Mengangkat tema “Memperkokoh Keamanan Siber Perbankan: Dari Strategi Investasi Hingga Ketahanan Operasional di Era Digital”, forum ini menjadi wadah strategis bagi pimpinan perbankan, regulator, dan pelaku industri nasional untuk membahas penguatan keamanan digital di tengah percepatan adopsi kecerdasan artifisial (AI).
Baca juga: Adopsi Fraud & AML Meningkat, Pertumbuhan Kuat Ada di Indonesia
Sektor keuangan Indonesia saat ini memasuki fase baru pertumbuhan yang didorong oleh akselerasi pemanfaatan AI. Seiring berkembangnya inovasi digital, lanskap ancaman siber juga turut berevolusi, mulai dari ransomware, advanced persistent threats, hingga rekayasa sosial berbasis AI seperti deepfake dan phishing generatif.
Dalam konteks tersebut, ketahanan siber menjadi fondasi strategis yang memungkinkan industri perbankan terus berinovasi secara aman dan berkelanjutan.
Melalui forum ini diharapkan tercipta ruang dialog strategis untuk menyelaraskan perspektif bahwa keamanan siber tidak lagi sekadar fungsi proteksi, melainkan bagian integral dari strategi pertumbuhan dan transformasi industri perbankan nasional.
President Director & CEO Lintasarta, Armand Hermawan, menyampaikan bahwa transformasi digital perbankan memerlukan arsitektur keamanan generasi baru yang terintegrasi penuh dengan ekosistem digital.
“Ketika AI mempercepat inovasi, AI juga melipatgandakan skala dan kompleksitas risiko. Keamanan siber tidak lagi cukup menjadi lapisan pertahanan, tetapi harus menjadi fondasi strategis yang menyatu dengan konektivitas, cloud, dan kapabilitas AI dalam satu ekosistem yang bekerja secara real-time dan berkelanjutan,” ujar Armand.
Lintasarta sebagai Beyond AI Factory hadir sebagai enabler transformasi digital melalui kerangka layanan terintegrasi 4C, yakni Connectivity, Cloud, Cybersecurity, dan Collaboration.
Pendekatan ini dirancang untuk memastikan setiap inisiatif transformasi digital perbankan berjalan di atas fondasi yang aman, berdaulat, dan siap menghadapi beban kerja AI berskala enterprise.
Melalui pendekatan tersebut, Lintasarta tidak hanya berperan sebagai penyedia infrastruktur, melainkan juga sebagai mitra teknologi perbankan dalam membangun ketahanan operasional yang adaptif di era digital.
Wakil Ketua Umum PERBANAS, Hendra Lembong, menegaskan pentingnya kolaborasi industri dalam memperkuat ketahanan siber nasional.
“Kepercayaan nasabah adalah modal utama industri perbankan, dan ketahanan siber adalah penjaganya. Ancaman saat ini bukan lagi risiko masa depan, tetapi realitas harian yang harus dihadapi bersama. Kami menyambut baik forum ini sebagai wadah kolaborasi untuk membangun sistem keuangan yang lebih tangguh dan adaptif,” ujar Hendra.
Lebih lanjut, Armand menempatkan peran Lintasarta dalam konteks visi Indonesia Emas 2045, khususnya dalam memperkuat kedaulatan digital nasional sebagai fondasi pertumbuhan jangka panjang.
“Kemampuan menjaga data, sistem, dan kepercayaan publik adalah prasyarat utama bagi Indonesia untuk bertransformasi dari konsumen teknologi menjadi produsen dan inovator digital. Lintasarta hadir untuk memastikan transformasi ini berjalan di atas fondasi yang berdaulat dan aman,” tegasnya.
Melalui forum ini, industri perbankan diharapkan dapat meningkatkan kesiapan menghadapi ancaman siber sekaligus menjadikan keamanan digital sebagai bagian dari strategi investasi jangka panjang.
Di tengah disrupsi digital yang terus berkembang, ketahanan siber akan menjadi faktor kunci dalam menjaga stabilitas sistem keuangan nasional serta memperkuat kepercayaan publik.
Bersama Lintasarta, industri keuangan nasional memiliki mitra teknologi yang mampu menerjemahkan kompleksitas ancaman digital menjadi peluang untuk membangun keunggulan kompetitif yang berkelanjutan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(SAW)





