Ekonomi RI Diperkirakan Masih Hadapi Tekanan dari Tingginya Harga Energi Global

idxchannel.com
10 jam lalu
Cover Berita

Ekonomi Indonesia menunjukkan daya tahan kuat dengan pertumbuhan sebesar 5,6 persen secara tahunan (year-on-year/yoy) pada kuartal pertama 2026.

Ekonomi RI Diperkirakan Masih Hadapi Tekanan dari Tingginya Harga Energi Global (FOTO:iNews Media Group)

IDXChannel - Di tengah eskalasi geopolitik global dan fluktuasi harga energi, ekonomi Indonesia menunjukkan daya tahan kuat dengan pertumbuhan sebesar 5,6 persen secara tahunan (year-on-year/yoy) pada kuartal pertama 2026. 

Angka ini membuktikan pertumbuhan tercepat sejak kuartal ketiga 2022. DBS Group Research menilai fundamental ekonomi Indonesia pada awal tahun masih sangat solid, meski tantangan volatilitas global pada semester kedua 2026 tetap perlu diantisipasi secara hati-hati.

Baca Juga:
Semeru Erupsi, Muntahkan Abu Vulkanik Setinggi 600 Meter dari Atas Puncak

Senior Economist DBS Bank Radhika Rao menuturkan, Indonesia memulai 2026 dengan fondasi ekonomi yang positif, namun risiko eksternal membuat proyeksi pertumbuhan tahunan perlu disesuaikan. 

“Indonesia memasuki 2026 dengan percaya diri didukung fundamental yang kuat. Namun, proyeksi pertumbuhan setahun penuh tetap perlu disesuaikan menjadi 5,1 persen (dari sebelumnya 5,3 persen) guna mengantisipasi risiko kenaikan harga energi global dan tekanan pada nilai tukar Rupiah,” ujar Radhika dalam risetnya Kamis (14/5/2026).

Baca Juga:
Kunjungan Trump ke China Berisiko Tinggi, Bagaimana Nasib Harga Minyak?

DBS Research menilai kuartal pertama 2026 kemungkinan menjadi titik tertinggi pertumbuhan ekonomi tahun ini. Ke depan, aktivitas ekonomi juga diperkirakan menghadapi tekanan dari tingginya harga energi global, volatilitas pasar keuangan, serta kebutuhan menjaga disiplin fiskal nasional.

"Stabilitas makroekonomi menjadi fondasi utama dalam menjaga ketahanan ekonomi Indonesia di tengah dinamika global saat ini," tuturnya.

Baca Juga:
Indonesia Salah Satu Pasar Energi Penting di Asia Tenggara

Dari sisi pengambil kebijakan, pemerintah diperkirakan tetap berupaya menjaga defisit fiskal di bawah 3 persen terhadap PDB melalui pengendalian belanja, efisiensi program prioritas, serta optimalisasi penerimaan negara.

Selain itu, implementasi kebijakan yang konsisten, termasuk pelaksanaan Undang-Undang Cipta Kerja dan harmonisasi regulasi pusat-daerah, dinilai penting untuk menciptakan kepastian usaha dan meningkatkan kepercayaan investor.

Baca Juga:
Usai Rebalancing MSCI, OJK dan BEI Fokus Perkuat Reformasi dan Transparansi Pasar

Dia melanjutkan, menjaga stabilitas makroekonomi tetap menjadi faktor kunci dalam menopang pertumbuhan nasional, terutama melalui pengendalian inflasi dan disiplin fiskal yang konsisten.

Namun, kepastian dan konsistensi regulasi yang didukung komunikasi kebijakan akan menjadi faktor penting dalam menjaga sentimen pasar dan meningkatkan daya tarik investasi. 

Baca Juga:
Wall Street Ditutup Beragam, Nasdaq Naik 1,2 Persen dan Dow Jones Turun

(kunthi fahmar sandy)


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
IHSG Sepekan Turun 3,53% ke 6.723, Kapitalisasi Pasar Bursa Menguap Rp581 Triliun
• 17 jam lalubisnis.com
thumb
Ini Tips Debat dan Public Speaking Ala Wapres Gibran untuk Josepha Alexandra Jelang Final Ulang Cerdas Cermat MPR
• 10 jam lalutvonenews.com
thumb
Ganjil Genap Jakarta Ditiadakan Selama Libur Kenaikan Yesus Kristus
• 21 jam laluwartaekonomi.co.id
thumb
PMI Kota Jakarta Barat Buka Rekrutmen Driver, Perawat, dan Crew: Ini Persyaratannya
• 7 jam lalukompas.tv
thumb
Indonesia Ekspor Pupuk ke Australia, Amran: Harga Pupuk Dalam Negeri Turun 20 Persen
• 2 jam lalusuarasurabaya.net
Berhasil disimpan.