jpnn.com - JAKARTA - Wakil Menteri Dalam Negeri (Wamendagri) Akhmad Wiyagus meresmikan Digital Election Simulation Lab (DESLab) di Command Center Badan Strategi Kebijakan Dalam Negeri Kementerian Dalam Negeri (BSKDN Kemendagri), Jakarta, Kamis (7/5).
DESLab sebagai sarana edukasi dan literasi publik terkait digitalisasi dalam proses pemilihan, sekaligus memperkuat pemahaman masyarakat terhadap penerapan teknologi yang transparan dan akuntabel dalam demokrasi.
BACA JUGA: Kemendagri Dorong Pemda Lebih Inovatif Tangani Inflasi, Kemiskinan, dan Pengangguran
Dalam sambutannya, Akhmad Wiyagus menegaskan, Kemendagri perlu mengambil peran sebagai fasilitator dalam proses edukasi maupun literasi terkait digitalisasi, khususnya dalam pemanfaatan teknologi pada proses pemilihan.
Kepala BSKDN Yusharto Huntoyungo pada acara peresmikan DESLab di Command Center BSKDN Kemendagri, Jakarta, Kamis (7/5). Foto: Humas BSKDN
BACA JUGA: Wamendagri Bima Arya Apresiasi Inovasi Daerah, Tegaskan Pentingnya Kepemimpinan Adaptif
Menurutnya, melalui DESLab masyarakat dapat melihat secara langsung bagaimana sistem digitalisasi pemilihan dioperasionalkan.
“Kemendagri juga harus menjadi fasilitator terhadap pelaksanaan edukasi maupun proses literasi terkait dengan digitalisasi ini, salah satunya pagi ini yang kita akan resmikan yaitu DESLab,” ujar Akhmad Wiyagus di Command Center BSKDN Kemendagri, Kamis.
BACA JUGA: Wamendagri Wiyagus Dorong Penguatan Damkar, Satpol PP, dan Satlinmas Demi Keselamatan Warga
Lebih lanjut dia menjelaskan, melalui DESLab masyarakat dapat memahami berbagai tahapan dalam sistem pemilihan digital, mulai dari proses verifikasi pemilih, penggunaan hak suara, hingga penerapan prinsip one man one vote dalam simulasi pemilihan.
“Intinya ada beberapa hal yang ingin kita sampaikan bahwa melalui DESLab ini kita juga nanti akan melihat secara langsung sebuah sistem ini dioperasionalkan. Verifikasi pemilih harus dilakukan, kemudian juga bagaimana hak suara digunakan, bagaimana prinsip one man one vote juga dijaga, bagaimana prosesnya disimulasikan,” lanjutnya.
Akhmad Wiyagus juga meminta agar pengelolaan DESLab dilakukan secara tertib dan transparan sehingga dapat menjadi ruang pembelajaran yang jelas bagi masyarakat.
“Untuk itu saya meminta kepada BSKDN agar mengelola secara tertib kemudian transparan, sehingga kegiatan simulasi ini harus menjadi pembelajaran yang jelas,” tegasnya.
Dia juga berharap DESLab BSKDN dapat berkembang menjadi ruang pembelajaran kebijakan yang modern dan bertanggung jawab dalam mendukung masa depan demokrasi Indonesia.
"Kemudian menjadi ruang pembelajaran kebijakan yang modern, terkemuka dan bertanggung jawab, ruang yang tidak hanya menampilkan teknologi sekali lagi, tetapi juga membangun pemahaman, menguji gagasan dan terutama menyiapkan masa depan demokrasi indonesia,” tandasnya.
Sementara itu, Kepala BSKDN Yusharto Huntoyungo mengatakan, pihaknya juga terus melakukan kerja sama dengan berbagai pihak untuk memperkenalkan pemanfaatan digitalisasi dalam proses pemilihan di berbagai tingkatan.
“Sehingga persepsi yang selama ini menyatakan bahwa digitalisasi sepenuhnya belum bisa dikontrol, sulit dipercaya dan berbagai persepsi miring tentang pemanfaatan digitalisasi ini bisa kita minimalisasi,” katanya.
Melalui DESLab, Yusharto berharap masyarakat dapat memahami digitalisasi dalam pemilihan tetap dapat mendukung prinsip demokrasi yang langsung, umum, bebas, rahasia, jujur, dan adil.
“Ini menjadi bagian dari upaya kita (BSDKN Kemendagri) untuk bisa membuktikan bahwa digitalisasi dalam pemilihan itu tetap bisa mendukung prinsip Luber dan Jurdil," pungkas Kepala BSKDN Yusharto Huntoyungo. (sam/jpnn)
BACA ARTIKEL LAINNYA... Kepala BSKDN Dorong Sinergi Pusat-Daerah dan Peran Strategis Perguruan Tinggi
Redaktur & Reporter : Soetomo Samsu




