Kurs rupiah mencatatkan pelemahan signifikan pada perdagangan internasional pagi ini, Jumat (15/5/2026), hingga menembus level psikologis Rp17.600 per USD.
IDXChannel – Nilai tukar rupiah mencatatkan pelemahan signifikan pada perdagangan internasional pagi ini, Jumat (15/5/2026), hingga menembus level psikologis Rp17.600 per USD.
Pelemahan ini terjadi di tengah masa libur panjang domestik, yang dipicu oleh eskalasi ketegangan di Timur Tengah serta prospek kebijakan moneter ketat di Amerika Serikat (AS).
Pengamat Pasar Uang Ibrahim Assuaibi menjelaskan, kombinasi kenaikan harga minyak dunia dan penguatan indeks dolar AS menjadi tekanan ganda bagi mata uang Garuda.
"Dolar menguat cukup tajam, kemudian harga minyak pun juga naik dan berdampak terhadap kelemahan mata uang rupiah. Nah di saat libur ini, ya libur Paskah, ini memang suatu ujian bagi Indonesia," ujar Ibrahim dalam keterangannya, Jumat (15/52026).
Faktor utama yang menekan pasar adalah meningkatnya tensi militer di Selat Hormuz. Latihan perang besar-besaran yang dilakukan Iran serta insiden tenggelamnya kapal kargo di lepas pantai Oman telah memicu kekhawatiran gangguan jalur perdagangan minyak global.
Selain itu, kata dia, sanksi yang dijatuhkan Amerika Serikat terhadap perusahaan-perusahaan yang membantu transportasi minyak Iran semakin memperkeruh situasi. Ketegangan ini diperkirakan akan terus berlanjut seiring dengan kesiapan AS melakukan serangan terbuka di kawasan tersebut.
Dari sisi moneter AS, pasar mulai berekspektasi bahwa bank sentral AS, The Fed, tidak akan menurunkan suku bunga di tahun 2026. Hal ini disebabkan oleh tingginya inflasi dan lonjakan harga bensin di AS.
Kondisi tersebut memaksa indeks dolar tetap berada di posisi kuat, ditambah lagi dengan sentimen perang dagang antara AS dan China.
Meskipun pasar domestik sedang tutup, Bank Indonesia (BI) dilaporkan terus memantau dan melakukan intervensi di pasar internasional guna meredam volatilitas. Ibrahim mencatat adanya pergerakan intervensi yang cukup efektif pada pagi ini.
"Artinya Bank Indonesia benar-benar melakukan intervensi di pasar internasional. Ya mungkin nanti kita akan berbicara berbeda pada saat pembukaan pasar di hari Senin (18/5/2026)," ujar Ibrahim.
Ibrahim memperingatkan adanya beban berat pada anggaran negara akibat tingginya subsidi BBM, mengingat 85 persen dari 1,5 juta barel minyak yang diimpor dialokasikan untuk subsidi. Jika tekanan berlanjut, dia memprediksi rupiah bisa menembus level Rp18.000 bahkan hingga Rp22.000 dalam skenario terburuk.
Sebagai langkah antisipasi, BI diperkirakan akan mengambil kebijakan agresif dalam pertemuan bulan depan.
"Cara satu-satunya ada kemungkinan besar Bank Sentral Indonesia kemungkinan dalam pertemuan di bulan Juni ini akan menaikkan suku bunga. Ya bisa saja 25 basis point sampai 50 basis point. Tujuannya adalah untuk menstabilkan mata uang rupiah," kata dia.
Meski demikian, Ibrahim menekankan fundamental ekonomi Indonesia sejatinya masih cukup solid, didukung oleh kepemilikan domestik yang dominan (90 persen) pada instrumen obligasi negara.
(Dhera Arizona)





