Baca juga: SIG Bidik Afrika, Kirim Perdana Klinker ke Mauritania
Berdasarkan laporan keuangan konsolidasian, SIG membukukan volume penjualan sebesar 8,71 juta ton. Pendapatan tercatat mencapai Rp8,29 triliun dengan beban pokok pendapatan sebesar Rp6,62 triliun.
Sementara itu, laba sebelum pajak tercatat sebesar Rp156 miliar, dan laba periode berjalan yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk mencapai Rp80 miliar. Adapun EBITDA tercatat sebesar Rp1,06 triliun.
Corporate Secretary SIG, Vita Mahreyni, mengatakan perseroan berhasil menjaga tren pertumbuhan positif sejak kuartal IV-2025 yang berlanjut hingga awal tahun ini.
“Transformasi bisnis yang dijalankan berfokus pada pengelolaan pasar mikro, efisiensi biaya, serta optimalisasi produk turunan semen dan portofolio,” ujar Vita dikutip dari keteranganya.
Sepanjang kuartal I-2026, volume penjualan SIG meningkat 1,7 persen secara tahunan (year-on-year/yoy) dari 8,57 juta ton pada periode yang sama tahun sebelumnya menjadi 8,71 juta ton.
Pertumbuhan tersebut didorong oleh penjualan domestik yang naik 5,4 persen yoy, terutama dari segmen semen kantong yang melonjak 11 persen yoy. Capaian ini melampaui pertumbuhan permintaan semen kantong nasional yang sebesar 7 persen.
Di sisi lain, penjualan regional mengalami kontraksi sebesar 8 persen yoy. Dari sisi biaya, beban pokok pendapatan meningkat 8,6 persen yoy seiring kenaikan volume penjualan serta tekanan harga bahan bakar dan energi. Biaya operasional juga naik sekitar 9 persen yoy.
Meski demikian, SIG berhasil menekan biaya keuangan bersih hingga turun 35,4 persen yoy, sehingga turut menopang kinerja laba.
“Pendapatan tumbuh 8,3 persen dan laba meningkat 88,7 persen. Ini menunjukkan strategi yang dijalankan berada di jalur yang tepat,” jelas Vita.
Ke depan, perseroan juga menyiapkan ekspansi melalui penguatan pasar ekspor. Melalui anak usaha PT Solusi Bangun Indonesia Tbk, SIG bersama Taiheiyo Cement Corporation telah merampungkan proyek pengembangan dermaga dan fasilitas produksi di Tuban, Jawa Timur.
Fasilitas tersebut ditargetkan mulai beroperasi pada pertengahan 2026. SIG menilai ekspor menjadi salah satu strategi kunci untuk mengatasi overcapacity di pasar domestik sekaligus meningkatkan utilitas produksi dan margin.
“Ekspor tidak hanya ke Amerika Serikat, tetapi juga ke berbagai negara lain,” ujar Vita.
Langkah ini diharapkan dapat menjaga stabilitas kinerja perseroan di tengah dinamika industri semen nasional.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(SAW)





