Hotel Internasional Incar Pasar Hunian Mewah Indonesia

kompas.id
14 jam lalu
Cover Berita

JAKARTA, KOMPAS - Jenama hotel internasional kian gencar membangun branded residences atau hunian mewah di Indonesia. Di tengah ketidakpastian ekonomi dan geopolitik global, segmen properti premium ini dinilai tetap berdaya tahan karena ditopang masyarakat dari ekonomi kelas atas, pembeli asing, serta perubahan gaya hidup global pascapandemi.

Managing Director C9 Hotelworks Company Limited Bill Barnett, dalam wawancara khusus dengan Kompas, di Jakarta, Senin (11/5/2026), mengatakan, pengembang global mulai menggabungkan bisnis hotel dan residensial mewah. Secara global, sekitar 60 persen proyek baru grup hotel internasional kini telah terintegrasi dengan residensial bermerek.

Indonesia, menurutnya, mulai menjadi salah satu pasar yang diperhitungkan di kawasan Asia. Pada 2026, nilai pasar residensial bermerek (branded residences) di Asia mencapai sekitar Rp 707 triliun atau setara 40 miliar dolar AS dengan total 50.025 unit yang tersedia untuk dijual.

Dari jumlah tersebut, nilai pasar di Indonesia telah mencapai Rp 24,7 triliun atau sekitar 1,4 miliar dolar AS dengan total 1.145 unit yang telah diluncurkan. “Yang membedakan Indonesia bukan skala, tetapi struktur. Satu dari tiga proyek mengintegrasikan merek hotel dengan komponen hunian. Tidak ada pasar lain di Asia yang mencapai rasio tersebut,” ujar Barnett.

Indonesia disebut memimpin segmen pengembangan properti hibrida dengan porsi 34 persen dari nilai pasar tersebut. Konsep hibrida ini menggabungkan kondominium dan properti bersertifikat seperti vila dalam satu proyek berbasis perhotelan. Skema ini memungkinkan pengembang menyasar berbagai segmen pembeli dalam satu merek premium.

Model tersebut kini menjadi strategi utama banyak operator hotel global seperti Four Seasons Hotels and Resorts, Mandarin Oriental Hotel Group hingga Raffles Hotels & Resorts.

Secara umum, ia mengatakan, tren ini semakin dikembangkan jenama hotel internasional setelah masa pandemi Covid-19. Pandemi yang membatasi pergerakan masyarakat, membuat kinerja investasi sektor pariwisata dan properti. Diversifikasi fungsi bangunan pun jadi strategi.

Jika hanya membangun hotel, pengembalian modal bisa delapan sampai 10 tahun. Tapi, jika digabung dengan real estate atau branded residences, risikonya lebih kecil dan return lebih cepat.

“Jika hanya membangun hotel, pengembalian modal bisa delapan sampai 10 tahun. Tapi, jika digabung dengan real estate atau branded residences, risikonya lebih kecil dan return lebih cepat,” katanya.

Selain itu, fenomena work from anywhere atau bekerja dari mana saja setelah pandemi turut mendorong munculnya gaya hidup global citizen. Ini membuat masyarakat internasional tidak hanya bepergian untuk menetap sesaat, tetapi sampai tertarik membeli tempat tinggal di beberapa negara.

Faktor gaya hidup dan destinasi wisata, juga dinilai jadi daya tarik investor asing untuk membeli properti yang memiliki fasilitas penunjang seperti marina, rumah sakit internasional, sekolah internasional, hingga fasilitas kapal pesiar atau yacht.

Barnett menjelaskan, branded residences juga menawarkan nilai tambah dibanding apartemen biasa karena kualitas pengelolaan, fasilitas gaya hidup, dan prestise merek hotel internasional. Penggunaan merek hotel internasional bahkan dapat meningkatkan harga jual proyek hingga premium 35 persen.

Pengembangan ini berkembang di daerah seperti Bali yang menjadi episentrum pasar properti mewah Indonesia karena tingginya permintaan pendatang asing. Provinsi Kepulauan Riau, yang berbatasan dengan Singapura juga jadi kawasan yang prospektif untuk pengembangan hunian mewah ini.

Prospek ini, ia melanjutkan, bakal tetap berlanjut di tengah kondisi geopolitik global dan ekonomi domestik yang penuh ketidakpastian sepanjang 2026.

