Pembangunan Museum dan Rumah Singgah Marsinah di Desa Nglundo, Kecamatan Sukomoro, Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur, telah rampung, tinggal tahap penyelesaian akhir. Museum yang di dalamnya terdapat koleksi beragam barang milik Marsinah, seperti seragam, ijazah, hingga sepeda ini berfungsi sebagai ruang edukasi bagi perjuangan buruh.
Berdiri di atas lahan milik bibi Marsinah, museum itu juga dilengkapi rumah singgah yang bisa dipakai untuk menginap para buruh. Peletakan batu pertama pembangunannya dilakukan oleh Kepala Polri Jenderal Listyo Sigit Prabowo, 27 Desember 2025 lalu.
Mengutip unggahan Dinas Komunikasi dan Informatika Kabupaten Nganjuk di media sosial, beberapa hari lalu, menyatakan, persiapan terus dikebut. “Nganjuk siap sambut peresmian Museum Marsinah yang direncanakan berlangsung Mei 2026,” begitu bunyi judul unggahan tersebut.
Saat berkunjung ke tempat itu, Wakil Bupati Nganjuk Tri Handy Saputro memastikan seluruh aspek sudah siap. Mulai dari akses jalan, penerangan, hingga fasilitas penunjang bagi pengunjung. Dia juga memberikan instruksi agar seluruh kekurangan segera diselesaikan.
Keberadaan museum dan rumah singgah di kampung halaman Marsinah itu diharapkan tak hanya menjadi ruang edukasi sejarah sekaligus perhormatan dan perjuangan terhadap Marsinah sebagai Pahlawan Nasional, tetapi juga memerkuat identitas Nganjuk sebagai daerah yang menghargai nilai-nilai perjuangan.
Nglundo sendiri merupakan tempat Marsinah menghabiskan masa kecil. Berdasarkan catatan Kompas, anak kedua dari tiga bersaudara itu lahir 10 April 1969. Sejak kecil Marsinah diasuh oleh neneknya lantaran ibunya meninggal saat dia berumur 3 tahun dan ayahnya menikah lagi.
Seperti anak-anak desa lainnya, dia telah bekerja sejak usia dini dan tampak lebih dewasa dari usianya. Meski kepandaiannya dianggap biasa, namun minat baca, sikap kritis, dan tanggung jawabnya terlihat besar.
Marsini, kakak kandung Marsinah, saat dihubungi, Jumat (1/5/2026), berharap museum yang ada bisa terus menjadi penyemangat bagi perjuangan kaum buruh. Selain itu, museum tersebut juga menjadi wahana edukasi bagi para siswa dan anak muda untuk terus belajar menggapai cita-cita.
“Dengan berkunjung ke museum, mereka bisa mendapatkan edukasi tentang orang kecil. Orang yang dulu hidupnya biasa-biasa saja, dengan tekad berjuang untuk memperbaiki hidupnya lebih baik. Sekarang, setelah tiada, dia bisa menjadi motivasi bagi anak belajar lebih giat. Bisa mencontoh Marsinah. Dulu Marsinah yang penting bisa sekolah, nomor satu bisa sekolah,” tuturnya.
Dengan menjadi wahana pendidikan, lanjut Marsini, banyak siswa dari luar daerah datang ke tempat itu. Sehingga, museum Marsinah nantinya juga akan memiliki dampak terhadap ekonomi masyarakat di sekitarnya. Mereka bisa mengembangkan usaha mikro kecil dan menengah (UMKM).
Hal senada disampaikan Ketua Federasi Serikat Buruh Kimia Industri Umum Farmasi dan Kesehatan (FSB KIKES), Konfederasi Serikat Buruh Sejahtera Indonesia Nganjuk, Kelik Widi Wahyuno.
“Harapannya museum ini menjaga spirit perjuangan kaum buruh. Mbak Marsinah menjadi spirit perjuangan kami, memotivasi kami untuk berjuang demi kesejahteraan para buruh,” ujar Kelik, saat dihubungi secara terpisah, Jumat.
Menurut Kelik semua anggaran untuk pembangunan museum tidak menggunakan dana anggaran belanja daerah maupun negara. Dananya berasal dari serikat buruh.
