Dikutip dari Investing Pada pukul 12.15 WIB, nilai tukar rupiah tercatat di level Rp17.517,9, melemah sekitar 71,9 poin atau 0,41%.
Baca juga: Dolar AS Ngegas, Rupiah Tembus Rp17.533 Gara-Gara Sentimen The Fed
Pergerakan ini terjadi di tengah kondisi pasar yang cenderung risk-off, di mana investor lebih memilih aset aman seperti dolar AS di tengah ketidakpastian global.
Sejumlah mata uang kawasan juga ikut bergerak naik terhadap rupiah dalam sesi perdagangan hari ini.
Yuan China berada di level Rp2.581,22 per yuan dengan naik sekitar 0,18%. Ringgit Malaysia tercatat di Rp4.458,63 per ringgit, sementara yen Jepang bergerak di Rp110,94 dengan kenaikan 0,11%. Baht Thailand juga naik tipis ke level Rp541,513.
Di sisi lain, euro relatif stabil di kisaran Rp20.486 tanpa perubahan berarti pada perdagangan hari ini.
Indeks dolar AS (DXY) justru tercatat sedikit melemah 0,03% ke level 98,397. Namun emas dunia XAU/USD justru naik 0,22 persen ke level USD4.699.
Namun, pelemahan indeks ini tidak serta-merta mendorong penguatan mata uang emerging market, termasuk rupiah, yang masih tertekan oleh arus modal keluar dan sentimen hati-hati investor.
Pelaku pasar juga masih mencermati perkembangan geopolitik global, termasuk dinamika hubungan Amerika Serikat dan China menjelang pertemuan tingkat tinggi antara Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping, yang dinilai dapat memengaruhi volatilitas pasar keuangan Asia.
Inflasi AS dan Ekspektasi Suku Bunga The Fed Dari sisi fundamental, tekanan terhadap pasar juga dipengaruhi data inflasi produsen Amerika Serikat.Biro Statistik Tenaga Kerja AS mencatat Indeks Harga Produsen (PPI) utama pada April naik 1,4% secara bulanan (mtm), menjadi kenaikan terbesar sejak Maret 2022.
Secara tahunan (yoy), PPI melonjak 6%, tertinggi sejak Desember 2022. Capaian ini lebih tinggi dibandingkan ekspektasi pasar yang memperkirakan kenaikan 0,5% mtm dan 4,9% yoy.
Data tersebut memperkuat indikasi tekanan inflasi masih persisten, terutama akibat kenaikan harga energi yang dipicu konflik di Timur Tengah. Lonjakan biaya energi turut mendorong kenaikan biaya produksi secara luas di sektor industri.
Dengan tekanan inflasi yang masih tinggi, pasar memperkirakan bank sentral AS, Federal Reserve, akan tetap mempertahankan suku bunga pada level saat ini dalam waktu dekat.
Ekspektasi pelaku pasar terhadap arah kebijakan moneter juga menunjukkan bahwa kemungkinan penurunan suku bunga masih tertunda, sejalan dengan data ekonomi terbaru. Hal ini tercermin dalam indikator CME FedWatch yang menunjukkan pasar masih berhati-hati terhadap potensi pelonggaran kebijakan dalam waktu dekat.
Secara keseluruhan, kombinasi penguatan dolar AS, tekanan inflasi global, serta ketidakpastian geopolitik membuat rupiah dan mata uang Asia lainnya masih berada dalam tekanan jangka pendek.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(SAW)





