Trump Murka! Perundingan Iran Gagal Total, AS Siap Hancurkan Iran dalam 24 Jam?

erabaru.net
2 jam lalu
Cover Berita

EtIndonesia. Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran kembali meningkat tajam setelah perundingan terbaru mengenai program nuklir Teheran mengalami kebuntuan serius. Pada Sabtu, 10 Mei 2026, Kantor Berita Tasnim Iran melaporkan bahwa Teheran secara resmi telah memberikan tanggapan terhadap proposal gencatan senjata dan kesepakatan baru yang diajukan Washington. Namun, isi balasan Iran justru memperlihatkan sikap yang jauh lebih keras dibanding perkiraan sebelumnya.

Iran mengajukan sejumlah syarat utama yang dinilai sulit diterima oleh Amerika Serikat. Di antaranya adalah penghentian segera seluruh konflik di Lebanon dan kawasan lain yang melibatkan sekutu Iran, pencabutan blokade laut oleh militer Amerika di kawasan Teluk Persia, jaminan bahwa Washington tidak akan melancarkan serangan militer baru, hingga pembebasan seluruh aset Iran yang selama ini dibekukan oleh Barat.

Iran Bersedia Kurangi Uranium, Tetapi Ajukan Syarat Berat

Menurut laporan The Wall Street Journal yang mengutip sumber internal terkait negosiasi tersebut, Iran sebenarnya menunjukkan sedikit fleksibilitas. Teheran dikabarkan bersedia mengencerkan sebagian uranium yang telah diperkaya tingkat tinggi dan memindahkan sebagian stok sisanya ke negara ketiga.

Namun, Iran juga menambahkan syarat yang sangat sensitif. Teheran meminta jaminan bahwa apabila negosiasi kembali gagal atau Amerika Serikat suatu hari nanti kembali keluar dari perjanjian, maka seluruh uranium Iran yang disimpan di luar negeri wajib dikembalikan tanpa syarat.

Permintaan itu langsung memicu reaksi keras dari Presiden Amerika Serikat Donald Trump.

Pada Minggu, 11 Mei 2026, Trump menyatakan bahwa tuntutan Iran tersebut “sama sekali tidak dapat diterima.” Ia juga menegaskan bahwa Washington tidak akan membiarkan Iran menggunakan diplomasi sebagai alat untuk memperpanjang waktu sambil mempertahankan kemampuan nuklirnya.

Di sisi lain, pemerintah Iran juga mengeluarkan ancaman balasan. Teheran memperingatkan bahwa jika Amerika kembali melakukan serangan militer, maka Iran “tidak akan menunjukkan belas kasihan sedikit pun.” Iran bahkan mengancam akan memperluas larangan terhadap kapal perang asing yang ingin memasuki Selat Hormuz.

Situasi ini semakin memperjelas bahwa putaran negosiasi terbaru antara Washington dan Teheran kembali menemui jalan buntu.

Trump Gelar Rapat Darurat Bahas Serangan Baru ke Iran

Menurut laporan Axios pada 11 Mei 2026, Presiden Trump mengadakan rapat khusus bersama tim keamanan nasional di Gedung Putih untuk membahas kemungkinan dilanjutkannya operasi militer terhadap Iran.

Sejumlah pejabat Amerika yang mengetahui isi pembahasan menyebutkan bahwa Trump kini berada dalam posisi yang sangat siap untuk kembali memberi perintah operasi militer kapan saja.

Salah seorang pejabat bahkan mengatakan bahwa: “Trump akan diam-diam memberi mereka pelajaran.”

Pernyataan itu dianggap sebagai sinyal bahwa Gedung Putih sedang mempertimbangkan langkah militer yang lebih agresif dibanding fase sebelumnya.

Trump sendiri mulai berbicara secara jauh lebih terbuka di depan publik. Dalam berbagai pernyataannya, ia menegaskan bahwa Amerika Serikat tidak berada dalam posisi tertekan menghadapi Iran.

Menurut Trump, kekuatan militer Amerika mampu memperoleh kemenangan total jika konflik meningkat menjadi perang terbuka.

Ia bahkan mengklaim bahwa militer Amerika Serikat bisa menghancurkan seluruh kekuatan militer utama Iran hanya dalam waktu sekitar satu hari.

