VIVA –Presiden Iran Masoud Pezeshkian dan Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf dilaporkan ingin mencopot Menteri Luar Negeri, Abbas Araghchi. Dalam laporan media Iran Internasional, keinginan ini lantaran Araghchi dituding melewati jalur kepresidenan dan lebih memilih mengikuti arahan dari Islamic Revolutionary Guard Corps dalam pembahasan nuklir dengan Washington.
Mengutip sejumlah sumber, media berbasis di Inggris itu menyebut Pezeshkian dan Ghalibaf merasa Araghchi telah mengabaikan mereka dalam dua pekan terakhir. Ia dinilai tidak lagi bertindak sebagai menteri yang menjalankan kebijakan pemerintah, melainkan lebih seperti ajudan bagi Komandan IRGC, Ahmad Vahidi.
Sumber tersebut juga menyebut Araghchi menjalankan arahan pimpinan IRGC tanpa memberi informasi kepada Presiden Pezeshkian. Lantaran hal itu, Pezeshkian disebut mulai kesal dan bahkan mengancam akan mencopot Araghchi jika situasi ini terus berlanjut.
Hingga kini, pemerintah Iran belum mengeluarkan pernyataan resmi terkait isu tersebut, dan laporan ini juga belum bisa diverifikasi secara independen.
Retaknya Kepemimpinan Iran?
Perkembangan terbaru ini muncul di tengah laporan sebelumnya yang menyebut adanya perpecahan serius dalam pemerintahan Iran. Media Iran International sebelumnya melaporkan adanya ketegangan antara Pezeshkian dan Ahmad Vahidi sejak 28 Maret. Sumber menyebut konflik itu dipicu oleh perbedaan pandangan terkait penanganan perang dan dampaknya terhadap kehidupan masyarakat serta ekonomi negara.
Krisis di internal kepemimpinan Iran ini juga dinilai menjadi salah satu penyebab mandeknya pembicaraan antara Washington dan Teheran untuk mengubah gencatan senjata yang rapuh menjadi kesepakatan permanen.
Pada 15 April, Israel Hayom melaporkan bahwa pihak Amerika merasa frustrasi karena delegasi Iran yang datang ke Islamabad tidak memiliki kewenangan penuh untuk mengambil keputusan.
Dalam laporan tersebut disebutkan, salah satu syarat dari Amerika untuk melanjutkan perundingan adalah agar para negosiator Iran memiliki mandat penuh dari IRGC untuk menyepakati hasil akhir.
Selain itu, dua pejabat senior Garda Revolusi, yakni Ahmad Vahidi dan Ali Abdollahi, disebut tidak mengizinkan delegasi politik Iran di Pakistan memberikan jawaban kepada pihak Amerika.
Menanggapi situasi ini, Presiden Pezeshkian dilaporkan meminta Ketua Parlemen Mohammad Bagher Ghalibaf untuk mengambil sikap tegas dan menyelamatkan Iran dari kehancuran ekonomi total.





