Memberdayakan Lansia dari Rumah Ibadah

kompas.id
6 jam lalu
Cover Berita

Ketika usia memasuki lanjut usia atau lansia, keinginan hati untuk mendekatkan diri pada Sang Pencipta makin kuat. Rumah ibadah pun memfasilitasi aktivitas warga lansia yang ingin beribadah bersama rekan sesama lansia.

Selain itu, rumah ibadah memiliki potensi untuk tak sekadar menjadi tempat para lansia beribadah bersama. Rumah ibadah dapat menjadi komunitas lansia yang bermakna untuk tetap sehat jasmani dan rohani, serta berdampak di usia yang kian senja.

Saat jarum jam menunjukkan pukul 14.00 WIB pada Rabu (13/5/206), bangku-bangku dengan meja di ruang seba guna di Wihara Kesejahteraan di kawasan Kosambi Baru, Jakarta Barat, perlahan mulai terisi.

Para perempuan berusia 60 tahun hingga ada yang berusia 85 tahun dengan kaos berkerah berwarna oranye memilih bangku yang hendak didudukinya. Ada yang masih mampu berjalan sendiri, ada yang digandeng rekan oma lainnya, bahkan ada yang memakai tongkat.

Meskipun didominasi para perempuan lansia, kelompok laki-laki lanjut usia pun ada yang hadir sebanyak tiga orang. Para lansia yang bergabung di Komunitas Saddha sudah setahun ini berkumpul setiap Rabu dengan aktivitas bergantian di tiap minggunya.

Pada Rabu lalu, para lansia Komunitas Saddha berkegiatan senam dan melepaskan emosi dengan cara menggambar di buku gambar. Pada hari Rabu lainnya para lansia berkegiatan membuat kerajinan dari bahan kain sisa untuk menjadi tas, cempal (alas panci), alas duduk, alas untuk tempat tidur, hingga topi bulat. Jika tak selesai, para Oma dapat membawa bahan kain sisa pulang ke rumah sehingga tetap punya kesibukan.

Baca JugaLansia: Arif dan Bahagia

Ada juga kegiatan pergi keluar atau one day out di Rabu terakhir tiap bulan. Para Oma dan Opa diatur untuk berwisata bersama-sama sambil melakukan kegiatan yang menyenangkan, terutama di tempat yang memiliki ruang terbuka hijau.  

Penggagas Komunitas Lansia Saddha, Melly Kiong, memulai aktivitas senam dengan menyetel Youtube berbahasa Mandarin. Di video itu, lansia yang duduk di atas kursi roda memandu senam, didampingi dua lansia lain yang duduk di kursi.

“Kegiatan senam tetap dilakukan di kursi masing-masing biar para oma dan opa bisa leluasa bergerak, tidak terganggu masalah fisik. Nanti, di rumah juga mereka bisa mengingat gerakan senam yang dilakukan sehingga tetap bugar,” tutur Melly.

Mengatasi kesepian

Melly mengatakan para warga lanjut usia kerap merasa kesepian karena terbatas dalam beraktivitas di luar rumah. Bahkan ada lansia yang mengakhiri hidup karena kesepian. Sementara anak-anak dengan orangtua lansia tak mampu mendampingi karena harus bekerja.

Padahal, para lansia tetap ingin bermakna sampai akhir menutup mata. Untuk itu, Melly pun berinisiatif membantu para lansia memiliki wadah dan aktivitas positif. Dia melihat, rumah ibadah menjadi salah satu tempat yang potensial.

“Kebetulan niat saya disambut Suhu (sebutan rohaniawan di agama Buddha) di Wihara Kesejahteraan. Suhu melihat di negara-negara maju para lansia diperhatikan. Jadilah Komunitas Lansia Saddha dikembangkan di wihara dengan dukungan CSR dari Bank Maju yang mengelola dana umat,” kata Melly.

Para oma dan opa yang beribadah di Wihara Kesejahteraan, tadinya hanya sekadar beribadah, kini punya aktivitas rutin bersama. Dari empat lansia kini berkembang menjadi 44 lansia. Bahkan, komunitas sebenarnya terbuka untuk lansia dari agama apa saja, meksipun kegiatan di wihara.

“Saya melihat banyak perubahan dalam diri oma dan opa yang aktif hadir. Mereka jadi bisa belajar berpikir positif, memahami orang lain, dan berbagi,” ujar Melly.

Tiap kali berkegiatan, para oma dan opa harus membawa dua buah makanan yang paling disukai. Lalu, makanan itu dikumpulkan di wadah yang disediakan di meja untuk menaruh makanan dan minuman. Semua yang hadir nantinya dapat mencicipi makanan secara potluck usai kegiatan.

Opa Tang TJ Osek (82), baru pertama kali hadir. Dia diajak tetangganya. “Saya dikasih tahu ada kegiatan lansia yang bisa kumpul tiap Rabu. Setelah melihat kegiatannya tadi dari ikut senam dan menggambar, saya merasa suka. Nanti mau coba untuk hadir lagi,” ujar Opa Tang.

