Kenapa, sih orang Sunda suka banget makan aci-acian?
Cireng, cimol, cilok, sampai cibay yang terbaru, ternyata bukan sekadar terbentuk karena selera jajan anak muda di Jawa Barat. Ini ada cerita selengkapnya, lho.
Ya, makanan berbahan dasar aci alias tepung tapioka sudah menjadi comfort food masyarakat Sunda. Bukan hanya karena bahan ini menghasilkan tekstur makanan yang kenyal, kemudian dipadukan dengan bumbu-bumbu gurih, tapi tepung yang terbuat dari singkong itu sudah mengakar pada selera warga Jawa Barat sejak zaman nenek moyang mereka.
Mengutip website Universitas Pasundan, Budayawan Sunda sekaligus Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Seni (FISS) Universitas Pasundan, Budi Setiawan G. P., S.Li., M.Sn., M.H., menjelaskan bahwa pengaruh iklim dan kesuburan tanah membuat komoditas singkong sangat melimpah di Jawa Barat.
Lebih lanjut, laki-laki yang akrab disapa Budi Dalton itu kemudian mengungkapkan, kalau makanan berbahan aci bahkan masuk ke dalam lirik lagu permainan tradisional anak-anak Jawa Barat berjudul "kaulinan budak atau kaulinan barudak".
“Singkong (sampeu, bahasa Sunda) dan olahannya, khususnya aci, lantas jadi sebuah warisan dan semakin dikenal. Di beberapa wilayah adat Jabar, aci juga selalu hadir, diceritakan turun-temurun di dalam rumpaka, lagu kaulinan budak, dan sebagainya,” ujarnya.
Melimpahnya bahan makanan singkong ini kemudian memicu kreativitas masyarakat setempat untuk membuat kreasi masakan menjadi berbagai jenis. Budi menuturkan, sejak era nenek moyang, ungkapan rasa syukur yang kerap disimbolkan dengan sesajen bahkan menyertakan olahan singkong atau aci sebagai bahan dasarnya.
Hal ini rupanya juga diakui langsung oleh Cici, kepala koki di restoran Sunda, You Warung Ngeunah yang berlokasi di Jagakarsa, Jakarta Selatan. Kepada kumparanFOOD, Cici mengatakan bahwa sejak kecil, di dapur rumahnya selalu memiliki stok tepung tapioka. Apalagi bahan ini tergolong ekonomis.
"Aci itu selalu ada-lah di rumah, kita selalu nyetok. (Apalagi) lebih murah, lebih ekonomis, dan banyak orang suka. Karena tepung ini ada terus, dan orang Sunda itu kreatif maka jadilah berbagai makanan, camilan," terangnya.
Sementara itu, Kartina, pemilik You Warung Ngeunah yang juga merupakan orang Sunda asli, menambahkan bahwa dirinya juga sudah sejak kecil dibuatkan makanan berbahan tepung aci.
Kartina dan Cici mengaku bahwa olahan berbahan aci pertama yang populer adalah cireng. Kesederhanaan tepung aci yang diberi bumbu lalu digoreng ini, kemudian memunculkan kreativitas ibu rumah tangga di tanah Sunda. Mereka menyajikan cireng dengan tambahan bumbu kacang, ada juga yang mengisinya dengan oncom.
"Melalui produk kreasi rumah tangga seperti cireng, akhirnya mulai banyak yang berjualan. Bikinlah mereka cireng isi keju, usu, ati-ampela, daging, kemudian dibuat jadi cilok (aci dicolok), cimol, lalu anak zaman sekarang sukanya pakai gurih-gurih, ya ditambahin bumbu," lanjut mereka.
Mereka juga mengakui bahwa masyarakat Sunda sangat menyukai makanan yang bertekstur kenyal, kemudian bercita rasa gurih, asin, dan pedas. "Kenyal, gurih, pedas. Kalau enggak asin, enggak gurih, tuh kurang rasanya," pungkas Kartina.
Penamaan Makanan Berbahan Aci yang UnikKreativitas masyarakat Sunda tidak terhenti hanya pada mengolah bahan aci saja, tapi juga memberikan nama-nama yang unik. Sebut saja cimol atau aci digemol (dibentul bulat-bulat), kemudian cibay alias aci ngambay (aci menjuntai), dan lainnya.
“Dinamakan cilok karena cara makannya dicolok, bisa saja suatu saat namanya berubah sesuai perilaku kita terhadap cilok tadi. Contohnya, cilok dicowel jadi ciwel. Jadi kembali lagi ke kreativitas masyarakat. Tapi yang penting, bahasa Sunda bisa tersosialisasikan di berbagai daerah lewat kuliner,” terangnya.
Budi mengatakan, uniknya penamaan bahan makanan yang terbuat dari aci sepatutnya dilestarikan dan menjadi warisan kuliner budaya bangsa.
“Yang harus dipikirkan bukan penamaannya, tapi bagaimana aci bisa berkembang dan disosialisasikan dalam bentuk lain,” tegasnya.
Menariknya, dari olahan aci yang berbahan murah-meriah dan sederhana, kemudian lahirlah festival Bandung Lautan Aci yang pernah diadakan pada akhir 2022 lalu.
“Ini menunjukkan bahwa kreativitas masyarakat sangat tak terbatas. Bandung Lautan Aci yang mungkin diambil dari julukan 'Bandung Lautan Api' sekilas terdengar seperti anekdot, tapi memang begitulah faktanya,” tutup Budi.





