Membaca Virus Hanta sebagai Cermin Peradaban

kompas.id
10 jam lalu
Cover Berita

Awal Mei 2026, perhatian dunia tertuju pada virus hanta. Berawal dari laporan yang diterima WHO, sekolompok penumpang kapal pesiar mewah MV Hondius jatuh sakit dengan gejala pernapasan berat. Dalam hitungan hari, kasus di kapal yang berlayar di Samudera Atlantik tersebut dikonfirmasi sebagai virus hanta.

Kasus ini menjadi unik sebab memperkuat kemungkinan penularan dari manusia ke manusia lewat jenis virus andes, strain dari virus hanta. Sebelumnya, virus hanta dikenal sebagai virus zoonosis yang dibawa oleh rodensia atau hewan pengerat seperti tikus.

Penularan umumnya terjadi lewat kontak langsung dengan hewan pengerat yang terinfeksi, baik melalui gigitan, kotoran, uwin, maupun air liurnya. Jenis virus andes ini meningkatkan kewaspadaan internasional sebab menimbulkan kemungkinan kematian hingga 50 persen.

Keparahan varian virus hanta ini menjadi lebih fatal sebab langsung mengganggu fungsi paru-paru dengan gejala Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS). Pada mulanya, dengan penularan umum dari tikus ke manusia, gejala yang ditimbulkan yakni Haemorrhagic Fever with Renal Syndrome (HFRS) dengan serangan utama pada fungsi ginjal dan pembuluh darah.

Pada gejala HFRS, dari kasus yang terinfeksi, tingkat risiko kematian berada pada kisaran 15 persen saja. Ketika risiko kematian meningkat tajam pada gejala HPS, menjadi wajar dunia perlu memberikan perhatian serius pada kasus virus hanta terbaru.

Kasus di Indonesia

Sebelum adanya kasus penularan di kapal persiar MV Hondius, virus hanta sebenarnya telah memiliki sejarah panjang di dunia, termasuk Indonesia. Terbaru, Kementerian Kesehatan mencatat 256 kasus suspek virus hanta pada kurun waktu tahun 2024 hingga Mei 2026. Dari jumlah tersebut, 23 kasus terkonfirmasi positif.

Secara angka kasus positif tampak sedikit, akan tetapi jika ditarik dalam puluhan tahun ke belakang, virus ini terus bergerak secara diam-diam. Kerap kali virus ini bersembunyi dibalik diagnosis leptospirosis yang juga dikenal berasal dari tikus namun lewat bakteri. Sebagian lain, diagnosa berujung pada penyakit demam berdarah.

Kembali pada data Kemenkes, 12 dari 23 kasus positif berasal dari dua kota, yakni Jakarta dan Yogyakarta. Ini menunjukkan virus hanta tidak terjadi di wilayah terpencil. Sebaliknya menjangkiti wilayah urban padat penduduk. Ini pun meningkatkan risiko penularan yang terjadi antarmanusia.

Sebagaimana terjadi di dunia, kasus-kasus yang muncul dengan model penularan dari rodensia tikus ke manusia bergeser menuju wilayah padat penduduk seperti di Amerika Utara (tipe new world).

Artinya, virus hanta yang sudah menjangkiti sebelum manusia menuju dunia modern, tetap membawa ancamannya saat manusia gencar membangun jalan tol dan gedung pencakar langit. Bahkan, risiko ancamannya pun makin tinggi.

Ketika tikus menjadi tetangga

Dalam perspektif antropologi, hubungan antara manusia dengan hewan pengerat bukan hanya persoalan biologis. Relasi antara keduanya menyangkut tatanan ruang dan tatanan sosial. Di hampir setiap kebudayaan tikus selalu menjadi “momok” manusia.

Tikus diburu, ditakuti, dihindari, tetapi selalu ada. Itu sebabnya kehadiran tikus bukan kebetulan ekologis, tetapi konsekuensi dari cara manusia mengelola kehidupannya. Karenanya, dunia mengenal istilah tikus komensal alias yang hidup “bertetangga” dengan manusia.

Jenis tikus ini hidup berdampingan dengan manusia. Mulai dari mendapatkan makanan hingga mencari tempat tinggal, tikus komensal “beradaptasi” dengan cara hidup manusia. Hidupnya tidak di hutan melainkan di kolong dapur, selokan, sela-sela perumahan padat. Dari situ pula ia mendapatkan makanannya.

Dengan kata lain, tikus di kota merupakan produk sampingan dari cara hidup manusia kota pula. Ketika kasus-kasus suspek virus hanta tertinggi menjangkiti kota-kota besar, maka fenomena ini bukan kebetulan. Situasi ini menunjukkan peta ketimpangan antara laju modernisasi yang tidak selaras dengan infrastruktur sanitasi.