Tiga Opsi Militer Sedang Dipertimbangkan Washington

Berdasarkan informasi yang beredar dari lingkaran keamanan nasional AS, terdapat beberapa opsi utama yang kini sedang dipertimbangkan Gedung Putih.

1. Mengaktifkan Kembali “Project Freedom”

Opsi pertama adalah menghidupkan kembali operasi militer bernama “Project Freedom”, yaitu operasi pengawalan kapal-kapal Amerika melewati Selat Hormuz.

Operasi ini sebelumnya sempat berlangsung singkat selama sekitar 36 jam sebelum dihentikan, setelah Arab Saudi menarik izin penggunaan wilayah udaranya.

Selat Hormuz sendiri merupakan jalur energi paling vital di dunia. Sebagian besar ekspor minyak Timur Tengah melewati wilayah sempit tersebut. Karena itu, ancaman Iran terhadap jalur pelayaran internasional selalu dianggap sebagai ancaman strategis global.

2. Melanjutkan Pemboman terhadap Iran

Opsi kedua adalah memperluas pemboman terhadap target-target strategis di wilayah Iran.

Trump mengungkapkan bahwa sejak awal konflik, militer Amerika sebenarnya telah mengidentifikasi hampir 100 persen target penting milik Iran.

Menurut pengakuannya, sekitar 75 persen target utama sudah dihantam, sementara 25 persen sisanya masih belum disentuh.

Pernyataan ini memunculkan spekulasi bahwa Washington masih menyimpan kapasitas serangan yang jauh lebih besar.

3. Mengirim Pasukan Khusus Merebut Uranium Iran

Opsi ketiga dianggap paling berbahaya, yaitu mengirim pasukan khusus untuk merebut langsung stok uranium Iran yang telah diperkaya.

Israel disebut sangat mendorong langkah ini karena menganggap penguasaan uranium Iran merupakan kunci untuk mengakhiri ancaman nuklir Teheran.

Namun Trump dikabarkan masih ragu mengambil keputusan tersebut. Ia menilai operasi perebutan uranium di fasilitas bawah tanah Iran akan menjadi misi yang sangat berisiko dan berpotensi memicu perang besar di kawasan.

Trump: “Cepat atau Lambat, Kami Akan Mendapatkan Uranium Itu”

Dalam wawancara televisi pada Sabtu, 10 Mei 2026, Trump kembali menyinggung persoalan uranium Iran.

Ia mengatakan bahwa cepat atau lambat Amerika Serikat akan mendapatkan uranium tersebut.

Trump juga mengungkapkan bahwa Pasukan Antariksa Amerika Serikat kini terus melakukan pengawasan intensif terhadap lokasi-lokasi penyimpanan uranium bawah tanah Iran.

Ia bahkan memperingatkan bahwa siapa pun yang mencoba mendekati lokasi itu dapat langsung menjadi sasaran serangan militer Amerika.

Pernyataan ini dianggap sebagai bentuk tekanan psikologis sekaligus sinyal bahwa Washington mengetahui posisi fasilitas strategis Iran secara detail.

Netanyahu Desak Perang Jangan Dihentikan

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu juga terus mendorong agar operasi terhadap Iran tidak dihentikan terlalu cepat.

Menurut Netanyahu, ancaman Iran belum benar-benar berakhir selama Teheran masih memiliki uranium yang telah diperkaya.

Ia menegaskan bahwa perang baru bisa dianggap selesai apabila seluruh stok uranium Iran berhasil disingkirkan.

Dalam wawancara terpisah, Netanyahu bahkan membuat tuduhan baru yang cukup sensitif.

Ia mengklaim bahwa Tiongkok saat ini sedang memasok komponen inti rudal kepada Iran.

Menurut Netanyahu, bukti terkait tuduhan tersebut sebenarnya sudah tersedia, namun belum dapat dipublikasikan seluruhnya.

Ia juga melontarkan pernyataan penuh makna dengan mengatakan: “Saya tidak hanya punya mata dan telinga, tetapi juga tahu kapan harus diam.”

Pernyataan itu memicu spekulasi bahwa Israel memiliki informasi intelijen tambahan mengenai hubungan militer antara Beijing dan Teheran.

