BI Siapkan Langkah Stabilkan Rupiah Setelah Nilai Tukar Tembus Rp17.500

eranasional.com
9 jam lalu
Cover Berita

Jakarta, ERANASIONAL.COM –  Bank Indonesia (BI) mengungkap penyebab utama pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) yang sempat menyentuh level di atas Rp17.500 per dolar AS pada perdagangan Rabu (13/5/2026). Menurut bank sentral, tekanan terhadap rupiah saat ini lebih banyak dipengaruhi kondisi global, terutama meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah dan penguatan dolar AS di pasar internasional.

Pada perdagangan pagi hari, rupiah sempat dibuka di level Rp17.541 per dolar AS sebelum akhirnya ditutup menguat tipis di kisaran Rp17.474 per dolar AS. Meski sempat mengalami penguatan pada sesi akhir perdagangan, posisi tersebut tetap menunjukkan tekanan besar terhadap mata uang domestik dibanding beberapa bulan terakhir.

Kepala Departemen Komunikasi Bank Indonesia Ramdan Denny Prakoso menjelaskan pelemahan rupiah tidak hanya dialami Indonesia, melainkan juga terjadi pada banyak mata uang negara berkembang atau emerging markets lainnya. Menurut dia, kondisi tersebut dipicu eskalasi konflik geopolitik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran yang memicu ketidakpastian pasar global.

“Nah, faktor global, dinamika global ini yang membuat mayoritas mata uang di dunia itu juga melemah, tidak hanya rupiah,” ujar Ramdan saat ditemui wartawan di kompleks perkantoran BI, Jakarta, Rabu (13/5/2026).

Ia menyebut mata uang sejumlah negara lain seperti peso Filipina, baht Thailand, rupee India, won Korea Selatan, hingga mata uang negara-negara Amerika Selatan juga mengalami tekanan akibat situasi global yang tidak menentu.

Menurut Ramdan, konflik geopolitik di Timur Tengah membuat investor global cenderung mencari aset yang dianggap aman atau safe haven, salah satunya dolar AS. Akibatnya, permintaan terhadap dolar meningkat tajam dan menyebabkan mata uang negara berkembang mengalami tekanan.

Selain itu, lonjakan harga minyak dunia juga ikut memperburuk kondisi pasar keuangan global. BI mencatat harga minyak mengalami kenaikan lebih dari 40 persen sejak konflik memanas. Kondisi tersebut memicu kekhawatiran terhadap inflasi global dan memperbesar tekanan terhadap negara-negara pengimpor energi, termasuk Indonesia.

Tidak hanya harga minyak, meningkatnya tensi geopolitik juga mendorong kenaikan imbal hasil surat utang pemerintah Amerika Serikat atau US Treasury tenor 10 tahun hingga mendekati level 4,5 persen. Angka itu meningkat sekitar 0,5 persen dibanding posisi akhir Februari lalu yang berada di kisaran 4 persen.

Kenaikan imbal hasil obligasi AS membuat arus modal global cenderung kembali masuk ke pasar keuangan Amerika Serikat. Investor asing dinilai lebih tertarik menempatkan dana di aset dolar karena menawarkan imbal hasil tinggi dengan risiko lebih rendah.

Situasi tersebut menyebabkan tekanan terhadap mata uang negara berkembang semakin besar karena terjadi aliran keluar modal asing dari pasar domestik menuju aset berbasis dolar AS.

Ramdan menjelaskan kondisi global saat ini juga diperumit oleh faktor musiman yang meningkatkan permintaan dolar di dalam negeri. Menurut dia, kebutuhan valuta asing masyarakat dan korporasi saat ini sedang meningkat karena beberapa faktor sekaligus.

“Permintaan terhadap dolar meningkat karena musim haji, repatriasi dividen korporasi, serta pembayaran utang luar negeri,” kata dia.

Musim haji biasanya memang meningkatkan kebutuhan dolar AS maupun mata uang asing lain untuk kebutuhan perjalanan jamaah Indonesia ke Arab Saudi. Di saat bersamaan, sejumlah perusahaan juga mulai melakukan repatriasi dividen dan pembayaran kewajiban utang luar negeri sehingga kebutuhan terhadap dolar meningkat di pasar domestik.

