KONFLIK bersenjata antara Amerika Serikat dan Iran yang memicu lonjakan harga bahan bakar minyak (BBM) global justru menjadi katalisator bagi industri kendaraan listrik (Electric Vehicle/EV) di Tiongkok. Investasi dua dekade Tiongkok pada teknologi hijau kini membuahkan hasil besar, melindungi ekonomi negara tersebut dari dampak penuh krisis energi.
Di kota Changsha, Liu Zhou, seorang pengemudi aplikasi transportasi DiDi, merasakan langsung dampaknya. "Harga bensin naik drastis sekarang. Jika Anda sering mengemudi, kendaraan listrik adalah pilihan terbaik," ujarnya. Fenomena ini mencerminkan pergeseran masif konsumen Tiongkok dari mesin pembakaran internal (ICE) ke energi baru.
Rekor Penetrasi Pasar EVMenurut data dari China Passenger Car Association yang dikutip Cnevpost, tingkat penetrasi kendaraan energi baru di Tiongkok mencapai rekor 62,8% dari total penjualan pada April 2026. Angka ini sangat kontras dengan Amerika Serikat, yakni penjualan EV masih berada di bawah 10% dari total pasar.
Baca juga : Prediksi Harga BBM setelah AS-Iran Damai: Mengapa tidak Langsung Turun?
Lonjakan ini didorong oleh kenaikan harga bensin dan diesel di pompa bensin Tiongkok yang sempat melonjak hampir 20%. Saat ini, harga bensin di Tiongkok berada di kisaran US$5 per galon, sementara diesel sekitar US$4,50 per galon.
- BYD vs Tesla: BYD resmi melampaui Tesla sebagai produsen mobil listrik terbesar dunia dengan penjualan 2,25 juta unit tahun lalu.
- Ekspor Dua Roda: Ekspor skuter listrik ke Myanmar melonjak 620% (US$9,5 juta), Laos naik 26%, dan Kamboja naik 26%.
- Kemandirian Energi: Tiongkok memimpin dalam energi terbarukan (surya, angin, hidro) dan sedang membangun 45 pembangit nuklir baru.
Blokade di Selat Hormuz memutus aliran seperlima ekspor minyak dan gas global. Namun, transisi Tiongkok ke energi terbarukan dinilai memberikan posisi tawar yang lebih baik dibandingkan ekonomi besar lain.
"Tiongkok telah beralih dari bahan bakar fosil. Dampak krisis ini tidak akan sebesar yang diperkirakan orang," kata Manuel C. Menendez, pengusaha AS yang berbasis di Beijing. Ia memprediksi Tiongkok akan keluar dari krisis energi ini dengan kondisi ekonomi yang lebih kuat daripada negara maju lain.
Baca juga : Regulasi Kendaraan Listrik harus Komprehensif di Tengah Lonjakan Subsidi Energi
Tantangan Domestik dan Ekspansi GlobalMeski tumbuh pesat, industri EV Tiongkok menghadapi tantangan internal berupa hiper-kompetisi yang menekan margin keuntungan. Kelebihan kapasitas produksi memaksa produsen seperti BYD dan Geely untuk lebih agresif merambah pasar internasional.
Li Shuo, Direktur China Climate Hub di Asia Society Policy Institute, menjelaskan bahwa fase domestik yang sulit justru memperkuat citra perusahaan Tiongkok di pasar global. "Mereka sangat sukses secara teknologi dan mampu menghadirkan produk paling kompetitif secara biaya di pasar global," tuturnya.
Isu krisis energi dan transisi EV ini diprediksi akan menjadi agenda utama dalam pertemuan puncak antara Presiden AS Donald Trump dan Presiden Tiongkok Xi Jinping di Beijing bulan ini. Kedua pemimpin akan membahas dampak ekonomi dari konflik Iran yang masih berlangsung. (Newsweek/I-2)





