Pelemahan nilai tukar rupiah ke level Rp 17.534 per dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Selasa (12/5) ini memberi tekanan terhadap kinerja sejumlah saham. Ini terutama terjadi pada emiten yang memiliki ketergantungan tinggi terhadap impor bahan baku maupun utang dalam valuta asing.
Sektor yang paling terdampak meliputi kesehatan, manufaktur, konsumer hingga properti.
Berdasarkan data perdagangan Bursa Efek Indonesia (BEI) intraday pukul 14.41 WIB, Selasa (12/5), saham emiten sektor farmasi merosot tajam. Harga saham PT Kimia Farma Tbk (KAEF) rontok 13,99% ke Rp 615, PT Pyridam Farma Tbk (PYFA) jeblok 14,74% ke Rp 324, dan PT Cipta Sarana Medika Tbk (DKHH) anjlok 11,24% ke Rp 79.
Lalu ada emiten PT Phapros Tbk (PEHA) anjlok 14,06% ke Rp 330, PT Diastika Biotekindo Tbk (CHEK) merosot 10,60% ke Rp 135, dan PT Brigit Biofarmaka Teknologi Tbk (OBAT) merosot 9,88% 310.
Emiten sektor kesehatan, khususnya farmasi mengalami dampak signifikan dari pelemahan rupiah karena ketergantungan yang tinggi pada impor bahan baku.
Kemudian emiten sektor konsumer dan kertas juga ambruk. Harga saham PT Pabrik Kerjas Tjiwi Kimia Tbk (TKIM) anjlok 4,83% ke Rp 7.875 dan PT Indah Kiat Pulp & Paper Tbk (INKP) terkoreksi 2,22% ke Rp 8.800.
Analis Doo Financial Lukman Leong menjelaskan, pelemahan rupiah terjadi seiring meredupnya harapan damai antara AS-Iran serta harga minyak mentah dunia yang masih tinggi.
“Investor juga menantikan data penjualan ritel Indonesia yang dirilis siang ini dan pengumuman MSCI hari ini tidak akan memberikan berita baik pada IHSG,” ujar dia kepada Katadata.co.id, Selasa (12/5).
Ia memperkirakan rupiah akan bergerak di level 17.400-17.550 per dolar AS pada hari ini.
Adapun Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) juga sempat merosot 1,46% ke Rp 6.804 siang tadi. Volume yang diperdagangkan sebanyak 27,87 miliar saham, frekuensi transaksi sebanyak 2,16 juta kali dan kapitalisasi pasar mencapai 12.114 triliun. Indeks telah merosot 21,12% sejak awal tahun atau year to date (ytd).




