Jakarta: Di tengah perubahan dunia kerja yang semakin dinamis, perusahaan kini tidak hanya dituntut mengejar pertumbuhan bisnis, tetapi juga menciptakan lingkungan kerja yang sehat bagi karyawannya. Hal itulah yang menjadi perhatian dalam pemeringkatan Fortune 100 Best Companies to Work For™ Asia Tenggara edisi perdana yang dirilis Great Place To Work® (GPTW) ASEAN & ANZ bersama majalah Fortune.
Pemeringkatan tersebut melibatkan lebih dari 550 ribu karyawan di sepuluh negara Asia Tenggara, dengan lebih dari 1,3 juta pekerja diminta menilai tingkat kepercayaan, keadilan, dan dukungan di tempat kerja mereka melalui Trust Index™ Survey GPTW yang bersifat rahasia.
Baca Juga :
Kementerian P2MI-Prefektur Miyazaki Jepang Perkuat Kerja Sama Penempatan Pekerja MigranSVP Head of People & Culture Indosat, Lisa Qonita, mengungkapkan program dukungan kesehatan mental di perusahaan awalnya tidak banyak diminati karena masih adanya stigma di lingkungan kerja.
“Kami menyebutnya sebagai ‘dukungan kesehatan mental’, saat itu tingkat partisipasinya terbatas karena adanya stigma. Begitu kami memposisikannya sebagai instrumen peningkatan kinerja dan manajemen energi, maka tingkat partisipasi karyawan pun meningkat," kata Lisa dalam keterangan pers dikutip, Rabu, 13 Mei 2026.
Fenomena produktivitas kerja di Indonesia juga menjadi perhatian. Survei menunjukkan tingkat kondisi ketika karyawan hadir bekerja tetapi tidak sepenuhnya fokus mencapai sekitar 41,2 persen, jauh lebih tinggi dibanding absenteeism yang berada di angka 7,69 persen.
Great Place To Work (GPTW) ASEAN & ANZ bersama majalah Fortune merilis daftar Fortune 100 Best Companies to Work For Asia Tenggara edisi perdana. Dokumentasi/ istimewa.
Menurut Lisa, pendekatan budaya menjadi faktor penting dalam membangun program kesejahteraan di Asia Tenggara. Banyak karyawan lebih nyaman mengikuti program yang dikaitkan dengan peningkatan performa dibanding yang memberi kesan mereka tidak mampu menghadapi tekanan kerja.
Dia menyebut jika perusahaan menghadirkan forum town hall terbuka, platform khusus wellness, dan berbagai aktivitas lintas fungsi untuk menjaga kekompakan selama proses restrukturisasi berlangsung.
"Kami menempatkan karyawan sebagai pusat bisnis. Investasi untuk kesejahteraan disesuaikan dengan kebutuhan mereka dan dampaknya kami pantau secara berkala terhadap performa bisnis dan stabilitas SDM," tambah Lisa.
Managing Director Great Place To Work® ASEAN dan ANZ, Evelyn Kwek, menilai perusahaan yang berhasil masuk daftar Best Workplaces™ bukan sekadar perusahaan dengan anggaran kesejahteraan terbesar, tetapi yang mampu membangun rasa aman secara psikologis bagi karyawannya.
"Program kesejahteraan yang mahal sekalipun justru tidak akan efektif jika karyawan tidak merasa aman untuk menggunakannya. Data kami menunjukkan bahwa kuncinya ada pada membangun budaya yang terbuka. Kuncinya ada pada pemimpin yang benar-benar mendengarkan," ungkap Kwek.
Pemeringkatan ini juga menjadi pengingat bahwa investasi terhadap kesejahteraan karyawan bukan hanya berdampak pada kenyamanan bekerja, tetapi turut memperkuat stabilitas perusahaan dan keberlanjutan bisnis di masa depan.