Tubuh tikus sebagai arsip

Berbicara tentang sejarah virus hanta, tubuh tikus seakan menjadi arsip sejarah. Virus hanta pertama kali diidentifikasi secara resmi pada tahun 1976. Kala itu, ilmuan Korea Selatan mengisolasi virus ini dari tikus ladang di tepi sungai Hantan. Inilah yang menjadi cikal bakal nama virus hanta.

Namun, dua dekade sebelum nama ini muncul, manusia telah merasakan jangkitannya. Lebih dari tiga ribu tentara AS jatuh sakit dengan gelaja demam sangat tinggi selama Perang Korea (1951—1954).

Kemungkinan virus hanta lainya pun terjadi sebelumnya. Dalam sejumlah tradisi masyarakat agraris Asia Tenggara, terdapat cerita tentang demam berulang setiap selesai musim panen. Demam kerap menjangkiti juga mereka yang membuka lumbung pangan yang lama tidak dibuka. Penyakit ini ditengarai virus hanta sebab muncul saat tikus sedang “berpesta”.

Di Indonesia, virus ini pun bukan pendatang baru. Bukti serologis tahun 1980-an menunjukkan, kendati dengan penelitian sangat terbatas, virus hanta mulai terdeteksi pada populasi tikus dan sampel manusia terutama di wilayah urban padat.

Barulah pada 2012, peneliti Indonesia menemukan strain baru di Serang, Banten yang dinamai Serang virus (SERV). Ini sekaligus menjadi bukti kemunculan evolusi lokal virus hanta di Indonesia. Sejumlah riset terus dilakukan dengan temuan galur virus hanta pada tikus komensal di kota-kota besar di Indonesia.

Sayangnya, kesadaran klinis cenderung rendah. Kendati begitu, Kementerian Kesehatan sejak tahun 2024 terus memperkuat survelians nasional terhadap kasus suspek virus hanta setelah terjadi peningkatan laporan gejala mirip HFRS maupun HPS di sejumlah daerah. Ini pula yang membuat sejumlah kasus terkonfirmasi dilaporkan lebih sistematis lewat dashboard zoonosis nasional.

Ruang, kelas, dan risiko

Dengan seluruh cerita tentang virus hanta di dunia, pertanyaannya kini, siapa yang paling berisiko terinfeksi? Jawabannya menjadi tidak netral secara sosial.

Ketika penularan terjadi lewat kontak langsung dengan tikus, yang paling rentan adalah mereka yang hidup dan bekerja di ruang-ruang dengan populasi tikus tinggi. Di kota, risiko ini membayangi penghuni permukiman padat, petugas kebersihan, serta kelompok-kelompok marjinal perkotaan lain yang terpaksa hidup berdampingan dengan sanitasi tidak memadai.

Situasi ini menjadi kisah laten dari apa yang disebut kerentanan sosial struktural (structural vulnerability). Kerentanan tidak lahir dari “nasib buruk” individual, melainkan karena posisi seseorang dalam struktur sosial-ekonomi yang tidak bisa dipilih secara merdeka.

Namun, kasus wabah MV Hondius pun mencerminkan ironi. Virus yang kerap diasosiasikan dengan kemiskinan perkotaan dan permukiman kumuh tiba-tiba menjangkiti kapal pesiar mewah. Dengan kata lain, pada puncak evolusinya, ancaman virus hanta tidak mengenal kelas sosial.

Akhirnya, virus hanta kembali mengingatkan manusia dalam hubungannya dengan lingkungan. Tikus hadir karena manusia memberi ruang. Sepanjang kota terus menghasilkan sampah lebih cepat dari kemampuan mengelolanya, selama infrastruktur sanitasi tak memadai, tikus akan terus berevolusi berserta virus yang dibawanya.

Di titik ini, masihkah manusia akan terus memojokkan tikus sebagai biang keladi penyakit-penyakitnya? (LITBANG KOMPAS)

Baca JugaBagaimana Perkembangan Penyebaran Virus Hanta?


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Xi Jinping Tawarkan Bantuan ke Trump, Bujuk Iran Soal Hormuz? Ini Sorotan Pakar HI dan Pengamat
• 4 jam lalukompas.tv
thumb
Yusril Bicara Soal Pembubaran Nobar Film Pesta Babi: Bukan Arahan Pemerintah
• 19 jam lalukatadata.co.id
thumb
Mafirion Kecam Tragedi Kapal PMI Ilegal Tenggelam di Malaysia, Desak Investigasi Menyeluruh
• 10 jam lalupantau.com
thumb
BNN Tangkap 7 Orang, Sita Rp 187 Juta di Kampung Narkoba Labura Sumut
• 23 jam laludetik.com
thumb
SMAN 1 Pontianak Tegas Tolak Lomba Ulang LCC 4 Pilar MPR, Hormati Hasil dan Dukung SMAN 1 Sambas ke Nasional
• 23 jam lalutvonenews.com
Berhasil disimpan.