Sutradara Joko Anwar enggak menyangka film Ghost in the Cell bisa tembus 3 juta penonton. Sebab, film horor komedi itu membawa isu yang cukup berat, salah satunya soal ketimpangan hukum.
“Filmnya kan memang bisa dianggap high risk, ya,” kata Joko Anwar kepada kumparan.
Menurut Joko Anwar, Ghost in the Cell bukan sekadar tontonan yang menghibur. Dengan isu yang cukup berat, ia enggak berekspektasi tinggi untuk film ini.
“Tadinya kita berpikir bahwa yang penting balik modal lah,” ucap Joko.
Joko Anwar Enggak Menyangka Film Ghost in the Cell Diterima dengan Baik oleh MasyarakatNamun, pria 50 tahun itu enggak menyangka bahwa karena film Ghost in the Cell ternyata diterima dengan baik oleh masyarakat. Karena isu yang diangkat dianggap relate dengan kondisi masyarakat saat ini.
“Karena banyak yang bilang filmnya betul-betul mewakili suara kita sebagai warga negara Indonesia yang sudah merasa resah banget, begah banget sama hukum yang tidak berpihak kepada rakyat,” tutur Joko.
Kesuksesan Ghost in the Cell enggak hanya di box office. Film ini juga berkembang jadi alat edukasi oleh beberapa institusi, salah satunya Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).
Joko mengatakan KPK mengundang pihak yang terlibat dalam film Ghost in the Cell untuk diskusi dan mengadakan refleksi soal antikorupsi.
“Filmnya bukan cuma jadi hiburan, tapi jadi pemantik diskusi dan bagian dari gerakan antikorupsi dan gerakan rakyat yang bersuara untuk menyuarakan ketidakadilan sistem,” ungkap Joko.
Cerita dalam film Ghost in the Cell berpusat pada kehidupan para narapidana laki-laki di sebuah penjara. Mereka berkutat melawan entitas jahat yang mengincar kemarahan dan ketamakan setiap penghuni Lapas.
Film ini dibintangi oleh Abimana Aryasatya, Aming, Rio Dewanto, Lukman Sardi, Bront Palarae, Tora Sudiro, Danang, Morgan Oey, Endy Arfian, dan Kiki Narendra.





