Menelusuri Warisan Pemikiran Franz Magnis-Suseno via Dies Natalis ke-57 STF Driyarkara

bisnis.com
1 jam lalu
Cover Berita

Bisnis.com, JAKARTA — Nama Franz Magnis-Suseno telah lama melekat dalam perkembangan pemikiran etika, demokrasi, dan dialog antaragama di Indonesia. 

Selama lebih dari setengah abad, romo Katolik sekaligus rohaniwan Jesuit kelahiran Jerman itu dikenal sebagai salah satu intelektual publik yang konsisten menyuarakan nilai kemanusiaan dan keberpihakan pada demokrasi melalui ruang akademik maupun forum publik.

Di usianya yang genap 90 tahun pada 2026, Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara (STFD) menempatkan perjalanan dan pemikiran Romo Magnis sebagai refleksi utama dalam perayaan Dies Natalis ke-57.

Perayaan bertema “Magnis untuk Indonesia” itu digelar melalui rangkaian kegiatan akademik, kebudayaan, dan refleksi publik yang berpuncak pada misa syukur di Gereja Katedral Jakarta pada Selasa, (26/5/2026).

“Puncak seluruh rangkaian kegiatan akan berlangsung pada 26 Mei 2026 melalui Perayaan Ekaristi di Katedral Jakarta dan dilanjutkan dengan ramah tamah bersama para alumni, akademisi, tokoh lintas agama, mahasiswa, serta sahabat STF Driyarkara,” ungkap Wakil Ketua III STF Driyarkara Fransiskus Wawan Setyadi, SJ dalam keterangan resmi yang diterima Bisnis, Jumat (15/5/2026).

Dia menjelaskan, Kompleks Gereja Katedral dipilih sebagai tempat Malam Penutup Dies Natalis STFD karena secara simbolis selaras dengan tiga sumbangan pemikiran Magnis. 

Baca Juga

  • Romo Magnis Jadi Ahli di Sidang MK, Singgung Etika Presiden
  • Singgung Etika Ndasmu, Romo Magnis Sebut Politik RI Dalam Situasi Genting
  • Romo Magnis Sentil Bagi-bagi Bansos Jokowi: Itu Pencurian, Langgar Etika!

Pertama, kontribusi Magnis di bidang etika, sosial politik Indonesia. Pemikiran Magnis sebagai filsuf yang banyak merefleksikan etika dan keberadaannya sebagai rohaniwan Katolik Jesuit memberikan nuansa khas bagi keterlibatannya di bidang sosial-politik di Indonesia. 

“Di satu sisi, Dies Natalis meneropong realitas dan tantangan bidang sosial politik di Indonesia hari ini dan di sisi lain, menggali pemikiran Romo Magnis di bidang tersebut melalui filsafat politik dan etika yang dikembangkannya,” jelasnya.

Graha Pemuda di kompleks Katedral menjadi simbol dari pemikiran Magnis di bidang etika dan filsafat politik serta simbol dari keterlibatan beliau di dinamika sosial-politik di 

Indonesia. Graha Pemuda semula bernama Gedung Katholieke Jongelingenbond (Gedung Pemuda Katolik). 

Menurutnya, gedung tersebut turut berperan di dalam proses Sumpah Pemuda karena menjadi tempat sidang pertama Kongres Pemuda II pada 27 Oktober 1928. Graha Pemuda juga menjadi simbol keterlibatan Magnis bagi formasi intelektual filsafat di STFD bagi para pemuda yang menjadi mahasiswa di sekolah tersebut. Magnis juga turut berperan pada pendirian STFD.

“Sampai hari ini, dia masih terlibat aktif di dalam dinamika kampus,” jelas Fransiskus Wawan.  

Kedua, kontribusi Magnis di bidang teologi. Sebagai rohaniwan jesuit, Magnis juga aktif menuliskan refleksi beliau di bidang teologi dan kehidupan menggereja. 

Selain itu, jelasnya, selama bertahun-tahun beliau menjadi pengampu mata kuliah Filsafat Ketuhanan di STFD. Oleh karena itu, Dies Natalis ke-57 STFD menggali kontribusi khas Magnis di bidang teologi dan eklesiologi Gereja Indonesia pasca-Vatikan II.  

“Gereja Katedral menjadi simbol yang tepat bagi kontribusi Magnis di bidang teologi dan eklesiologi.”

Adapun, misa syukur Dies Natalis akan dirayakan di Gereja Katedral Jakarta yang telah berusia 125 tahun, dihitung dari pemberkatannya pada 21 April 1901. Gereja Katedral menjadi saksi panjangnya kehadiran kekatolikan di Indonesia. 

Misa syukur akan dipimpin oleh Kardinal Ignatius Suharyo yang sekaligus adalah Ketua Pembina Yayasan STF Driyarkara didampingi oleh pimpinan ordo OFM, Pastor Agustinus Laurentius Nggame, OFM dan pimpinan ordo Serikat Jesus, Pastor Benedictus Hari Juliawan, SJ. Ketiga lembaga keagamaan Katolik ini, yakni Ordo Serikat Jesus (Jesuit), Ordo OFM (Fransiskan) dan Keuskupan Agung Jakarta lah yang mendirikan STFD 57 tahun yang lalu.  

Kontribusi Magnis Suseno dalam Dialog Antarumat Beragama

Ketiga, sambung Fransiskus Wawan, kontribusi pemikiran Magnis di bidang dialog antarumat beragama. Dies Natalis STFD kali ini menggali pemikiran-pemikiran filosofis Magnis dan keterlibatan aktif dia dalam berbagai forum lintas-agama sebagai sumbangan berarti bagi kemajuan dialog antarumat beragama. 

“Karena itu, Dies Natalis merefleksikan nilai penting dan tantangan dialog antarumat beragama di dalam kehidupan berbangsa dan bernegara di Indonesia,” ungkapnya.

Dia menambahkan, terowongan silaturahmi di kompleks Katedral menjadi simbol penting yang menandai dialog antarumat beragama. Terowongan bawah tanah tersebut menghubungkan Gereja Katedral dan Masjid Istiqlal. 

Pada kunjungan apostoliknya ke Indonesia pada 2025, mendiang Paus Fransiskus telah mengunjungi terowongan ini dan menandatangani plakat pesan Terowongan Silaturahmi. Paus Fransiskus juga bertemu dan berdialog dengan Imam Besar Masjid Istiqlal. Momen historis tersebut semakin memperkuat makna simbolis Terowongan Silaturahmi bagi perayaan Dies Natalis STFD. 

“Perayaan ini menjadi momentum untuk merefleksikan kembali kontribusi Magnis bagi Indonesia, terutama dalam bidang filsafat, etika politik, demokrasi, hubungan antaragama, pendidikan, dan kemanusiaan,” pungkasnya.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Rupiah Makin Loyo, Dolar AS Tembus Rp17.600-an di Pagi Hari
• 5 jam lalumedcom.id
thumb
Cerita Warga Jaktim Nikmati Long Weekend dengan Main Bola di Tebet Eco Park
• 1 jam laludetik.com
thumb
Libur panjang Kenaikan Yesus Kristus, 142 ribu tiket kereta terjual
• 4 jam laluantaranews.com
thumb
Dicoret Klub Brunei Darussalam, Ramadhan Sananta Bela Tim Super League Musim Depan
• 16 jam lalutvonenews.com
thumb
MPR Hormati Putusan SMAN 1 Pontianak Tidak Ikut Final Ulang Lomba Cerdas Cermat 4 Pilar
• 2 jam laluliputan6.com
Berhasil disimpan.