Pipikoro di Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah, adalah salah satu kecamatan yang desa-desa dan perkampungannya menyebar di daerah terpencil. Di wilayah ini, listrik yang menyala sepanjang hari dan jalan aspal adalah barang mewah. Sebagian desa-desa serupa ada di Kecamatan Kulawi.
Salah satu desa yang terpencil di Pipikoro adalah Banasu. Di peta Sulawesi, letaknya hampir di tengah-tengah, berbatasan dengan Kecamatan Seko di Sulawesi Selatan. Dari Banasu, tersisa tiga desa untuk sampai di Seko.
Perjalanan menuju ke Desa Banasu pada Selasa (5/5/2026) tak bisa disebut mudah. Dari Palu, ibu kota Sulawesi Tengah, perjalanan diawali dengan kendaraan roda empat menuju Desa Gimpu, Kulawi Selatan. Butuh waktu lebih dari tiga jam menuntaskan jarak hampir 100 kilometer.
Dari Gimpu, perjalanan dilanjutkan menggunakan kendaraan roda dua. Di desa inilah jasa ojek biasanya tersedia. Jarak Gimpu ke Banasu sekitar 35 kilometer. Namun, dengan jalan berbatu, tanah, melintasi hutan, kebun, dan sungai-sungai besar dengan jembatan gantung di atasnya, waktu tempuh menjadi lebih dari empat jam.
Dengan kondisi seperti itu, menandu orang sakit hingga puluhan kilometer melewati hutan, jalan berbatu, dan sisi tebing adalah hal yang biasa. Bahkan, warga yang meninggal di Palu, misalnya, harus dibonceng dari Gimpu ke desa-desa di Pipikoro.
”Baru dua minggu lalu ada warga Kalamanta yang meninggal. Jenazahnya dibonceng pakai sepeda motor. Bagian belakang sepeda motor diberi papan seperti kursi dan jenazah didudukkan dan diikat di situ,” kata Marthen Luter, warga Banasu.
Kalamanta adalah desa paling ujung di Pipikoro yang berbatasan dengan Seko. Jaraknya dari Gimpu, lebih jauh lagi, yakni sekitar 60 kilometer. Bayangkan, jenazah dibonceng dengan sepeda motor sejauh itu.
Novriyanti, seorang bidan Desa Banasu, bercerita betapa kondisi akses jalan yang buruk ini beberapa kali membuat dia dan rekan-rekannya terpaksa menolong kelahiran di tengah hutan. Di Banasu terdapat sebuah puskesmas dengan tiga tenaga bidan dan seorang dokter. Namun, letak perkampungan yang jauh membuat warga kerap sulit mengakses puskesmas.
”Biasanya kami yang datang ke rumah warga. Beberapa kali pasien yang harus kami rujuk ke Palu terpaksa ditandu. Pernah ada pasien yang ditandu sejak malam hingga pagi hari. Sering pula saya terpaksa menolong kelahiran pasien di tengah hutan,” katanya.
Dia bahkan tak pernah lupa seorang pasien dalam kondisi parah dan harus dirujuk, tetapi janinnya akhirnya meninggal dalam kandungan. ”Kami berusaha mengeluarkan bayi tersebut dan menyelamatkan ibunya,” katanya.
Tak heran angka kelahiran di Banasu cukup rendah. Dalam beberapa tahun terakhir, jumlah keluarga tak sampai 200 dengan jumlah jiwa sekitar 500 orang. Banyak yang trauma melahirkan.
Banasu dan desa-desa lain di Pipikoro sesungguhnya kaya akan sumber daya alam. Padi ladang, jagung, kakao, kopi, hingga durian cukup melimpah. Namun, potensi ini hanya dikelola seadanya.
”Hasilnya berlimpah pun sulit dipasarkan. Biayanya besar. Diproduksi dalam bentuk lain juga tidak memungkinkan. Di sini listrik tidak tersedia 24 jam,” kata Edwin Kudjere, Kepala Desa Banasu.
Listrik, yang menerangi rumah penduduk mulai malam hingga menjelang pagi hari, hanya mengandalkan pembangkit tenaga mikrohidro. Dayanya hanya cukup menyalakan beberapa lampu bercahaya redup. Peralatan elektronik lainnya menjadi mustahil.
Ketimpangan dan kekayaan seperti dua sisi mata uang dan menjadi wajah Banasu atau desa-desa lainnya di Pipikoro.