Trump Sindir Iran: “Mereka Membuka Pintu, Lalu Menutupnya Sendiri”

Pada Minggu, 11 Mei 2026, saat berada di Ruang Oval Gedung Putih, Trump membocorkan detail lain yang cukup mengejutkan.

Ia mengatakan bahwa Iran sebenarnya pernah secara sukarela menawarkan kepada Amerika Serikat untuk mengambil seluruh uranium yang telah diperkaya.

Namun belakangan, menurut Trump, Iran tiba-tiba berubah pikiran.

Trump lalu menyindir Teheran dengan mengatakan: “Mereka sendiri yang membuka pintunya, lalu mereka sendiri juga yang menutupnya.”

Ia juga menuduh Iran telah membuang begitu saja posisi tawar yang sebenarnya masih mereka miliki di meja perundingan.

Trump bahkan melontarkan kritik yang sangat keras terhadap proposal gencatan senjata Iran.

Menurutnya, dokumen yang dikirim Teheran “sangat lemah” dan bahkan “tidak layak dibaca.”

Ia menyebut proposal itu seperti “tumpukan sampah” dan mengatakan bahwa gencatan senjata Iran saat ini “hidup dengan bantuan alat pernapasan.”

Pernyataan tersebut kembali menunjukkan gaya khas Trump yang keras, dramatis, dan penuh tekanan politik.

Trump Siap “Menjadi Tameng Peluru”

Dalam salah satu pernyataan paling mengejutkan hari itu, Trump mengatakan kepada wartawan bahwa dirinya bersedia “menjadi tameng peluru” demi mencegah Iran memperoleh senjata nuklir.

Ucapan tersebut langsung menjadi sorotan media internasional karena dianggap mencerminkan pendekatan Trump yang sangat konfrontatif.

Banyak analis menilai pernyataan itu bukan sekadar retorika, melainkan sinyal bahwa Washington siap meningkatkan eskalasi jika Iran tetap menolak tuntutan utama Amerika.

Xi Jinping Disebut Ikut Mengamati Situasi

Di tengah meningkatnya ketegangan ini, banyak pengamat meyakini bahwa pemimpin Tiongkok Xi Jinping juga sedang memantau perkembangan konflik dengan sangat serius.

Kegagalan perundingan AS-Iran dipandang sebagian analis dapat memberikan keuntungan strategis bagi Beijing, terutama jika Amerika semakin terjebak dalam konflik Timur Tengah.

Trump sendiri secara terbuka menyebut nama Xi Jinping.

Ia mengatakan bahwa pekan ini dirinya akan bertemu langsung dengan Xi untuk membahas masalah Iran secara tatap muka.

Trump berharap Beijing dapat menggunakan pengaruhnya untuk menekan Iran agar menerima proposal Amerika Serikat.

Namun para pengamat menilai Trump kemungkinan akan menggunakan pertemuan itu untuk mengirim pesan keras kepada Beijing.

Dalam negosiasi nanti, Trump diperkirakan akan membicarakan secara terbuka berbagai isu sensitif, termasuk dugaan hubungan Tiongkok dengan program persenjataan Iran.

Bahkan sejumlah analis menyebut Trump tidak datang ke Beijing membawa “kontrak dagang besar”, melainkan membawa “pisau bedah” politik dan strategi tekanan baru terhadap Tiongkok. (***)


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Menakar Bobot Saham Indonesia di MSCI Emerging Market Jelang Rebalancing Mei
• 20 jam lalukatadata.co.id
thumb
Saham Olympus (NATO) Turun 5 Persen Usai Caplok Perusahaan Digital Marketing Singapura
• 15 jam laluidxchannel.com
thumb
INDEF Sebut Pertumbuhan Ekonomi Perlu Diikuti Perbaikan Kualitas
• 18 jam laluidxchannel.com
thumb
Di Luar Nalar! Detik-detik Motor Nyangkut di Traffic Light sampai Bikin Heboh Warlok
• 19 jam lalumedcom.id
thumb
Pelemahan Tak Hanya pada Rupiah Tapi Hampir Semua Negara
• 13 jam lalutvonenews.com
Berhasil disimpan.