Gaya hidup modern kini disebut menjadi salah satu pemicu utama meningkatnya angka obesitas di Indonesia lho Beauty! Kebiasaan mengonsumsi makanan ultra-proses tinggi gula dan lemak, kurang aktivitas fisik, kurang tidur, hingga stres kronis dinilai berkontribusi besar terhadap kenaikan berat badan yang sulit dikendalikan.
Pola hidup tersebut, jika dilakukan dalam jangka panjang, dapat memicu adaptasi metabolik. Kondisi ini membuat metabolisme tubuh melambat dan tubuh menganggap berat badan baru sebagai kondisi normal. Akibatnya, proses penurunan berat badan menjadi semakin sulit dan memicu siklus kenaikan berat badan yang berulang.
Dalam kondisi ini, pendekatan yang dilakukan tidak lagi sekadar mengatur pola makan. Penderita obesitas dianjurkan melakukan reset pola makan melalui program weight management yang terstruktur.
Pada beberapa kasus, tindakan medis seperti operasi bariatrik juga menjadi opsi ketika risiko mempertahankan obesitas dinilai lebih besar dibandingkan risiko operasi.
“Operasi bariatrik adalah bagian dari terapi penyakit metabolik, prosedur ini bekerja dengan mengubah anatomi saluran cerna sehingga membantu mengontrol rasa lapar, penyerapan kalori serta respons hormonal yang berkaitan dengan diabetes dan gangguan metabolik lainnya. Ada beberapa kriteria minimum BMI sesuai dengan latar belakang kesehatan pasien yang dapat terbantu melalui operasi bariatrik. Di antaranya: pasien diabetes melitus dengan BMI di atas 27,5; pasien dengan komorbid dengan BMI di atas 30; dan tanpa komorbid dengan BMI di atas 35,” ujar dr. Handy Wing, Sp.B, Subsp.BD(K), FBMS, FICS, FInaCS.
Meski demikian, tindakan ini bukan “jalan pintas”. Pasien tetap harus beradaptasi dengan perubahan pola makan karena ukuran lambung yang mengecil. Pendampingan nutrisi dan pemenuhan kebutuhan suplemen menjadi bagian penting dalam proses pemulihan.
“Sebelum dan setelah bariatrik, pola makan pasien berubah secara signifikan, terutama masa setelah operasi yang sangat krusial karena pasien harus beradaptasi dengan lambung barunya. Fokus kami tidak hanya memastikan kecukupan cairan dan protein, tetapi juga mencegah defisiensi mikronutrien serta mendampingi tahapan makanan. Kami juga memberikan edukasi komprehensif terkait penyesuaian pola makan, karena meskipun ukuran lambung lebih kecil, tantangan, godaan, dan keinginan tetap ada. Oleh karena itu, pasien bariatrik memerlukan pendampingan berkelanjutan agar hasil operasi dapat optimal dan bertahan dalam jangka panjang,” ujar Veronica, S.Gz.
Selain faktor fisik, tantangan juga muncul dari sisi psikologis. Data dari PubMed menyebutkan sekitar 15% pasien bariatrik mengalami depresi akibat perubahan hormon dan metabolik. Oleh karena itu, skrining dan pendampingan psikologis menjadi bagian penting dalam proses penanganan.
“Bagi banyak individu, makan bukan sekadar kebutuhan biologis, tetapi mekanisme coping. Jika akar emosionalnya tidak ditangani, rasa frustasi akan dihadapi pasien. Karena itu, pendampingan psikolog dibutuhkan agar pasien dapat lebih cepat beradaptasi terhadap perubahan dan dapat menyesuaikan pola hidup dan mindset yang baru dengan lebih efektif,” ujar Tara de Thouars.
Pendekatan penanganan obesitas kini juga semakin komprehensif, mencakup aspek nutrisi, medis, hingga psikologis. Upaya ini dilakukan untuk membantu pasien tidak hanya menurunkan berat badan, tetapi juga membangun kebiasaan hidup sehat secara berkelanjutan di tengah tantangan gaya hidup modern.





