? Driver ini dibekali pengetahuan nggak untuk mengatasi bagaimana kalau kendaraan listrik ini berhenti di tengah rel kereta api?," tutur dia.
KNKT Dalami Dugaan Gangguan Sinyal di Balik Tabrakan Kereta di Bekasi TimurKomite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) terus mendalami penyebab kecelakaan antara KA Argo Bromo Anggrek dan KRL Commuter Line di Bekasi Timur. Salah satu aspek yang kini disorot adalah sistem persinyalan.
“Sejak malam kejadian hingga hari ini KNKT sudah menurunkan 5 investigator perkeretaapian. Ketua KNKT juga sejak kemarin aktif memantau perkembangan di lapangan. Untuk perkembangan investigasi, sampai sekarang belum ada informasi signifikan yang bisa kami sampaikan ke publik,” ujar Humas KNKT Arif saat dihubungi, Kamis (30/4).
Masinis KA Argo Bromo Anggrek, Nofiandi, sebelumnya mengaku terkejut atas insiden tersebut. Ia menyebut, indikasi gangguan sinyal sempat terlihat sebelum kejadian.
Keterangan Nofiandi diunggah di kanal YouTube Trainspotter ID.
“Tadi sudah ada informasi dari PK (pusat kendali), tapi saya belum sepenuhnya copy (menerima informasi tersebut), sudah keburu sinyalnya merah,” paparnya.
Sopir Taksi Green SM yang Terlibat Kecelakaan KRL di Bekasi Baru Kerja 2 HariPolisi terus mendalami kasus kecelakaan KRL tabrak taksi listrik Green SM di perlintasan sebidang Ampera, Bekasi Timur. Terbaru, polisi mengungkap fakta mengenai latar belakang sang sopir berinisial RRP.
“Dari hasil keterangan driver ataupun sopir taksi online yang sudah dimintai keterangan bahwa yang bersangkutan baru bekerja itu semenjak tanggal 25 April 2026,” kata Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Pol Budi Hermanto di Monas, Jakarta Pusat, Kamis (30/4).
Budi menyebut bahwa RRP merupakan karyawan baru di perusahaan taksi tersebut. RRP juga mengaku hanya mendapatkan pelatihan singkat selama satu hari sebelum diterjunkan ke jalan raya.
“Jadi terkait tentang bagaimana mengendarai, cara menghidupkan kendaraan tersebut, ini baru pengenalan dasar itu dilakukan satu hari. Nah, bagaimana menyalakan, mematikan mobil serta cara lampu sein, parkir dan lain-lain. Ini terjadi, ini masih didalami oleh teman-teman penyidik,” ujar Budi.
Usai Tabrakan Green SM-KRL, Ditjen Hubdar Audit Sistem Keselamatan ArmadaDitjen Perhubungan Darat Aan Suhanan melakukan pemeriksaan ke pool Green SM di Bekasi, Jawa Barat pada Selasa (28/4) malam, usai insiden kecelakaan maut yang melibatkan taksi Green SM, KRL, dan KA jarak jauh pada Senin (26/4) lalu. Inspeksi yang dilaksanakan berfokus pada pemeriksaan kelengkapan administrasi, kelaikan kendaraan, kesiapan operasional armada, serta elemen-elemen keselamatan lainnya.
"Sidak ini bertujuan untuk memastikan penerapan Manajemen Keselamatan Perusahaan Angkutan Umum (SMK PAU) berjalan sesuai ketentuan karena berkaitan dengan keselamatan kendaraan," ujar Aan dalam unggahan Direktorat Jenderal Perhubungan Darat, Kementerian Perhubungan, Kamis (30/4).
Pemeriksaan ini tak berhenti di Bekasi. Pendalaman dilanjutkan ke pool pusat di Kemayoran, Jakarta, sekaligus berkoordinasi dengan kepolisian dan KNKT terkait dugaan keterlibatan kendaraan dalam insiden KRL Cikarang.
"Hasil dari audit dan inspeksi nantinya akan menjadi dasar pemberian rekomendasi. Baik berupa perbaikan sistem keselamatan atau pun pemberian sanksi administratif apabila ditemukan pelanggaran berupa surat peringatan, pembekuan izin, sampai dengan pencabutan izin sesuai tingkat pelanggarannya," ungkap Aan.




