Dalam tradisi lama dunia militer, korps zeni sering disebut sebagai 'penakluk sunyi'. Mereka bukan pasukan yang pertama kali disebut dalam kisah-kisah heroik peperangan, tetapi tanpa mereka, jembatan tidak akan tersambung, jalan tidak akan terbuka, dan pasukan tidak akan pernah sampai ke tujuan.
Mereka bekerja seperti akar pohon, tersembunyi di bawah tanah, namun menopang seluruh kehidupan di atasnya. Dari rahim pasukan seperti itulah lahir Letnan Jenderal TNI (Purn) Ahmad Rizal Ramdhani ditempa dengan berbagai penugasan dan tantangan alam namun tetap bersahaja.
Lahir pada 9 November 1970 dan dibentuk di kawah Candradimuka taruna Akademi Militer 1993 sebagai Penatarama Genderang Suling Canka Lokananta, Rizal tumbuh dan berkembang dalam dunia keprajuritan yang keras, leadership yang prima dan taat beribadah, serta dekat dengan anak buah dan dicintai rakyat di setiap penugasannya.
Korps Zeni Angkatan Darat, matra yang mengajarkan bahwa kekuatan bukan hanya tentang menghancurkan (destruksi), tetapi juga membangun (konstruksi), penyamaran (kamuflase), Nubika & Jihandak yang bermanfaat di masa perang maupun damai. Di situlah Rizal digodog dan dibentuk menjadi Perwira Pertama, dan di perjalanannya juga memiliki kemampuan intelijen serta teritorial yang andal.
Mungkin karena itulah perjalanan karier Ahmad Rizal Ramdhani tampak seperti aliran sungai yang panjang: tenang di permukaan, tetapi memiliki arus yang kuat di kedalamannya.
Ia memulai pengabdian dari jabatan-jabatan paling dasar, Danton, Danki, hingga Pasi di Yonzipur 1/Dhira Dharma. Di sanalah seorang perwira muda belajar bahwa kepemimpinan bukanlah soal suara paling keras, melainkan kemampuan menjadi contoh pertama ketika pekerjaan berat dimulai.
Rizal pun menempa berbagai pendidikan intelijen baik di dalam dan luar negeri, serta melanjutkan penugasan di STI Bais TNI, Wadan Denintel Kodam V/Brw, serta pernah juga bertugas di Paspampres sebagai Pabandya Pam.
Berbekal dengan pengalaman tugas dan pendidikan yang beraneka ragam serta tingkat tanggung jawab yang tinggi, membentuk karakter Rizal lebih matang menghadapi berbagai tantangan penugasan yang multi dimensi dan kompleks namun tetap humble.
Dapat kita ibaratkan bila infanteri adalah ujung tombak, maka zeni adalah tangan yang membuka jalan. Mereka membentang jembatan ketika sungai menghalangi, mereka mengais reruntuhan ketika bencana datang, mereka menata kembali kehidupan setelah luluh lantak.
Karena itu, perjalanan Rizal tidak pernah jauh dari pekerjaan-pekerjaan yang membutuhkan fisik yang prima, kesabaran, dan ketahanan mental. Ketika bertugas sebagai Pasi Intel Kodim 0201/BS Medan hingga kemudian dipercaya menjadi Dandeninteldam I/Bukit Barisan, ia belajar Intelijen Teritorial bagaimana membaca manusia dan wilayah dalam menyikapi dinamika di lapangan.
Dalam dunia intelijen, ancaman tidak selalu tampak di permukaan. Ia seperti api kecil di bawah sekam: diam, tetapi dapat membesar sewaktu-waktu.
Namun, watak zeni tetap melekat dalam dirinya. Ia dikenal sebagai sosok yang lebih suka membangun dibanding memperuncing konflik. Bahkan ketika menjabat Dandim Batam, pendekatan teritorial yang digunakannya sering digambarkan lebih mengedepankan kolaborasi sosial dibanding sekadar pendekatan formal kekuasaan.
Jejak pengabdiannya semakin menonjol ketika menjadi Danrem 162/Wira Bhakti di Lombok. Tak lama setelah ia menjabat, gempa besar tahun 2018 mengguncang 8 Kab/ Kota Prov Nusa Tenggara Barat. Lombok berubah menjadi lanskap luka, rumah runtuh, masjid retak, anak-anak kehilangan tempat tidur, dan ribuan keluarga hidup di tenda-tenda pengungsian.
Di tengah kekacauan itu, Rizal yang bertubuh tinggi tegap hadir bukan hanya sebagai komandan militer. Tetapi sebagai pemimpin kemanusiaan. Ia bahu-membahu bersama Kepala BNPB saat itu, Letjen TNI Doni Monardo-seniornya dari Akademi Militer 1985-membangun kembali harapan masyarakat Lombok.
Doni Monardo (Alm.) sendiri dikenal luas sebagai figur militer yang memiliki filosofi 'menanam pohon sama dengan menanam harapan', dan semangat itu menemukan resonansinya pada diri Ahmad Rizal Ramdhani.
