Pameran "The Superlative Artistry of Japan" Digelar di The Japan Foundation

beautynesia.id
1 minggu lalu
Cover Berita

Ada banyak budaya yang dimiliki oleh Jepang, salah satunya adalah karya seni dengan detail yang rumit, tapi memanjakan mata. Karya seni yang mungkin sekilas terlihat sederhana ternyata memiliki teknik pengerjaan tangan tingkat tinggi dan membutuhkan waktu tak sedikit. Hasilnya pun mencuri hati siapa pun yang melihatnya.

Karya seni yang serba perfeksionis tersebut kini terangkum dalam pameran keliling bertajuk "The Superlative Artistry of Japan", Beauties. Setelah dipamerkan di New Zealand pada awal tahun, kini Indonesia jadi tujuan berikutnya, tepatnya di Jakarta dan Surabaya, sebelum diboyong ke Bangkok, Thailand.

Pameran “The Superlative Artistry of Japan”. Pameran keliling ini berlangsung mulai 5-25 Mei 2026 di Jakarta./ Foto: Dok. Beautynesia

Pameran ini memamerkan 38 karya seni hasil tangan seniman Jepang, tersaji secara periodik mulai dari era Meiji (1868-1912) kogei (karya seni dan kerajinan tangan tradisional) hingga seni kontemporer sekitar tahun 2010-an. Beberapa karya dibawa secara khusus dari beberapa museum di Jepang untuk dipamerkan.

Memasuki ruangan dengan dinding berlapis drapery putih, karya seni berupa tapestri bordiran pemandangan rumah tradisional Jepang langsung memikat pemandangan. Dua guci dengan lukisan klasik diletakkan di sebelahnya. Ketiga objek ini jadi highlight utama, yakni karya seni tradisional era Meiji yang menjadi tren di Eropa pada abad ke-19.

Pameran “The Superlative Artistry of Japan”. Pameran keliling ini berlangsung mulai 5-25 Mei 2026 di Jakarta./ Foto: Dok. Beautynesia

Isma Savitri, Program Officer Cultural Division The Japan Foundation, menceritakan bahwa kisah latar belakang justru jadi hal menarik. Karya seni Meiji kogei meraih popularitasnya secara global sehingga banyak negara yang menginginkannya. "Jadi permintaan ekspor Jepang ke luar itu meningkat karena kualitasnya," Isma menjelaskan saat dijumpai di The Sakura Hall, The Japan Foundation, hari Selasa (5/5/2026). "Tapi seniman Jepang nggak bisa menurunkan standarnya. Akhirnya, mereka untuk menciptakan satu item saja perfeksionis. Akhirnya seniman-seniman ini nggak bisa ngejar permintaan pasar." Akibatnya, permintaan pun kembali turun.

Karya seni yang dinilai terbaik pada era itu disimpan di museum selama bertahun-tahun. Kurator pameran "The Superlative Artistry of Japan" pun membawa karya seni tersebut ke beberapa negara di masa kini sembari mengumpulkan karya seni kontemporer untuk mempresentasikan perkembangan teknik seni tingkat tinggi dan craftsmanship Jepang dari tahun ke tahun.

(dmh/dmh)

Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Penuh Haru dan Nostalgia, Konser 20 Tahun Sammy Simorangkir Digelar Meriah
• 1 jam lalutvonenews.com
thumb
Jokowi Keliling Indonesia, Pengamat: Bisa Jadi Bumerang Buat PSI
• 10 jam lalukompas.com
thumb
Nekat Berhaji Pakai Visa Kerja, 89 Orang Ditunda Berangkat di Bandara Soetta
• 48 menit laluokezone.com
thumb
Heboh Penumpang Pria Gigit Pramugari, Penerbangan ke AS Dialihkan
• 6 jam laludetik.com
thumb
Saat Prabowo Kunjungi Nganjuk, Resmikan Museum Marsinah dan Ziarah ke Makamnya
• 16 jam lalukumparan.com
Berhasil disimpan.