Pihaknya juga berterima kasih terhadap pemerintah yang telah menetapkan Marsinah sebagai pahlawan. Gelar pahlawan, kata dia menjadi amunisi baru bagi para buruh untuk tetap berjuang menyejahterakan buruh.
Sementara itu, Sosiolog Universitas Muhammadiyah Malang, Wahyudi Winarjo, menilai, keputusan membangun museum Marsinah adalah hal yang baik guna menghormati, menghargai, dan mengapresiasi terhadap perjuangan buruh.
Sudah menjadi rahasia umum, menurut Wahyudi bahwa nasib buruh di semua tempat selalu kurang beruntung. Tidak banyak yang memerjuangkan dan membela. Dalam teori sosiologi, lanjutnya, filusuf dan ekonom Jerman, Karl Marx, menjelaskan, nilai lebih yang dimiliki oleh buruh banyak dinikmati oleh mereka kaum borjuis atau kapitalis
Melalui pembangunan museum, menurut Wahyudi rakyat berharap itu bukan sekedar monumen tetapi juga spirit untuk menghormati buruh, menghargai, dan memberikan hak sesuai yang mereka miliki. Tidak ada pembangunan bisa berjalan baik di seluruh dunia tanpa buruh.
“Dengan dibangunnya museum di Nganjuk semoga menjadi pengingat, ‘dakwah’ sosial bagi kita semua, khususnya para penguasa dan elit politik untuk menghargai bahwa apa sesungguhnya yang diperjuangan oleh buruh bukan hanya memerjuangkan dirinya dan rekan kerjanya tetapi hampir semua pekerja,” ucapnya saat dimintai tanggapan terkait pembangunan museum tersebut.
Dalam museum itu, lanjut Wahyudi setidaknya bisa diisi tiga hal. Pertama, artefak dan pengetahuan soal Marsinah, seperti karya, peninggalan, hingga pemikiran-pemikirannya. Peninggalan budaya itu bisa mengisi ruang museum dan bahan displai.
Kedua, museum itu bisa menjadi tempat kajian (ruang publik) oleh siapa saja tentang buruh atau kaum ekonomi kelas bawah. “Dengan melakukan kajian di situ maka aura, spirit untuk membantu perjuangan buruh itu saya kira akan sangat mengena,” katanya.
Ketiga, ada ruang khusus untuk menampilkan kegiatan seni dan budaya yang ingin digeluti dan ingin diekspresikan oleh buruh, seperti ruang untuk membaca puisi, pantun, dan teater. Bagaimanapun juga, kaum buruh juga orang-orang yang memiliki talenta luar biasa.
Marsinah sendiri telah ditetapkan sebagai pahlawan nasional pada 10 November 2025 bersama sejumlah tokoh. Dia seorang aktivis buruh yang meninggal pada Mei 1993 setelah memimpin unjuk rasa menuntut upah layak bagi pekerja di tempatnya bekerja, PT CPS Sidoarjo.
Dalam buku Marsinah: Campur Tangan Militer dan Politik Perburuhan (1999) terbitan Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI), sosok Marsinah ditulis sebagai seorang buruh perempuan yang tewas dibunuh karena melawan dan berjuang. Berjuang melawan sistem dan ketidakadilan yang menindas dirinya dan kawan-kawan sesama buruh.
Rabu, 5 Mei 1993, sebanyak 13 buruh, termasuk rekan-rekan Marsinah, dipanggil dan diinterogasi di Komando Distrik Militer (Kodim) Sidoarjo. Setelah interogasi, para buruh tersebut dikenai pemutusan hubungan kerja secara sepihak dari perusahaan.
Mendengar kabar itu, Marsinah mendatangi kodim untuk menanyakan nasib rekan-rekannya. Sejak saat itu ia menghilang.Jenazah Marsinah ditemukan di sebuah gubuk di Desa Jegong, Nganjuk, dalam kondisi mengenaskan, 8 Mei 1993. Terdapat tanda-tanda penyiksaan fisik, kekerasan seksual, bahkan kerusakan organ dalam. (Kompas.id/21/11/2025).





