CELEBESMEDIA.ID, Makassar – Putaran ketiga perundingan mediasi Amerika Serikat (AS) antara Israel dan Lebanon berakhir pada Kamis (14/5) di Departemen Luar Negeri AS. Meski berlangsung intensif, negosiasi dijadwalkan kembali berlanjut pada Jumat (15/5) guna mencari titik temu di tengah eskalasi konflik yang terus memanas.
Seorang pejabat senior Departemen Luar Negeri AS memberikan sinyal positif atas pertemuan yang berlangsung selama delapan jam tersebut.
“Kami menjalani satu hari penuh pembicaraan yang produktif dan positif, berlangsung dari pukul 09.00 hingga 17.00. Kami menantikan kelanjutan pembicaraan besok dan berharap dapat menyampaikan perkembangan lebih lanjut,” ujar pejabat tersebut kepada Anadolu.
Perundingan ini dihadiri oleh jajaran pejabat tinggi dari ketiga negara:
Amerika Serikat: Diwakili Penasihat Deplu Michael Needham, Dubes untuk Israel Mike Huckabee, dan Dubes untuk Lebanon Michel Issa.
Lebanon: Diutus Dubes Nada Hamadeh Moawad dan utusan khusus presiden Simon Karam.
Israel: Menghadirkan Dubes Yechiel Leiter, Wakil Penasihat Keamanan Nasional Yossi Draznin, serta jajaran pejabat militer senior.
Ironisnya, diplomasi di Washington berlangsung bersamaan dengan rentetan serangan udara Israel yang melanggar batas gencatan senjata (berlaku hingga 17 Mei).
Laporan National News Agency (NNA) menyebutkan serangan Israel di kota Srifa, Lebanon selatan, telah menewaskan dua orang pada Kamis pagi.
Serangan pesawat nirawak (drone) juga dilaporkan melukai warga di Nabatieh, sementara jet tempur Israel menyasar wilayah Bekaa Barat, termasuk kota Ain al-Tineh dan Sohmor. Hingga saat ini, belum ada rincian resmi mengenai total korban dari serangan udara terbaru tersebut.
Data pemerintah Lebanon mencatat dampak destruktif sejak agresi meningkat pada 2 Maret lalu. Tercatat korban jiwa 2.896 orang tewas. Korban luka lebih dari 8.824 orang. Sementara pengungsi: 1,6 juta jiwa atau sekitar 20% dari total populasi Lebanon yang terpaksa meninggalkan rumah mereka.
Keberlanjutan perundingan pada Jumat besok menjadi krusial untuk menentukan nasib gencatan senjata yang akan berakhir dalam waktu dekat.
Sumber: Antara/Anadolu




