BANDUNG, DISWAY.ID -- Wakil Menteri Kesehatan Dante S Harbuwono memastikan hantavirus yang menyebar di Indonesia ringan dan tidak menimbulkan pandemi seperti saat virus Covid 19.
Sebenarnya hantavirus ada dua jenis varian yakni Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS) yang menyerang sistem pernafasan dan paru paru serta HFRS (Hemorrhagic Fever with Renal Syndrome) menyerang ginjal dan pembuluh darah.
Di Indonesia sendiri hantavirus disebabkan penularan akibat kotoran tikus ke manusia berakhir penularan manusia ke manusia. Itu terjadi saat banjir.
BACA JUGA:Kemendagri Klarifikasi Isu Larangan Fotokopi KTP-el, Tetap Berlaku untuk Layanan Publik
"Hantavirus itu ada reservoir atau perantaranya, yaitu tikus. Jadi rumah yang kotor dan banyak air kencing tikusnya, terutama setelah banjir, bisa menyebabkan hantavirus. Namun untuk hantavirus yang di kapal pesiar MV Hondius belum masuk ke Indonesia," tegas Dante di
HFRS gejalanya panas tinggi, kuning, dan gangguan ginjal. Dan HPS hantavirus menyerang paru-paru.
Lanjut Dante, Angka kematian HFRS sekitar 15 persen.
Tetapi untuk Hantavirus Pulmonary Syndrome, angka kematiannya bisa mencapai 60 hingga 80 persen.
Di Indonesia sudah ditemukan 23 kasus sejak tahun 2023, tetapi semuanya merupakan HFRS yang ringan.
BACA JUGA:2 Sosok Juri Lomba Cerdas Cermat 4 Pilar MPR RI, Punya Jabatan Tinggi dan Harta Capai Rp3 Miliar
"Ini hampir sama dengan leptospirosis. Kalau pernah dengar leptospira atau leptospirosis, itu terjadi akibat terkena kotoran atau air kencing tikus saat banjir. Gejalanya mirip dengan hantavirus. Sekarang setiap kasus yang dicurigai leptospirosis juga diperiksa kemungkinan hantavirus. Bedanya, leptospirosis disebabkan bakteri, sedangkan hantavirus disebabkan virus," paparnya.
Sekali lagi Dante menegaskan hantavirus di Indonesia tidak terlalu bahaya.
Angka fatalitasnya sekitar 15 persen. Dan itu sudah ada di beberapa daerah.
"Tetapi datanya masih bersifat konfidensial dan masih kami simpan. Tidak ada pendemi tidak. Kemungkinan penularan ke manusia ada, terutama Hantavirus Pulmonary Syndrome, karena menyerang paru-paru dan menyebabkan batuk. Tetapi sampai sekarang belum terbukti. Kasus kematian di kapal pesiar itu masih diselidiki apakah memang ada penularan antar manusia atau tidak," tegasnya.




