JAKARTA, DISWAY.ID-- Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) tembus ke level Rp17.500 per dolar AS.
Menanggapi kondisi ini, Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa menyatakan pemerintah akan mulai membantu Bank Indonesia (BI) dalam menjaga stabilitas pasar keuangan.
BACA JUGA:Link dan Cara Daftar Artist Presale Konser The Weeknd di Jakarta 2026, Tiket Dijual 18-19 Mei
Purbaya mengatakan, pengendalian nilai tukar merupakan tugas Bank Sentral. Menurutnya itu bukan kapasitasnya.
"Loh itu kan Anda mesti tanya Bank Sentral, jangan tanya saya. Tugas Bank Sentral hanya satu kan, menjaga stabilitas nilai tukar dan kita serahkan itu ke ahlinya di sana di Bank Sentral," katanya kepada wartawan, Selasa, 12 Mei 2026.
Namun, Purbaya bersedia membantu BI dan akan mulai turun tangan melalui intervensi di pasar obligasi atau bond market.
BACA JUGA:Progres MRT Bundaran HI-Kota Capai 59 Persen, Pramono: Tahun Depan Uji Coba
"Kita bisa akan mulai membantu besok mungkin dengan masuk ke bond market," tegasnya.
Bendahara negara ini, menjelaskan langkah tersebut melalui skema Bond Stabilization Fund guna menjaga stabilitas yield surat utang negara.
"Bond Stabilization Fund kan, tapi belum fund semuanya kita aktifkan di instrumen yang kita punya di sini," jelasnya.
Menurutnya, pemerintah perlu menjaga agar yield obligasi tidak melonjak terlalu tinggi. Pasalnya, hal itu dapat memicu keluarnya investor asing dari pasar domestik.
BACA JUGA:Lewat Batik, PGN Dorong Ekonomi Inklusif untuk UMKM dan Anak Disabilitas
"Kalau yield nya naik terlalu tinggi artinya apa, asing yang pegang bond di sini kan ada capital loss, dia akan keluar," jelasnya.
Oleh karena itu. Purbaya akan kendalikan itu agar asingnya tidak keluar atau masuk malah kalau yield nya membaik, sehingga rupiah akan menguat.
"Kita akan masuk besok, mulai besok," kata Purbaya.
- 1
- 2
- »





