Nadiem Makarim mengaku tak menyesal pernah bergabung di pemerintahan. Mantan Mendikbudristek tersebut mengatakan bekerja di pemerintahan merupakan kesempatan sekali seumur hidup.
"Saya akan ucapkan sekali lagi, saya tidak pernah menyesal bergabung dalam pemerintah. Untuk mencari uang itu bisa seumur hidup. Untuk membantu generasi penerus bangsa kita menjadi lebih baik, itu hanya kesempatan sekali dalam hidup," kata Nadiem usai menjalani sidang tuntutan seperti dikutip pada Jumat (15/5/2026).
Nadiem mengatakan dirinya tidak mungkin akan menolak jabatan menteri saat ditawarkan. Dia mengatakan masuk penjara menjadi risiko.
"Jadi saya tidak mungkin akan menolak jabatan atau amanah itu pada saat ditawarkan. Mau saya gagal pun, risiko gagal, risiko masuk penjara pasti saya ambil karena masa depan Indonesia itu lebih penting dari segala risiko ini," ujarnya.
Meski demikian, Nadiem mengaku kecewa dituntut 18 tahun penjara dalam kasus korupsi pengadaan laptop Chromebook saat menjabat menteri. Dia juga menyebut putusan terhadap terdakwa lain tidak masuk akal.
"Ini adalah hari yang sangat, sangat, sangat mengecewakan. Mungkin tidak ada kata-kata yang bisa menjelaskan perasaan saya. Mulai dari keputusan kemarin, Saudara Ibam mendapat keputusan vonis bersalah 4 tahun yang sangat tidak masuk akal. Dan hari ini kita melihat hasil daripada kerja keras orang-orang jujur, anak-anak muda yang ingin merubah pola-pola lama, yang ingin maju terhadap transparansi, menggunakan teknologi. Nah, ini adalah balasannya," ujar Nadiem.
Selain dituntut penjara, Nadiem juga dituntut denda Rp 1 miliar dan uang pengganti Rp 5,6 triliun subsider 9 tahun kurungan. Nadiem mempertanyakan apa kesalahannya sehingga dituntut penjara.
"Untuk kesalahan apa? Tidak ada kesalahan administrasi apa pun, tidak ada unsur korupsi apa pun dalam kasus saya, dan seluruh masyarakat sudah mengetahui. Jadi saya bingung. Kenapa? Kenapa tuntutan saya lebih besar daripada pembunuh? Tuntutan saya lebih besar daripada teroris?" ujarnya.
(haf/dhn)