Meski demikian, Bank Indonesia menegaskan kondisi fundamental ekonomi Indonesia masih relatif kuat dibandingkan banyak negara lain. BI meyakini tekanan terhadap rupiah bersifat sementara dan akan mereda seiring stabilisasi kondisi global.

“Karena kami meyakini fundamental ekonomi Indonesia itu sangat baik dibandingkan negara-negara lain,” ujar Ramdan.

Ia mengatakan BI telah menyiapkan tujuh langkah strategis untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dan memastikan pasar keuangan tetap terkendali. Salah satu langkah utama yang dilakukan adalah intervensi aktif di pasar valuta asing baik di dalam negeri maupun di pasar internasional.

Menurut Ramdan, Bank Indonesia kini tidak hanya aktif menjaga stabilitas rupiah di pasar domestik, tetapi juga memantau pergerakan transaksi rupiah di pasar luar negeri, termasuk pasar Eropa dan Amerika Serikat.

“Begitu pasar Jakarta tutup, kami standby di pasar Eropa. Kami kemudian standby di pasar Amerika untuk menjaga bagaimana pergerakan nilai tukar rupiah yang kalau di luar negeri dipengaruhi transaksi NDF tetap stabil,” jelasnya.

NDF atau Non Deliverable Forward merupakan instrumen transaksi mata uang di pasar luar negeri yang sering memengaruhi pergerakan rupiah secara global. BI menilai pengawasan terhadap pasar NDF penting untuk mengurangi tekanan spekulatif terhadap mata uang domestik.

Selain intervensi pasar, BI juga terus memperkuat koordinasi dengan pemerintah dan otoritas keuangan lainnya guna menjaga stabilitas ekonomi nasional di tengah gejolak global. Langkah tersebut meliputi penguatan likuiditas pasar, stabilisasi pasar obligasi, hingga menjaga daya tarik investasi domestik.

Sejumlah ekonom menilai tekanan terhadap rupiah saat ini memang tidak lepas dari kombinasi faktor global dan domestik. Namun dibandingkan krisis keuangan sebelumnya, kondisi ekonomi Indonesia dinilai masih lebih stabil karena didukung cadangan devisa yang cukup kuat, inflasi yang relatif terkendali, serta pertumbuhan ekonomi yang masih positif.

Bank Indonesia juga memastikan akan terus memantau perkembangan geopolitik dunia dan dampaknya terhadap pasar keuangan nasional. Stabilitas nilai tukar rupiah dinilai menjadi salah satu faktor penting dalam menjaga kepercayaan investor serta mengendalikan inflasi di dalam negeri.

Pelemahan rupiah sendiri berpotensi memengaruhi sejumlah sektor ekonomi, terutama yang berkaitan dengan impor bahan baku, energi, dan pembayaran utang luar negeri. Namun pemerintah dan BI optimistis tekanan tersebut masih dapat dikendalikan melalui berbagai langkah stabilisasi yang telah disiapkan.

Di tengah ketidakpastian global yang terus berlangsung, BI meminta pelaku pasar dan masyarakat tetap tenang serta tidak bereaksi berlebihan terhadap fluktuasi nilai tukar. Bank sentral menegaskan akan terus menjaga stabilitas rupiah agar tetap sejalan dengan kondisi fundamental ekonomi Indonesia.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Tak Terima Siswinya Disalahkan, Rupanya Guru Pendamping SMAN 1 Pontianak Sempat Lakukan Hal ini di LCC MPR RI
• 5 jam lalutvonenews.com
thumb
Halte Transjakarta Kebon Sirih ditutup sementara 15-18 Mei 2026
• 18 jam laluantaranews.com
thumb
Dari Gojek ke Meja Pengadilan: Kisah Nadiem yang Sangat Disayangkan
• 16 jam laluwartaekonomi.co.id
thumb
Penumpang KA di Jember Tembus 54 Ribu Orang saat Libur Panjang
• 21 jam lalumetrotvnews.com
thumb
MPR Hargai Keputusan SMAN 1 Pontianak yang Tolak Ikut Final Ulang Cerdas Cermat
• 18 jam lalukumparan.com
Berhasil disimpan.