Di Lombok, tugas teritorial berubah menjadi kerja kemanusiaan. Prajurit tidak lagi sekadar menjaga keamanan, tetapi mengangkat puing-puing rumah warga, membangun hunian sementara, mendistribusikan logistik, hingga menenangkan anak-anak yang trauma.
Dalam banyak kesempatan, Rizal dikenal sebagai sosok yang mencintai alam dan lingkungan. Hampir di setiap tempat tugasnya, ia juga meninggalkan jejak penghijauan seperti menanam pohon, menghidupkan ruang hijau, dan mengajak prajurit memahami bahwa menjaga bumi adalah bagian dari menjaga bangsa.
Karier Rizal terus bergerak menuju ruang-ruang strategis, mulai dari Kaskogabwilhan II, Staf Khusus Kasad dalam penugasan Kementerian Pertanian sebagai Komandan Satgas BKO Ketahanan Pangan yang merintis pembangunan satu juta hektare lahan persawahan beserta infrastrukturnya di Wanam Merauke, Rizal terjun langsung bersama prajurit dan para petani, bahu membahu membangun Merauke menjadi limbung pangan nasional ke depannya, hingga akhirnya dipercaya menjadi Direktur Utama Perum BULOG.
Di titik inilah perjalanan militernya menemukan bentuk baru. Dahulu, ia membangun jembatan untuk pasukan. Kini ia membangun jembatan distribusi pangan bagi rakyat Indonesia.
Dan sesungguhnya, dunia zeni memiliki hubungan yang sangat dekat dengan dunia pangan. Keduanya sama-sama berbicara tentang logistik, konektivitas, dan ketahanan. Jalan rusak dapat menghambat distribusi beras. Rizal menyandingkan ilmu intelijen dan teritorial di sektor pangan.
Jembatan yang runtuh dapat memutus rantai pangan. Gudang yang tidak tertata dapat menciptakan krisis. Karena itu, pengalaman Rizal di korps zeni dan teritorial menjadi modal yang unik dalam memimpin BULOG.
Di bawah kepemimpinannya, BULOG tidak hanya memanggul tugas administratif. BULOG memikul mandat besar negara, yakni mewujudkan swasembada pangan berkelanjutan, dan swasembada pangan dalam konteks Indonesia modern (bukan sekadar urusan ekonomi). Ia adalah kedaulatan.
Presiden Prabowo Subianto berkali-kali menegaskan bahwa bangsa yang tidak mampu memenuhi kebutuhan pangannya sendiri akan mudah terguncang oleh tekanan global. Dalam kerangka besar itulah figur seperti Ahmad Rizal Ramdhani menjadi relevan, seorang perwira yang memahami disiplin logistik militer, tetapi juga mengerti denyut kebutuhan rakyat kecil.
Hubungannya dengan Prabowo dapat dibaca dalam konteks visi strategis tersebut. Dukungan all out dari Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman juga merupakan berkah bagi Rizal.
Begitulah, negara bangkit menempatkan isu pangan sebagai bagian dari pertahanan nasional, maka pengalaman para perwira teritorial dan logistik menjadi sangat penting. Rizal adalah representasi dari generasi militer yang tidak melihat pertahanan semata-mata melalui senjata, tetapi juga melalui sawah, gudang beras, irigasi, dan kesejahteraan petani.
Karena sesungguhnya, perang modern tidak selalu datang dalam bentuk invasi. Kelangkaan pangan, krisis iklim, dan rusaknya ekosistem dapat menjadi ancaman yang jauh lebih sunyi tetapi mematikan.
Kisah hidup Ahmad Rizal Ramdhani saat bahu membahu menangani bencana gempa Lombok pernah diabadikan dalam buku 'Mempolong Merenten', sebuah frasa yang menggambarkan semangat persaudaraan, pengabdian, dan kerja bersama dalam menghadapi kehidupan. Buku itu seperti ingin menegaskan bahwa perjalanan seorang prajurit sejati tidak diukur hanya dari pangkat dan jabatan, tetapi dari manfaat yang ditinggalkannya bagi manusia lain.
Dan mungkin itulah inti perjalanan Ahmad Rizal Ramdhani. Ia memahami bahwa membangun jauh lebih sulit daripada menghancurkan. Ia adalah prajurit yang mengerti bahwa ketahanan bangsa bukan hanya berdiri di atas tank dan senapan, tetapi juga di atas padi yang tumbuh subur, pohon yang tetap hijau, dan rakyat yang tidak pernah kehilangan harapan.
Di tangannya, BULOG bukan sekadar institusi logistik pangan, namun sesuai visinya, BULOG harus menjadi orkestrator pangan nasional dan bahkan internasional ke depannya. Ia adalah benteng sunyi yang menjaga Indonesia agar tetap tangguh.
(prf/ega)





