Bisnis.com, JAKARTA — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diproyeksikan bergerak melemah pada perdagangan hari ini, Rabu (13/5/2026), usai lembaga penyedia indeks global MSCI Inc. mengumumkan hasil rebalancing Mei 2026 yang berdampak pada sejumlah saham Indonesia. Meski demikian, beberapa saham seperti PANI, PNLF, hingga RAJA tetap direkomendasikan analis untuk dicermati.
Analis BRI Danareksa Sekuritas Reza Diofanda, menilai secara teknikal, IHSG akan kembali menguji area support 6.850—6.960. Pasar disebut akan menantikan data penjualan ritel Indonesia, inflasi AS, hingga rebalancing MSCI hari ini.
“Secara teknikal, IHSG masih menguji area support penting di kisaran 6.850–6.960. Selama level tersebut bertahan, peluang rebound masih terbuka, namun jika ditembus maka risiko pelemahan lanjutan akan meningkat,” katanya dalam riset hariannya, Rabu (13/5/2026).
Salah satu saham yang menjadi rekomendasi BRIDS adalah PT Pantai Indah Kapuk Dua Tbk. (PANI) pada target harga Rp8.850—Rp9.250 dan stop loss pada area kurang dari Rp8.300 per saham.
Selain itu, analis juga merekomendasikan saham PT Panin Financial Tbk. (PNLF) pada target harga Rp280—Rp286 dan saham PT Rukun Raharja Tbk. (RAJA) pada target harga Rp4.400—Rp4.670 dan stop loss pada area kurang dari Rp3.850.
BRIDS juga merekomendasikan sell saham PT Dian Swastatika Sentosa Tbk. (DSSA) pada target harga Rp1.170 per saham. Secara teknikal, DSSA dinilai masih dalam tren bearish dan dibayangi oleh tekanan jual.
Baca Juga
- Daftar Perubahan MSCI Global Standard Indexes Asia Pasifik, Ini Saham yang Masuk dan Keluar
- MSCI Umumkan Perubahan Small Cap Index, AMRT Masuk, ANTM hingga SIDO Keluar
- MSCI Umumkan 6 Saham RI Keluar dari Global Standard, Ada BREN, DSSA hingga AMMN
Di satu sisi, lembaga penyedia indeks internasional, MSCI Inc. baru saja mengumumkan hasil rebalancing saham hari ini.
Berdasarkan MSCI May 2026 Index Review, tidak ada tambahan saham Indonesia baru dalam MSCI Global Standard Index. Sebaliknya, MSCI menghapus enam saham Indonesia dari indeks tersebut, yakni AMMN, BREN, TPIA, DSSA, CUAN, dan AMRT.
Namun, MSCI memasukkan saham AMRT ke dalam MSCI Small Cap Index setelah sebelumnya saham tersebut dikeluarkan dari MSCI Global Standard Index.
Di sisi lain, terdapat 13 saham Indonesia yang dicoret dari MSCI Small Cap Index. Saham-saham tersebut meliputi ANTM, AALI, BANK, dan BSDE.
Kemudian, MSCI juga menghapus DSNG, SIDO, MIDI, serta MIKA dari MSCI Small Cap Index.
Selanjutnya, saham MSIN, TKIM, APIC, SSMS, dan TAPG juga keluar dari indeks tersebut.
BRI Danareksa dalam risetnya, menilai saham yang keluar dari MSCI berisiko mengalami tekanan jual akibat rebalancing institusi asing dan ETF berbasis MSCI. Volatilitas diprediksi meningkat menjelang akhir Mei seiring dengan penyesuaian portofolio investor institusi.
Selain itu, tidak adanya saham baru yang masuk ke MSCI Standard juga dinilai menjadi sentimen tersendiri bagi pasar RI.
Adapun pada perdagangan kemarin, IHSG ditutup melemah 0,92% ke level 6.905,5. Tekanan jual asing masih dominan pada angka Rp659 miliar di pasar reguler.
Tidak hanya di Indonesia, mayoritas bursa di Asia turut melemah seiring kenaikan harga minyak mentah, selepas Presiden AS Donald Trump menolak proposal damai Iran. Rupiah bahkan bergerak di atas level Rp17.400 per dolar AS dan menambah tekanan di pasar RI.
”Sentimen pasar sempat membaik setelah penundaan rencana kenaikan tarif royalti tambang, namun kembali tertekan setelah pemerintah memastikan penyesuaian royalti tetap berlaku mulai Juni 2026,” katanya.
_____
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.





