Grid.ID - Ketua Umum Solidaritas Perempuan untuk Indonesia (Seruni) Kabinet Merah Putih, Tri Tito Karnavian turut hadir dalam acara pameran Metamorfosa pada Rabu (13/5/2026). Dalam kesempatan tersebut, ia ikut serta dalam demo membatik bersama 11 anggota Seruni lainnya dan seniman batik Indonesia, Dave Tjoa.
Kehadiran Tri Tito Karnavian menjadi bagian dari dukungan terhadap pelestarian budaya batik Indonesia. Acara ini juga memberikan kesempatan untuk lebih mengenal sejarah dan nilai seni batik.
Selain menikmati berbagai koleksi batik yang dipamerkan, Tri Tito Karnavian juga mencoba langsung proses mencanting batik. Istri Menteri Dalam Negeri Kabinet Merah Putih, Tito Karnavian, itu tampak antusias mengikuti setiap tahapan membatik.
Ia mengaku kagum dengan koleksi yang ditampilkan dalam pameran Metamorfosa. Menurutnya, setiap karya memiliki nilai sejarah dan seni yang luar biasa.
"Pameran ini harus mengundang banyak kalangan. Karena di sini baru segini aja koleksinya, kita sudah mengagumi luar biasa bagaimana sejarah, dan ini khusus yang satu peranakan saja, belum yang lain-lainnya," ujarnya saat berada di Menara Kompas, Jakarta Pusat pada Rabu (13/5/2026).
Dalam kesempatan itu, ia juga mengungkapkan bahwa proses membatik ternyata tidak mudah dilakukan. Menurutnya, setiap lembar batik dibuat dengan ketelitian dan kesabaran tinggi.
"Nah dari sini kita banyak belajar bahwa membatik ini bukan hal yang mudah, yang harus kita hargai," katanya.
Ia kemudian menyoroti tantangan yang dihadapi industri batik di masa sekarang. Tri menyebut masyarakat mulai beralih ke kain lain yang dianggap lebih praktis dan murah.
"Tetapi ternyata untuk saat ini mungkin trennya orang-orang juga tidak lagi menghargai batik ini sebagai karya seni yang luar biasa. Karena digantikan oleh bahan-bahan kain yang lainnya yang lebih praktis, yang mungkin lebih murah juga," tuturnya.
Menurutnya, kondisi tersebut menjadi tantangan bersama dalam menjaga keberlangsungan warisan budaya membatik. Ia mengingatkan agar keahlian membatik tidak sampai hilang di tengah perkembangan zaman.
"Nah, ini mungkin menjadi tantangan kita bersama agar warisan-warisan keahlian membatik dengan hasil-hasil yang luar biasa ini bisa kita jaga dan jangan sampai hilang," lanjutnya.
Tri Tito Karnavian juga menyoroti semakin berkurangnya batik dengan kualitas tinggi dan motif halus. Ia menilai hal tersebut menjadi hal yang harus diperhatikan bersama.
"Karena kita juga paham banyak sekali sekarang batik-batik corak-corak yang halus, yang berkualitas tinggi itu semakin berkurang. Nah ini merupakan PR kita bersama," ucapnya.
Ia berharap kesadaran masyarakat untuk menggunakan batik sebagai identitas bangsa terus meningkat. Menurutnya, batik tidak hanya sekadar pakaian, tetapi juga simbol budaya Indonesia.
"Semoga kita semua masyarakat makin gencar, makin sadar untuk tetap memakai batik sebagai identitas kita," ujarnya.
Selain itu, Tri Tito Karnavian mengaku cukup sering mengikuti kegiatan serupa ketika berkunjung ke sentra batik. Namun, pengalaman kali ini terasa lebih menyenangkan karena dirinya juga diberi kesempatan mewarnai batik secara langsung.
"Sebetulnya sering ya kalau ada kegiatan berkunjung ke sentra-sentra batik juga kita membatik. Tapi ya kalau ini lebih menyenangkan karena kita juga diberi kesempatan mewarnai batiknya," ungkapnya.
Ia mengaku senang melihat hasil karya masing-masing anggota Seruni. Menurutnya, pengalaman tersebut memberikan kesan tersendiri dan membuat kegiatan membatik terasa lebih menarik.
"Biasanya kita hanya mebuat malamnya gitu, tapi ini dengan mewarnai dan kita menjadi senang sekali dengan hasil masing-masing," tutupnya.(*)
Artikel Asli




