JAKARTA, KOMPAS.com - Pengamat politik UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Adi Prayitno, menilai perombakan kabinet yang menyasar menteri dari kalangan ketua umum partai politik (ketum parpol) cenderung sulit dilakukan.
Menurut Adi, hal tersebut berkaitan erat dengan posisi strategis ketum parpol sebagai penopang utama stabilitas dan dukungan politik dalam pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.
“Setiap reshuffle itu salah satu yang dipertimbangkan adalah soal potensi gejolak dan stabilitas politiknya. Apa salah satunya? Rasanya reshuffle itu agak sulit terjadi pada ketum-ketum partai itu agak rumit. Karena ketum partai yang jadi menteri itu kan adalah bandul bagaimana dukungan politik itu ada," kata Adi dalam tayangan YouTube Gaspol Kompas.com, Jumat (1/5/2026).
Baca juga: Tiga Jenis Pejabat dalam Reshuffle Kabinet Terbaru Prabowo
Tercatat empat nama ketum parpol yang saat ini masih menjadi menteri Prabowo.
Antara lain Bahlil Lahadalia, Ketua Umum Partai Golkar, menjabat Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM),
Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) Ketua Umum Partai Demokrat, menjabat Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan.
Zulkifli Hasan atau Zulhas Ketua Umum PAN, menjabat Menteri Koordinator Bidang Pangan.
Juga, Muhaimin Iskandar atau Cak Imin Ketua Umum PKB menjabat Menteri Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat (PM).
Baca juga: Gaspol Hari Ini: Ada Menteri Prabowo Tak Tersentuh Reshuffle?
Ia menjelaskan, dalam setiap keputusan reshuffle, presiden tidak hanya mempertimbangkan kinerja, tetapi juga potensi gejolak politik yang bisa muncul akibat perubahan komposisi kabinet.
Selain itu, prinsip menjaga keseimbangan jatah kursi partai dalam kabinet juga menjadi pertimbangan penting.
Adi menyebut, pengurangan jatah partai berisiko mengganggu ritme hubungan politik di internal koalisi.
“Yang kedua, prinsipnya jangan sampai ngurangin jatah partai. Kalau partai ada 5 atau 6, jangan dikurangin. Kalau pun toh dikurangin, mungkin dikasih di tempat yang lain," ungkapnya.
Baca juga: Qodari Di-reshuffle Jadi Kepala Bakom: Presiden Melihat Akumulasi Pengalaman
Meski demikian, Adi melihat posisi tawar partai-partai dalam pemerintahan saat ini tidak sepenuhnya kuat.
Sebab, Presiden dinilainya memiliki banyak opsi dukungan politik dari partai lain di luar koalisi.
Ia mencontohkan potensi dukungan dari PDI Perjuangan (PDI-P), Partai Nasdem, hingga Partai Keadilan Sejahtera (PKS).





