Rencana Presiden Prabowo Subianto meluncurkan program kredit rakyat dengan bunga maksimal lima persen per tahun langsung menuai respons dari analis pasar modal. Managing Director Research Samuel Sekuritas Indonesia Harry Su memperingatkan potensi risiko bagi penerima mandat program ini yaitu bank-bank BUMN.
"Ini kabar buruk bagi bank-bank BUMN. Kami melihat lima risiko," kata Harry kepada Katadata, Jumat (1/5).
Risiko pertama, penurunan pendapatan karena margin bunga yang mengecil. Kedua, kenaikan rasio kredit bermasalah atau NPL karena kebijakan kredit yang lebih longgar. Ketiga, peningkatan cadangan kerugian yang akan menggerus laba. Yang artinya laba akan menurun.
Kemudian, penurunan kemampuan perusahaan untuk menghasilkan laba dari modal alias penurunan ROE. Terakhir, penurunan valuasi perusahaan. "Price to Book Value terdiskon," kata Harry.
Presiden Prabowo menyampaikan soal program kredit rakyat berbunga rendah tersebut saat berpidato dalam acara peringatan Hari Buruh Internasional di Monumen Nasional, Jakarta (1/5).
"Saudara-saudara sekalian, selama ini rakyat kecil kalau pinjam uang bunganya luar biasa gilanya. Betul? Orang kecil pinjam uang bunganya bisa 70 persen setahun. Betul?" ujar Prabowo.
Lalu, Prabowo mengatakan bahwa dirinya sudah memerintahkan bank-bank milik pemerintah untuk menyalurkan kredit berbunga rendah. "Sebentar lagi kami akan kucurkan kredit untuk rakyat, maksimal lima persen satu tahun," ucapnya.
Belum terang, bagaimana rencana bank-bank BUMN untuk bisa mengakomodir perintah tersebut. Namun sebelumnya, pemerintah mengkritik bank-bank BUMN soal pemanfaatan duit ratusan triliun yang ditempatkan pemerintah. Apakah ini akan jadi program mandatori untuk memutar duit tersebut?




