Hilirisasi Nikel dan Ekosistem EV Diproyeksi Jadi Motor Pertumbuhan Jangka Panjang RI

idxchannel.com
10 jam lalu
Cover Berita

DBS Research menilai sektor-sektor berbasis nilai tambah tetap menjadi daya tarik utama investasi Indonesia di tengah ketidakpastian global.

Hilirisasi Nikel dan Ekosistem EV Diproyeksi Jadi Motor Pertumbuhan Jangka Panjang RI. Foto: iNews Media Group.

IDXChannel - DBS Research menilai sektor-sektor berbasis nilai tambah tetap menjadi daya tarik utama investasi Indonesia di tengah ketidakpastian global. Terutama, ekosistem kendaraan listrik (EV), hilirisasi nikel, energi terbarukan, dan pembangunan infrastruktur.

Head of Research Indonesia, DBS Group Research, 

Baca Juga:
Pemberi Suap ke Ketua Ombudsman Jadi Tersangka Baru Kasus Tipikor Nikel, Langsung Ditahan

William Simadiputra, menilai konsistensi arah kebijakan akan menjadi faktor penting dalam menjaga minat investor asing.

“Sektor EV ecosystem, pengolahan nikel, energi terbarukan, dan infrastruktur tetap menjadi pilar kekuatan pertumbuhan. Konsistensi kebijakan hilirisasi akan menjadi magnet utama bagi investor asing di tengah ketidakpastian yang terjadi,” kata William dalam keterangan tertulis, Kamis (14/5/2026).

Baca Juga:
Bahlil Cerita Asal Mula Wacana Pungutan Ekspor Nikel, Pengusaha Setengah Hati Bangun Hilirisasi

DBS Research juga mencatat bahwa kredit investasi masih tumbuh positif, terutama di sektor konstruksi, pertambangan, dan agrikultur. Hal ini menunjukkan minat investasi domestik masih relatif terjaga meski pasar keuangan global bergejolak.

Baca Juga:
Purbaya Usahakan Bea Keluar Batu Bara dan Nikel Berlaku Juni 2026

Namun, DBS Research menilai ketegangan geopolitik di Timur Tengah akan menjadi salah satu faktor yang paling memengaruhi prospek ekonomi global dan Indonesia. Risiko gangguan distribusi energi global dinilai dapat memicu lonjakan harga minyak dan meningkatkan tekanan inflasi domestik.

Dalam skenario dasar, harga minyak diperkirakan berada di kisaran USD80–85 per barel. Namun dalam skenario ekstrem, gangguan distribusi global berpotensi mendorong harga minyak melonjak hingga USD100–150 per barel. 

Selain harga energi, pelemahan nilai tukar rupiah, kenaikan harga produsen (PPI), dan risiko cuaca akibat El Nino juga menjadi faktor yang dapat meningkatkan tekanan harga dalam beberapa kuartal mendatang.

“DBS Research juga menilai Bank Indonesia akan semakin fokus menjaga stabilitas nilai tukar dan likuiditas pasar di tengah meningkatnya tekanan eksternal. Meski suku bunga acuan masih dipertahankan, arah kebijakan moneter dinilai cenderung lebih hawkish,” kata William.

(NIA DEVIYANA)


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Perkuat Dekarbonisasi Nasional, PGEO Bisa Hemat Energi 90.502 MWh Sepanjang 2025
• 19 jam lalumedcom.id
thumb
Harga Tembaga Melemah, Permintaan China Mulai Tertekan
• 3 jam laluidxchannel.com
thumb
Kunjungi Kandang AC Milan di Italia, Pemprov DKI Belajar Cara Kelola Rumput untuk JIS
• 20 jam lalutvonenews.com
thumb
Agen Ungkap Jadwal Megawati Hangestri Terbang ke Korea Selatan untuk Gabung Hyundai E&C Hillstate
• 20 jam lalutvonenews.com
thumb
Heboh Kasus Deepfake Vulgar Mahasiswi di Kalbar, Pelaku Diproses Kampus
• 6 jam laludetik.com
Berhasil disimpan.