Tang mengisahkan dua tahun terakhir dia hidup seorang diri di rumah karena istrinya sudah meninggal dunia. Kedua anaknya sudah menikah dan mempunyai rumah sendiri, sedangkan Tang tetap ingin tinggal di rumahnya.

“Anak ada yang antar makanan tiap hari ke rumah. Saya juga lebih banyak di rumah, tidak banyak kegiatan. Kadang di rumah merasa sepi dan sedih. “Setelah melihat komunitas ini aktif, saya mau mencoba. Apalagi ini kan dekat rumah, tinggal jalan kaki,” ujarnya.

Baca JugaLansia Sehat dan Bahagia,  Mungkinkah?

Sementara Oma Hong Lien (77) merasa tidak sabar menunggu tiap Rabu tiba karena ingin berjumpa dengan teman-teman lansia dan berkegiatan bersama. Dia suka kegiatan menjahit kain sisa untuk membuat beragam kerajinan yang dijual.

Di rumah, seusai melakukan kerja rumah tangga, Oma Lien tetap bisa produktif membuat bulatan-bulatan kecil sebagai bahan dasar cempal dan alas duduk, dan bisa mendapat uang tambahan.

Oma Lien yang hidup bersama sang suami mengisi hari-harinya dnegan kegiatan di luar rumah agar tetap aktif dan gembira. Inilah yang membuat dirinya tetap sehat dan mandiri bergerak. “Meski sekarang jalan pelan-pelan, tapi senang kalau berkumpul. Kalau ketemu teman lansia itu hati rasanya gembira,” ujarnya.

Meski kesehariannya sejak menikah menjadi ibu rumah tangga, di usia senja Lien mengisi hari-harinya dengan beragam kegiatan. Pada Selasa dan Kamis, ia ikut kegiatan memilah sampah dari pukul 09.00-12.00 WIB di depo Buddha Tzu Chi tidak jauh dari rumahnya. Hari Rabu beraktivitas di Komunitas Lansia Saddha. Lalu, Sabtu kegiatan ibadah para lansia, dan Minggu ibadah umum.

“Saya dan suami memutuskan tetap tinggal di rumah berdua. Tidak mau ikut anak, pusing. Mereka sudah punya kesibukan sendiri. Paling mereka memantau kondisi kami. Dengan tetap punya kesibukan di usia lansia, rasa gembira tetap ada. Ini yang membuat tubuh terasa sehat meskipun usia bertambah tua,” ujarnya.

Partisipasi rumah ibadah

Pembimbing Masyarakat Buddha Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi DKI Jakarta Suliarna mengatakan dukungan Komunitas Lansia Saddha di Wihara Kesejahteraan diharapkan bisa menjadi inspirasi wihara dan rumah ibadah agama lain untuk menaruh perhatian pada komunitas lansia.

“ Rumah ibadah pun dapat mendukung pemerintah untuk menyediakan ruang dan komunitas lansia sehingga para lansia bukan jadi beban negara tetapi aset negara yang bisa produktif,” ungkapnya.

Asisten Deputi Kesejahteraan Lanjut Usia dan Penyandang Disabitas, Kementerian Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudyaan, Ricky Radius Siregar mengtakan saat ini 12 persen dari total penduduk Indonesia atau sekitar 34 juta orang merupakan warga lansia.

Berdasarkan standar Badan Kesehatan Dunia (WHO) tentang fase kota atau negara menua (aging population), di Indonesia ada 20 provinsi  yang sudah mempunyai lebih dari 10 persen penduduk lansia.

“Setiap orang ingin menua dengan bahagia, sehat, mandiri, sejahtera, dan bermartabat. Pemerintah pun ingin memastikan di tataran regulasi dapat memfasilitasi para lansia agar tak terkendala untuk mewujudkannya, termasuk dengan kolaborasi semua unsur yang terlibat,” ujarnya.

Baca JugaPopulasi Kian Menua, Bagai Berpacu Melawan Waktu

Menurut Ricky, pemerintah mendukung terwujudnya lansia tangguh (sehat, mandiri, aktif, dan produktif) melalui program Bina Keluarga Lansia. Selain itu ada Sekolah Lansiayang menjadi ruang belajar nonformal khusus bagi para lansia.

 

 

 

 

 

 

 

 

 


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Wamenko Otto tegaskan penguatan Kompolnas perkuat kepercayaan publik
• 8 jam laluantaranews.com
thumb
Jemaah Haji Indonesia Kloter Terakhir dari Madinah Tiba di Mekkah | KOMPAS PETANG
• 5 jam lalukompas.tv
thumb
UOB Indonesia (BBIA) Umumkan Pengunduran Diri Direktur Cristina Teh Tan
• 5 jam lalubisnis.com
thumb
Perkenalkan, Miguel Pereira! Calon Bomber Baru Persebaya Surabaya, Cetak 35 Gol di Liga Portugal
• 5 jam laluharianfajar
thumb
Motor Tabrak Mobil Xpander di Puncak: 1 Orang Terluka
• 4 jam lalukumparan.com
Berhasil disimpan.