Jakarta: Aktivitas di Pelabuhan Tanjung Priok tidak hanya berfokus pada kelancaran arus logistik dan perdagangan, tetapi juga kesiapan menghadapi berbagai kondisi darurat. Melalui simulasi Business Continuity Management System (BCMS), Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Utama Tanjung Priok bersama Pelindo memperkuat sistem penanganan krisis yang terintegrasi di kawasan pelabuhan terbesar di Indonesia itu.
Simulasi tersebut menjadi langkah penting dalam membangun kesiapsiagaan bersama agar seluruh aktivitas pelabuhan tetap berjalan aman, terukur, dan terkendali ketika menghadapi situasi darurat.
Baca Juga :
Rantai Pasok hingga AI Jadi Kunci Efisiensi Logistik di Tengah Tekanan Global"Harmonisasi antara regulator dan operator menjadi fondasi utama agar penanganan kondisi darurat tidak berjalan sendiri-sendiri, melainkan menjadi satu kesatuan sistem pelabuhan yang Tangguh," kata Heru di Jakarta, Selasa, 12 Mei 2026
Simulasi BCMS, Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Utama Tanjung Priok bersama Pelindo. Dokumentasi/ istimewa.
Dalam simulasi yang digelar, seluruh terminal dan fasilitas pelabuhan dilibatkan, mulai dari terminal peti kemas internasional, terminal energi, terminal multipurpose, hingga terminal kendaraan dan logistik.
Salah satu skenario yang diperagakan dalam simulasi tersebut adalah penanganan tumpahan minyak di area pelabuhan. Simulasi dilakukan untuk memastikan seluruh unsur terkait memahami prosedur penanganan cepat dan koordinasi di lapangan.
Kementerian Perhubungan juga memberikan dukungan terhadap langkah KSOP Tanjung Priok dalam membangun sistem penanganan krisis yang terkendali, terukur, dan terintegrasi.
Penerapan BCMS di Tanjung Priok disebut menjadi yang pertama di Indonesia. Sistem tersebut diharapkan dapat menjadi model bagi pelabuhan besar lainnya di Tanah Air dalam memperkuat kesiapsiagaan menghadapi kondisi darurat.




