Rebalancing MSCI, Emiten Bank Jumbo Bakal Ketiban Berkah Rotasi Dana Asing

bisnis.com
8 jam lalu
Cover Berita

Bisnis.com, JAKARTA — Penghapusan 18 saham Indonesia dari indeks MSCI Mei 2026 diprediksi justru mempertebal bobot relatif saham perbankan jumbo dan emiten blue chip lainnya. Kondisi tersebut dinilai membuka peluang terjadinya rotasi likuiditas asing ke saham-saham dengan free float besar dan tata kelola yang lebih sehat.

Riset Kiwoom Sekuritas Indonesia menilai penghapusan sejumlah saham dari MSCI berpotensi memperbesar bobot relatif saham-saham berfundamental kuat, terutama sektor perbankan besar dan emiten blue chip dengan free float tinggi serta tata kelola yang dinilai lebih sehat.

“Fenomena ini berpotensi mengarahkan rotasi likuiditas asing ke saham dengan free float dan governance lebih sehat seperti BBCA, BMRI, BBNI, dan TLKM,” tulis tim riset Kiwoom Sekuritas, Rabu (13/5/2026).

Menurut Kiwoom, tekanan jual akibat rebalancing MSCI tidak tersebar merata ke seluruh pasar. Tekanan terbesar justru terkonsentrasi pada saham-saham yang dikeluarkan dari indeks, terutama PT Dian Swastatika Sentosa Tbk. (DSSA) dan PT Barito Renewables Energy Tbk. (BREN).

Kedua saham tersebut diperkirakan mengalami passive outflow masing-masing sekitar Rp9 triliun dan Rp6 triliun seiring penyesuaian portofolio investor institusi global dan exchange traded fund (ETF) berbasis MSCI.

Meski demikian, estimasi total aliran dana asing keluar atau foreign outflow kini dinilai lebih realistis di kisaran Rp27,8 triliun hingga Rp34,7 triliun. Angka tersebut jauh lebih rendah dibandingkan kekhawatiran awal pasar yang sempat memperkirakan outflow dapat melampaui Rp50 triliun.

Baca Juga

  • Susul MSCI, FTSE Russell Bakal Depak Saham dengan Konsentrasi Tinggi
  • MSCI Hapus Sejumlah Saham RI, BEI: Ketidakpastian Pasar Berkurang
  • OJK Bicara Potensi Pasar Modal RI Turun ke Frontier Market Selepas Rebalancing MSCI

Kiwoom juga menilai sebagian tekanan jual tersebut telah lebih dulu tercermin melalui aksi net sell investor asing sejak awal tahun.

Dalam MSCI May 2026 Index Review, tidak ada tambahan saham Indonesia baru dalam MSCI Global Standard Index. Sebaliknya, MSCI menghapus enam saham RI dari indeks tersebut yakni PT Amman Mineral Internasional Tbk. (AMMN), PT Barito Renewables Energy Tbk. (BREN), PT Chandra Asri Pacific Tbk. (TPIA), PT Dian Swastatika Sentosa Tbk. (DSSA), PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk. (CUAN), dan PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk. (AMRT).

Di sisi lain, MSCI memasukkan saham AMRT ke dalam MSCI Small Cap Index setelah sebelumnya keluar dari MSCI Global Standard Index.

MSCI juga menghapus 13 saham Indonesia dari MSCI Small Cap Index, yakni PT Aneka Tambang Tbk. (ANTM), PT Astra Agro Lestari Tbk. (AALI), PT Bank Aladin Syariah Tbk. (BANK), PT Bumi Serpong Damai Tbk. (BSDE), PT Dharma Satya Nusantara Tbk. (DSNG), PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk. (SIDO), PT Midi Utama Indonesia Tbk. (MIDI), PT Mitra Keluarga Karyasehat Tbk. (MIKA), PT MNC Digital Entertainment Tbk. (MSIN), PT Pabrik Kertas Tjiwi Kimia Tbk. (TKIM), PT Pacific Strategic Financial Tbk. (APIC), PT Sawit Sumbermas Sarana Tbk. (SSMS), dan PT Triputra Agro Persada Tbk. (TAPG).

Meski terdapat peluang rotasi dana ke saham blue chip, Kiwoom mengingatkan kondisi pasar domestik masih cukup rapuh. IHSG pada perdagangan sebelumnya ditutup melemah 0,68% ke level 6.858,90, sementara nilai tukar rupiah sempat menembus Rp17.500 per dolar AS.

Selain sentimen MSCI, pasar juga dibayangi ketidakpastian geopolitik Timur Tengah dan tingginya imbal hasil US Treasury yang membuat investor global masih cenderung berhati-hati terhadap pasar keuangan Indonesia.

Kiwoom pun menyarankan investor untuk tetap wait and see hingga volatilitas pasar mulai mereda. Area support IHSG diperkirakan berada di kisaran 6.745–6.762, sedangkan resistance berada pada level 6.980–7.015.

OJK Sebut Pasar Saham RI Kian Atraktif

Di tengah tekanan akibat rebalancing MSCI, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) justru menilai valuasi pasar saham Indonesia saat ini semakin atraktif.

Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon OJK Hasan Fawzi mengatakan valuasi IHSG saat ini sudah jauh lebih rendah dibandingkan saat indeks mencetak rekor tertinggi pada pertengahan Januari 2026.

“Dengan seluruh dinamika yang ada, termasuk geopolitik regional maupun global serta kondisi domestik, kita perhatikan sebetulnya tingkat rata-rata harga saham yang tercermin dari price to earnings ratio (PER) IHSG sekarang sudah jauh di bawah posisi saat all time high di pertengahan Januari,” ujar Hasan.

Menurut Hasan, secara regional valuasi pasar saham Indonesia kini juga berada di bawah rata-rata negara lain di kawasan Asia. OJK mencatat PER IHSG saat ini berada di kisaran 16 kali.

Kondisi tersebut dinilai membuka peluang bagi investor untuk mulai masuk secara selektif ke saham-saham dengan fundamental dan prospek pertumbuhan yang baik.

“Ini menunjukkan sebetulnya kami berharap para investor secara selektif memanfaatkan momentum ini untuk masuk di pasar dan memilih saham-saham terbaik yang secara prospektif dapat terus melakukan perbaikan kinerja dari waktu ke waktu,” katanya.

Hasan juga menegaskan tekanan pasar akibat rebalancing MSCI masih berada dalam batas wajar. Menurutnya, tidak terdapat indikasi panic selling di pasar, tercermin dari frekuensi dan nilai transaksi yang masih normal serta tidak adanya saham terdampak yang mengalami auto rejection bawah (ARB).

_____

Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Teknologi cerdas berperan dalam membentuk ulang lanskap olahraga China
• 20 jam laluantaranews.com
thumb
Pemerintah Jadikan PTKIN Benteng Pemahaman Islam yang Inklusif dan Toleran
• 16 jam laluokezone.com
thumb
Kabar Gembira buat Bonek! DPMM FC Resmi Lepas Ramadhan Sananta, OTW Reuni Bernardo Tavares di Persebaya
• 2 jam laluharianfajar
thumb
Urai Kepadatan, Contraflow Diberlakukan di KM 55-65 Tol Jakarta-Cikampek
• 5 jam laluokezone.com
thumb
Kadin dan KLH Perkuat Kolaborasi Green Jobs, Dukung Industrialisasi Hijau di Indonesia
• 8 jam laludisway.id
Berhasil disimpan.