Grid.ID - Kronologi balita diculik oleh teman dari ibu korban gegerkan publik. Hal itu bahkan membuat korban sempat trauma.
Usut punya usut, korban sendiri adalah balita laki-laki berusia 17 bulan. Dan pelaku berinsial GH (53).
Kronologi Balita Diculik Teman si Ibu, Korban Sempat Trauma dan Tantrum
Dilansir dari Suryamalang.com, kejadian rupanya bermula dari ibu korban yang berinisial IR menitipkan putranya B yang masih balita ke temannya. Yakni GH.
Hal itu dilakukan ibu korban karena ia harus bekerja di malam harinya. Namun usai empat hari berselang, tepatnya pada Selasa (5/5/2026), GH membawa B pulang kampung ke Tulang Bawang, Provinsi Lampung, Sumatera.
Hal itu dilakukan GH tanpa meminta izin ke ibu kandung korban. Alhasil, IR langsung melapor ke Polres Tulungagung yang kemudian berkoordinasi dengan Polres Serang Polda Banten.
Saat jadi buron, GH berhasil diketahui keberadaannya saat akan menyeberang ke Pelabuhan Merak.
Tim Polres Tulungagung bersama UPT PPA kemudian mengajak IR untuk menjemput B ke Serang.
GH juga akhirnya ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus itu. Namun di sisi lain, pelaku membantah dirinya menculik B.
Pasalnya, GH mengakU membawa balita tersebut pulang kampung karena anaknya akan melahirkan.
GH mengaku tidak mau meninggalkan B karena anak berusia 17 bulan tersebut tanpa ada yang mengasuh.
Sementara terkait kasus kronologi balita diculik oleh teman dari ibu korban, sang balita beserta ibunya, IR (34), tiba di Polres Tulungagung pada Jumat (8/5/2026) pukul 05.45 WIB dengan pendampingan petugas UPT PPA.
Kepala Unit Pelaksana Teknis Perlindungan Perempuan dan Anak (UPT PPA) Kabupaten Tulungagung, Dwi Yanuarti, mengungkapkan korban juga sempat mengalami trauma saat dijemput. Serta sempat tantrum saat akan diajak masuk ke mobil, sehingga memerlukan pendekatan khusus.
Namun untungnya usaha para petugas berhasil membuat korban kembali ceria.
“Anaknya kembali ceria, kondisinya sangat baik. Sama petugas kami juga sangat dekat seolah tak mau lepas,” ungkap Dwi dikutip dari TribunJatim.
“Kami sering berhenti di rest area mengajak dia bermain untuk memastikan dia nyaman. Kami tidak memburu waktu tapi mengabaikan psikologi anak,” tandasnya. (*)
Artikel Asli




