Jakarta, VIVA – Ancaman krisis bahan bakar membuat kebiasaan masyarakat mulai berubah. Di tengah kekhawatiran soal pasokan energi global dan naiknya biaya hidup, banyak warga kini melirik sepeda sebagai solusi mobilitas yang lebih hemat sekaligus menyehatkan.
Beberapa waktu terakhir, isu darurat energi menjadi sorotan setelah sejumlah negara mulai mengambil langkah penghematan. Filipina dan Bangladesh telah menetapkan kondisi darurat energi, sementara negara lain mulai meminta warganya menekan konsumsi energi harian. Scroll untuk tahu lebih lanjut, yuk!
Di Indonesia, pemerintah menilai situasi masih terkendali, namun kewaspadaan tetap diperlukan jika kondisi global berlangsung lama.
“Darurat energi itu bukan di APBN. Darurat energi adalah kalau misalnya suplainya berhenti, itu yang saya takut. Bukan harganya, (tetapi) suplainya nggak ada, ini kan masih ada suplainya. Jadi kalau dibilang darurat, enggak, tetapi kita mesti siap-siap terus ke depan,” jelas Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa, dikutip Sabtu 2 Mei 2026.
Kondisi ini membuat masyarakat mulai mencari cara lebih cerdas mengatur pengeluaran, terutama untuk transportasi harian. Sebagian beralih ke kendaraan umum, tetapi tak sedikit pula yang memilih kembali mengayuh sepeda.
Di sejumlah daerah, tren ini bahkan mendapat dukungan pemerintah setempat. Aparatur Sipil Negara (ASN) di beberapa wilayah mulai diarahkan menggunakan sepeda ke kantor sebagai upaya mengurangi konsumsi BBM.
Pemandangan pesepeda di jalanan kota saat pagi hari pun mulai kembali terlihat. Dari yang awalnya hanya beberapa orang, kini sepeda perlahan menjadi pilihan realistis untuk perjalanan jarak dekat seperti ke minimarket, membeli sarapan, atau menuju kantor yang berjarak di bawah lima kilometer.
Menariknya, perubahan ini tidak lagi sekadar respons sesaat terhadap krisis. Banyak pihak melihatnya sebagai momentum membangun kebiasaan baru yang lebih sehat dan ramah lingkungan.
“Akan kami dorong menjadi budaya kerja yang melekat,” tegas Bupati Bangkalan, Lukman Hakim.
Komunitas Bike to Work (B2W) Indonesia juga berharap tren ini bisa berlanjut lebih lama. Mereka menilai masalah Indonesia bukan hanya soal energi, tetapi juga kemacetan dan polusi udara.




