Malaysia Batasi Impor Kendaraan Listrik Mulai Juli, Lindungi Industri Lokal

bisnis.com
20 jam lalu
Cover Berita

Bisnis.com, JAKARTA — Kementerian Investasi, Perdagangan, dan Industri (MITI) Malaysia mengumumkan pengetatan aturan bagi kendaraan listrik (EV) yang diimpor secara utuh ke pasar Malaysia.

Mulai 1 Juli 2026, setiap unit EV impor harus memiliki nilai Cost, Insurance, and Freight (CIF) minimal sebesar RM200.000 atau sekitar Rp888 juta.

Selain batasan harga, pemerintah Malaysia juga menetapkan standar teknis berupa output motor minimal sebesar 180kW bagi model impor. Regulasi ini diproyeksikan akan mengurangi persaingan dari model-model EV asal China yang selama ini mendominasi segmen harga lebih terjangkau.

Wakil Menteri Investasi, Perdagangan, dan Industri, Sim Tze Tzin mengatakan kebijakan tersebut dirancang untuk mengembangkan industri otomotif lokal secara menyeluruh. Fokus utama pemerintah adalah mendorong perusahaan asing untuk membangun fasilitas operasi di Malaysia dan berkolaborasi dengan pemasok lokal.

"Kami ingin produsen asing bekerja sama dengan vendor lokal dalam ekosistem sehingga mereka dapat meningkatkan kapabilitas dan memposisikan Malaysia sebagai eksportir komponen otomotif," kata Sim Tze Tzin dilansir dari The Edge Malaysia, Selasa (12/5/2026).

Sim menegaskan bahwa penetapan harga minimum ini tidak akan membatasi akses konsumen terhadap model EV murah. Produsen otomotif tetap diizinkan memasarkan kendaraan listrik di rentang harga RM100.000 hingga RM200.000, asalkan proses produksinya dilakukan melalui perakitan lokal di Malaysia.

Baca Juga

  • Strategi BYD hingga AION Bidik Momentum Insentif Kendaraan Listrik
  • Indomobil (IMAS) Geber Penjualan Kendaraan Listrik
  • Purbaya Siapkan Insentif Kendaraan Listrik Juni 2026, Kuota Awal 100.000 Unit

Analis TA Securities, Angeline Chin dalam laporannya menyebutkan bahwa kebijakan ini akan memperkuat posisi pemain rakitan lokal dan pemasok domestik dalam jangka panjang. Hal ini dikarenakan produsen lokal di Malaysia saat ini lebih fokus pada pengembangan kendaraan listrik dengan harga yang lebih terjangkau bagi masyarakat.

Berdasarkan data pasar, aturan baru ini diperkirakan akan memukul distributor besar seperti Sime Darby yang menangani merek BYD. Analisis dari portal otomotif Paultan menunjukkan bahwa BYD kemungkinan hanya bisa menjual 2 dari 7 model yang saat ini ditawarkan di Malaysia jika tidak beralih ke perakitan lokal.

Dampak serupa juga membayangi Tesla yang selama ini mengimpor seluruh unitnya dengan harga di bawah RM300.000. Sebaliknya, produsen nasional seperti Proton dan Perodua justru mendapatkan ruang lebih luas untuk berkembang tanpa tekanan langsung dari model impor entry-level asal China.

Proton saat ini telah memasarkan model e.MAS 7 dengan kisaran harga RM100.000 hingga RM120.000. Selain itu, model budget e.MAS 5 yang dibanderol RM56.800 tercatat sebagai EV paling populer di Malaysia sepanjang tahun 2026, sementara Perodua menawarkan model QV-E seharga RM80.000 atau sekitar Rp355 juta melalui skema sewa baterai.

Sektor otomotif sendiri memberikan kontribusi signifikan terhadap ekonomi Malaysia dengan nilai estimasi mencapai RM80 miliar hingga RM95 miliar terhadap PDB pada 2025. Industri ini juga menyerap lebih dari 750.000 tenaga kerja dan didukung oleh lebih dari 640 produsen suku cadang otomotif di seluruh negeri.

Namun, kebijakan ini tidak luput dari kritik para ahli bisnis yang mengkhawatirkan konsistensi transisi energi hijau di Malaysia. Senior Analyst BowerGroupAsia, Timothy Wong menilai kejutan regulasi ini bisa membuat konsumen yang berniat beralih ke EV menjadi ragu atau membatalkan rencana pembelian mereka.

Malaysia memiliki target ambisius untuk mencapai 15% populasi EV di jalanan pada 2030 dan meningkat hingga 80% pada 2050. Data pemerintah menunjukkan registrasi EV baru di tahun 2025 mencapai 44.813 unit, meningkat lebih dari dua kali lipat dibandingkan tahun sebelumnya yang hanya sebesar 21.789 unit.

Integrasi dengan sektor semikonduktor menjadi kunci Malaysia dalam persaingan mobilitas masa depan. Sim Tze Tzin menekankan bahwa sebagai eksportir semikonduktor terbesar keenam di dunia, Malaysia memiliki basis manufaktur dan kapabilitas desain yang kuat untuk mendukung teknologi kendaraan otonom.

"Tujuan kami jelas untuk menciptakan ekosistem terintegrasi di mana industri otomotif dan semikonduktor bekerja secara sinergi guna menangkap nilai ekonomi yang lebih besar," ujar Sim Tze Tzin.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Terbongkar, Oknum Pengasuh Ponpes di Pati Diduga Cabuli Santriwati Sejak Tahun 2020
• 16 jam lalutvonenews.com
thumb
Cara Pelabuhan Tanjung Priok Amankan Rantai Pasok Global dari Ancaman Pandemi dan Terorisme
• 6 jam lalukompas.com
thumb
AHY Cs Lapor Prabowo Soal Tanggul Raksasa Pantura, Kapan Dibangun?
• 3 jam lalucnbcindonesia.com
thumb
Hakim Mulyono nyatakan beda pendapat di kasus minyak mentah Pertamina
• 2 jam laluantaranews.com
thumb
Uni Eirat Arab Ternyata Diam-diam Ikut Menyerang Iran di Tengah Perang AS-Israel
• 11 jam laluharianfajar
Berhasil disimpan.