Terdapat 1,2 juta penduduk dari kalangan ekonomi atas atau kaya di Indonesia atau 0,4 persen dari total penduduk Indonesia.

”Saya paham bahwa inflasi sangat tinggi. Tapi, mereka yang memiliki uang di Indonesia masih menginginkan pindah ke rumah yang lebih besar atau real estate paling mahal, yang mungkin tidak lagi di Jakarta, tapi di tempat lain. Jadi, masih ada permintaan di sana, termasuk untuk investasi," tuturnya.

Data Badan Pusat Statistik pada 2025 menunjukkan, terdapat 1,2 juta penduduk dari kalangan ekonomi atas atau kaya di Indonesia atau 0,4 persen dari total penduduk Indonesia. Walaupun sangat kecil, kelompok ini meningkat dari hanya 1,1 juta penduduk di 2024.

Selain penduduk dalam negeri, permintaan hunian mewah juga tinggi dari kalangan pendatang dari luar negeri. Sampai triwulan I-2026, tercatat 3,44 juta kunjungan wisatawan mancanegara, naik 8,62 persen dibandingkan periode yang sama pada 2025. Sepanjang 2025, total kunjungan wisman mencapai 15,39 juta, naik 10,80 persen dari 2024.

Barnett juga menjelaskan, prospek permintaan hunian akan positif bagi pengembang perhotelan ternama pada 2026. Alasannya adalah adanya pengetatan regulasi akomodasi sewa jangka pendek.

Mulai 31 Maret 2026, seluruh akomodasi rental wajib menunjukkan kepatuhan hukum penuh melalui sistem registrasi digital nasional. Properti yang tidak memenuhi ketentuan berisiko dihapus dari platform pemesanan online utama.

Di sisi lain, investor asing independen kini diwajibkan membentuk PT PMA dengan modal disetor minimum di atas Rp 10 miliar untuk berinvestasi. Menurut C9 Hotelworks, regulasi tersebut diperkirakan mendorong pergeseran minat investor asing menuju branded residences karena menawarkan struktur investasi yang lebih profesional, legal, dan transparan dibanding pasar rental informal.

Di tengah tekanan ekonomi global, pasar properti premium domestik dinilai masih cukup solid. Salah satu perusahaan properti dalam negeri, PT Bumi Serpong Damai Tbk, yang tercatat di bursa, mencatatkan tren ini pada kinerja keuangan triwulan I-2026.

Baca JugaWujudkan Hunian Elegan dan Berkelanjutan

Pengembang kota mandiri BSD City itu mencatat prapenjualan senilai Rp 2,54 triliun atau setara 25 persen dari target tahunan senilai Rp 10 triliun. Nilai tersebut tumbuh 5 persen secara tahunan dibanding periode yang sama tahun sebelumnya.

Direktur BSDE, Hermawan Wijaya, mengatakan segmen residensial masih menjadi penopang utama penjualan perusahaan. “Kami melihat permintaan properti, khususnya segmen residensial, masih cukup resilien. Hal ini didukung kebutuhan hunian yang tetap kuat serta kepercayaan konsumen terhadap kawasan mandiri terintegrasi seperti BSD City,” ujarnya dalam rilis resmi, Senin (4/5/2026).

Segmen residensial menyumbang Rp 1,23 triliun atau 49 persen dari total prapenjualan BSDE. Kontribusi tersebut berasal dari sejumlah proyek seperti Nava Park, Hiera, The Armont Residences, Eonna, Terravia hingga klaster baru Izzi.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
MPR Minta Lomba Cerdas Cermat Empat Pilar Dipertandingkan Ulang
• 11 jam lalurctiplus.com
thumb
Pinkan Mambo Bongkar Alasan Cerai dari Arya Khan, Ngaku Berkali-kali Disakiti hingga Nangis karena Uang Rp50 Juta Disembunyikan
• 16 jam lalugrid.id
thumb
Inflasi konsumen China lanjutkan pemulihan moderat
• 4 jam laluantaranews.com
thumb
IHSG Sesi I Anjlok 1,43%, Ada Crossing Jumbo di Saham 2 Konglomerat PANI – BREN
• 16 jam lalukatadata.co.id
thumb
Aksi Hengkang UMKM dari Shopee dan TikTok Shop, Berdampak ke Pertumbuhan E-Commerce?
• 21 jam lalubisnis.com
Berhasil disimpan.