Jakarta (ANTARA) - Pemilik PT Berkat Cawan Group Albert Junior, perusahaan yang menggarap dua proyek pembangkit listrik tenaga air (PLTA) di Jawa Barat menyampaikan kesiapannya mendukung program ketahanan energi dan kemandirian pangan Indonesia.
Adapun kedua proyek yang digarap oleh perusahaan tersebut meliputi proyek PLTA Cibuni berkapasitas 99 MW di Sukabumi dan Cianjur, serta PLTA Cimandiri kapasitas 75 MW di Sukabumi, Jawa Barat.
"Saat ini, dua proyek itu tengah dirampungkan oleh PT Berkat Cawan Energi. Proyek ini diharapkan dapat memperkuat pasokan listrik nasional sekaligus menjadi bagian penting dalam akselerasi transisi energi bersih di Indonesia," kata Albert dalam keterangannya yang diterima di Jakarta, Kamis.
Dari sisi perizinan, lanjut dia, sudah rampung dan tahun 2026 masuk tahap konstruksi.
Menurut dia, sebagai wilayah yang dikelilingi air, sangat tepat bila Indonesia mampu memanfaatkannya menjadi energi listrik. Seperti PLTA di Sukabumi menjadi penyuplai listrik di Jawa Barat.
Ia mengatakan berkeyakinan jika potensi energi air dimanfaatkan optimal, Indonesia berpeluang besar mencapai kemandirian energi tanpa harus mengorbankan lahan pertanian maupun perkebunan.
Lebih jauh Albert mengatakan, ketahanan energi erat kaitannya dengan ketahanan pangan. Sebab, pengelolaan sumber daya air berguna juga untuk irigasi dan penyediaan air bersih.
"Ada tiga manfaat utama yang bisa kita peroleh, yakni energi listrik, dukungan untuk pertanian, dan pengelolaan air bersih. Bahkan kualitas airnya pun bisa lebih terjamin," katanya.
Baginya, sistem pengelolaan air menjadi faktor kunci dalam mendukung produktivitas pertanian. Apabila pasokan energi terganggu, terutama yang masih bergantung pada batu bara, maka distribusi listrik akan terdampak, yang pada akhirnya mengganggu seluruh rantai produksi pangan, mulai dari pengairan hingga pengolahan hasil pertanian.
Dia menambahkan, jika ingin memperkuat ketahanan pangan, langkah pertama yang harus dilakukan adalah membenahi infrastruktur energi, khususnya listrik. Yang terpenting bagi dirinya adalah bagaimana menciptakan energi listrik yang benar-benar berasal dari energi baru terbarukan, dengan memanfaatkan sumber daya alam yang melimpah seperti air.
“Indonesia memiliki banyak sungai, sehingga tidak harus selalu bergantung pada sumber energi lain," ujar dia.
Albert juga menyoroti tingginya harga energi dan mineral yang dipengaruhi oleh masih dominannya penggunaan energi fosil, seperti batu bara dan solar.
"Perlu transformasi dengan menjadikan energi air menjadi solusi strategis. Proyek di Sukabumi upaya nyata menggantikan ketergantungan terhadap batu bara dengan energi terbarukan," katanya.
Adapun kedua proyek yang digarap oleh perusahaan tersebut meliputi proyek PLTA Cibuni berkapasitas 99 MW di Sukabumi dan Cianjur, serta PLTA Cimandiri kapasitas 75 MW di Sukabumi, Jawa Barat.
"Saat ini, dua proyek itu tengah dirampungkan oleh PT Berkat Cawan Energi. Proyek ini diharapkan dapat memperkuat pasokan listrik nasional sekaligus menjadi bagian penting dalam akselerasi transisi energi bersih di Indonesia," kata Albert dalam keterangannya yang diterima di Jakarta, Kamis.
Dari sisi perizinan, lanjut dia, sudah rampung dan tahun 2026 masuk tahap konstruksi.
Menurut dia, sebagai wilayah yang dikelilingi air, sangat tepat bila Indonesia mampu memanfaatkannya menjadi energi listrik. Seperti PLTA di Sukabumi menjadi penyuplai listrik di Jawa Barat.
Ia mengatakan berkeyakinan jika potensi energi air dimanfaatkan optimal, Indonesia berpeluang besar mencapai kemandirian energi tanpa harus mengorbankan lahan pertanian maupun perkebunan.
Lebih jauh Albert mengatakan, ketahanan energi erat kaitannya dengan ketahanan pangan. Sebab, pengelolaan sumber daya air berguna juga untuk irigasi dan penyediaan air bersih.
"Ada tiga manfaat utama yang bisa kita peroleh, yakni energi listrik, dukungan untuk pertanian, dan pengelolaan air bersih. Bahkan kualitas airnya pun bisa lebih terjamin," katanya.
Baginya, sistem pengelolaan air menjadi faktor kunci dalam mendukung produktivitas pertanian. Apabila pasokan energi terganggu, terutama yang masih bergantung pada batu bara, maka distribusi listrik akan terdampak, yang pada akhirnya mengganggu seluruh rantai produksi pangan, mulai dari pengairan hingga pengolahan hasil pertanian.
Dia menambahkan, jika ingin memperkuat ketahanan pangan, langkah pertama yang harus dilakukan adalah membenahi infrastruktur energi, khususnya listrik. Yang terpenting bagi dirinya adalah bagaimana menciptakan energi listrik yang benar-benar berasal dari energi baru terbarukan, dengan memanfaatkan sumber daya alam yang melimpah seperti air.
“Indonesia memiliki banyak sungai, sehingga tidak harus selalu bergantung pada sumber energi lain," ujar dia.
Albert juga menyoroti tingginya harga energi dan mineral yang dipengaruhi oleh masih dominannya penggunaan energi fosil, seperti batu bara dan solar.
"Perlu transformasi dengan menjadikan energi air menjadi solusi strategis. Proyek di Sukabumi upaya nyata menggantikan ketergantungan terhadap batu bara dengan energi terbarukan," katanya.





