Rupiah Melemah ke Rp 17.604, Pemerintah Sebut Utang RI Hampir Rp 10.000 Triliun Masih Aman

viva.co.id
6 jam lalu
Cover Berita

Jakarta, VIVA – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) diprediksi masih akan bergerak fluktuatif, namun ditutup melemah pada perdagangan hari ini.

Berdasarkan data Jakarta Interbank Spot Dollar Rate atau Jisdor BI, kurs rupiah terhadap dolar Amerika Serikat berada di level Rp 17.496 pada Rabu, 13 Mei 2026. Posisi rupiah itu menguat 18 poin dari kurs sebelumnya di level Rp 17.514 pada perdagangan Selasa, 12 Mei 2026.

Baca Juga :
6 Strategi Investasi Dolar AS untuk Pemula, Cara Mudah Mulai Investasi Mata Uang Asing
Bakal Ada KPR yang Tenornya hingga 40 Tahun

Sementara perdagangan di pasar spot pada Jumat 15 Mei 2026 hingga pukul 09.00 WIB rupiah ditransaksikan di Rp 17.604 per dolar AS. Posisi itu melemah 75 poin atau 0,43 persen dari posisi sebelumnya di level Rp 17.529 per dolar AS.

Ilustrasi mata uang Rupiah.
Photo :
  • Pixabay/IqbalStock

Pengamat ekonomi dan pasar uang, Ibrahim Assuaibi mengatakan, pemerintah melalui Menteri Keuangan mengaku posisi utang pemerintah yang hampir menyentuh angka Rp 10.000 triliun atau tepatnya Rp 9.920,42 triliun sampai akhir Maret 2026 masih aman. Sejatinya jumlah utang pemerintah tersebut naik sebesar Rp 282,52 triliun dibandingkan posisi akhir Desember 2025 yang sebesar Rp 9.637,90 triliun.

Dilihat dari rasio utang terhadap Produk Domestik Bruto (PDB), jumlah itu masih di posisi 40,75 persen atau di bawah batas aman Undang-Undang Keuangan Negara yang sebesar 60 persen PDB. Rasio utang Indonesia masih lebih rendah dibandingkan negara lain, karena pemerintah dalam hal ini mengelola utang secara cermat dan terukur. Menurutnya, utang Singapura di level 180 persen terhadap PDB, Malaysia lebih dari 60 persen dari PDB.

Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) Kementerian Keuangan mencatat,.posisi utang pemerintah mencapai Rp 9.920,42 triliun per 31 Maret 2026. Angka ini naik 2,9 persen dari level Rp 9.637,99 triliun pada Desember 2025. 

Posisi utang pemerintah sampai akhir kuartal I-2026 itu setara dengan 40,75 persen terhadap PDB. Dari total tersebut, mayoritas utang masih berasal dari penerbitan Surat Berharga Negara (SBN) yang mencapai Rp 8.652,89 triliun atau sekitar 87,22 persen dari total utang pemerintah.

Sementara itu, meski Kamis-Jumat cuti bersama, Bank Indonesia terus melakukan intervensi di pasar off-shore (Non Deliverable Forward/ NDF), guna stabilisasi nilai tukar rupiah dari tingginya tekanan global. Intervensi di pasar off-shore dilakukan BI secara berkesinambungan di pasar New York AS, Asia, dan Eropa. 

Baca Juga :
Imbau Masyarakat Tak Panik Soal Rupiah Anjlok, Purbaya: Kita Enggak Akan Sejelek '98
Bantah Bahas Subsidi, Purbaya Sebut Pembahasan dengan Bahlil Fokus Soal PNBP Migas
Kurs Rupiah Tertekan, Industri Otomotif Mulai Waspada

Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Awalnya Koar-koar Dihamili Bupati R Hingga Ridwan Kamil, Ayu Aulia Sekarang Ngaku Ngelantur dan Cuma Halu!
• 11 jam laluviva.co.id
thumb
Kapolda Metro Irjen Asep Naik Pangkat Jadi Komjen
• 23 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Momen Akrab Pertemuan Trump dan Xi Jinping, Sepakat Selat Hormuz Harus Tetap Terbuka
• 20 jam laluidxchannel.com
thumb
Nekat Ambil Dokumen Pembunuhan JFK, Anggota Parlemen AS: Kembalikan atau Saya Seret CIA ke Sidang
• 4 jam lalurepublika.co.id
thumb
Tak Ada Angin Tak Ada Hujan, Media Malaysia Tiba-tiba Sebut Mees Hilgers Bisa Pindah ke Klub yang Pernah Kena Comeback Persib di ACL 2
• 22 jam lalutvonenews.com
Berhasil disimpan.