Kemenkes soal Hantavirus: Masyarakat Tidak Perlu Panik, tapi Tetap Harus Waspada

kompas.com
18 jam lalu
Cover Berita

JAKARTA, KOMPAS.com - Kementerian Kesehatan (Kemenkes) meminta masyarakat tidak panik terhadap kasus Hanta Pulmonary Syndrome (HPS) atau Hantavirus.

Pelaksana Tugas (Plt) Direktur Jenderal Penanggulangan Penyakit Kemenkes Andi Saguni mengatakan, kasus Hantavirus belum ditemukan di Indonesia.

"Peningkatan kasus yang terlaporkan menunjukkan sistem kewaspadaan dan deteksi dini kita semakin baik. Karena itu masyarakat tidak perlu panik, namun tetap harus waspada terhadap faktor risiko penularan," ujar Andi dalam konferensi pers daring, dikutip dari laman resmi Kemenkes, Senin (11/5/2026).

Baca juga: Hantavirus Merebak di Kapal Pesiar: Bukan Pandemi Baru, Tak Perlu Panik Termakan Konspirasi

Hantavirus diketahui menular melalui kontak dengan tikus atau celurut yang terinfeksi, termasuk lewat paparan urin, air liur, maupun kotorannya.

Faktor risiko utama di antaranya aktivitas di lingkungan dengan populasi tikus tinggi, gudang tertutup, area banjir, hingga kegiatan luar ruang seperti berkemah dan mendaki.

"Ada gambarnya bagaimana pekerjaan (berisiko) yang berkaitan dengan kontak tikus, petugas sampah, petani, juga dengan daerah yang tergenang banjir, aktivitas di area berisiko seperti ruang bawah tanah yang ada tikus, gedung lama, dan lain sebagainya," ujar Andi.

Baca juga: Antisipasi Hantavirus, Bandara Soekarno-Hatta Perketat Pengawasan Penumpang Internasional

Kendati demikian, ia meminta kontak erat kasus Hantavirus kapal pesiar MV Hondius menjalani karantina dan bekerja dari rumah atau work from home (WFH).

Kemenkes juga meminta kontak erat Hantavirus membatasi aktivitas di luar rumah termasuk bekerja selama masa observasi.

"Kontak erat ini sebaiknya ya melakukan work from home ya serta segera melaporkan ke petugas kesehatan jika ditemukan adanya gejala ya," ujar Andi.

Baca juga: Kemenkes Minta Kontak Erat Kasus Hantavirus Jalani WFH dan Karantina

Bukan Awal Pandemi Baru

Sebelumnya, Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO telah menegaskan bahwa wabah hantavirus yang terdeteksi di kapal pesiar MV Hondius bukan merupakan awal dari pandemi baru.

Meski telah memakan korban jiwa, badan kesehatan PBB tersebut menyatakan risiko kesehatan masyarakat secara umum masih tergolong rendah.

Epidemiolog penyakit menular WHO, Maria van Kerkhove, menjelaskan bahwa karakteristik hantavirus sangat berbeda dengan Covid-19 yang sempat melumpuhkan dunia enam tahun lalu.

Baca juga: Hadapi Hantavirus, Puan Dorong Pemerintah Utamakan Transparansi dan Kecepatan Informasi

.ads-partner-wrap > div { background: transparent; } #div-gpt-ad-Zone_OSM { position: sticky; position: -webkit-sticky; width:100%; height:100%; display:-webkit-box; display:-ms-flexbox; display:flex; -webkit-box-align:center; -ms-flex-align:center; align-items:center; -webkit-box-pack:center; -ms-flex-pack:center; justify-content:center; top: 100px; }

Menurutnya, hantavirus menyebar melalui kontak yang dekat dan erat, sebagaimana dilansir BBC, Kamis (7/5/2026).

"Ini bukan Covid, ini bukan influenza, cara penyebarannya sangat, sangat berbeda," ujar Van Kerkhove dalam pengarahan pers pada Kamis waktu setempat.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Media 'Homeless' vs Verifikasi Dewan Pers, SMSI Dorong Regulasi Pers Lebih Adaptif di Era Digital
• 1 jam lalumediaapakabar.com
thumb
MPR Minta Maaf dan Nonaktifkan Juri Lomba Cerdas Cermat
• 13 jam lalukatadata.co.id
thumb
Daniel Klein Resmi Tinggalkan Augsburg, Persib Bandung Siap Jadi Penyelamat Karier Kiper Berdarah Indonesia Ini?
• 13 jam lalutvonenews.com
thumb
Solo wajibkan sistem nontunai pada penyaluran dana hibah
• 6 jam laluantaranews.com
thumb
Welber Jardim Siap Jadi Andalan Timnas Indonesia U-20, Bidik Gelar Juara Piala AFF U-19 2026
• 22 jam lalubola.com
Berhasil disimpan.