- Mengapa audiens muda mengandalkan media sosial?
- ”Influencer” seperti apakah yang diikuti generasi Z?
- Mengapa profesi pemengaruh diminati generasi muda?
- Lantas bagaimana dengan masa depan media massa?
Generasi muda semakin menjauh dari berita konvensional dan lebih mengandalkan media sosial, kreator konten, serta kecerdasan buatan (AI) sebagai sumber informasi. Perubahan ini menjadi tantangan besar bagi industri pers untuk tetap relevan di tengah pergeseran perilaku audiens usia 18-24 tahun. Temuan tersebut dibahas dalam diskusi daring oleh Reuters Institute, yang menyoroti bahwa media sosial kini menjadi pintu utama anak muda dalam mengakses berita.
Laporan Berita Digital Reuters Institute 2026 menunjukkan 39 persen responden muda menjadikan media sosial sebagai sumber berita utama, naik signifikan dibandingkan satu dekade lalu. Terjadi pula pergeseran platform: dominasi Facebook menurun tajam, sementara Instagram, Youtube, dan Tiktok semakin populer, dengan Instagram menempati posisi teratas. Menurut peneliti Amy Ross-Arguedas, anak muda memandang Facebook sebagai platform generasi lebih tua dan lebih tertarik pada format audiovisual dibandingkan teks, terutama di negara-negara Asia.
Kepercayaan anak muda terhadap sumber berita juga berubah. Sebanyak 51 persen responden lebih memercayai kreator konten dibandingkan media konvensional. Konten komentar politik yang opini, partisan, dan menghibur justru lebih diminati dibandingkan analisis moderat ala media arus utama. Di sisi lain, minat anak muda terhadap berita secara umum terus menurun; hanya 35 persen yang mengaku berminat tinggi, dengan kecenderungan menghindari berita karena dianggap depresif, tidak relevan, atau sulit dipahami.
Selain media sosial, penggunaan kecerdasan buatan generatif untuk mengakses dan memahami berita juga meningkat pesat di kalangan muda. Mereka memanfaatkan AI bukan hanya untuk mengetahui kabar terbaru, melainkan juga untuk memahami konteks dan menyederhanakan isu rumit. Menurut Ketua Dewan Pers Komaruddin Hidayat, kondisi ini membuat media arus utama semakin terdesak oleh derasnya arus informasi di media sosial. Meski demikian, ia menegaskan bahwa media arus utama tetap menjadi rujukan penting publik saat menghadapi isu-isu besar yang membutuhkan informasi tepercaya.
Biaya promosi selebritas besar seperti Dwayne Johnson yang mencapai jutaan dolar AS per unggahan dinilai tidak selalu efektif, terutama untuk menjangkau generasi Z. Berbeda dengan generasi X dan Y yang tumbuh bersama televisi dan film, gen Z merupakan ”penduduk asli digital” yang lebih dekat dengan internet dan media sosial. Kondisi ini membuat mereka kurang terpengaruh oleh artis tradisional dan menuntut pendekatan pemasaran yang berbeda.
Penelitian dalam Journal of Brand Strategy (Maret 2025) oleh Jay Sinha dari Fox School of Business, Temple University, menunjukkan bahwa kunci menjangkau gen Z terletak pada pemanfaatan micro-influencer. Gen Z, yang lahir tahun 1997-2012, merupakan kelompok konsumen besar dengan daya beli yang terus meningkat secara global maupun di Indonesia. Mereka juga terbukti memiliki pengaruh signifikan secara ekonomi dan politik sehingga menjadi target penting bagi kampanye bisnis.
Micro-influencer didefinisikan sebagai pemengaruh dengan 10.000-100.000 pengikut yang memiliki hubungan lebih personal dengan audiens. Menurut Sinha, gen Z lebih memercayai sosok yang dianggap otentik dan dekat dibandingkan figur besar yang terasa jauh. Karena itu, unggahan pemengaruh mikro dinilai lebih kredibel dan mampu meningkatkan keterlibatan. Sejumlah perusahaan besar, seperti Coca-Cola, Nike, dan Starbucks, telah memanfaatkan strategi ini untuk menjangkau pasar gen Z secara lebih efektif.
Pertumbuhan pemengaruh mikro juga dibahas oleh Lisa Harrison dari Universitas Flinders dalam bukunya, Unpacking Micro-Influence within the Australian Creative Sectors. Ia menyoroti peluang sekaligus tantangan dunia pemengaruh, mulai dari pentingnya menjaga integritas, risiko penipuan, hingga dampak kesehatan mental, terutama bagi perempuan. Pada akhirnya, keberhasilan pemasaran berbasis pemengaruh sangat bergantung pada kemampuan menjaga keaslian di tengah tekanan komersialisasi media sosial.
Pemengaruh (influencer) dan kreator konten berkembang pesat seiring dominasi media sosial dan kemajuan teknologi digital. Profesi ini dipandang menjanjikan, terutama bagi generasi muda milenial dan generasi Z, di tengah ketidakpastian ekonomi global. Data dari IZEA Worldwide Inc menunjukkan, mayoritas pengguna media sosial bersedia menerima bayaran untuk promosi produk, sementara nilai pasar pemasaran pemengaruh global—menurut Statista—melonjak drastis dalam satu dekade terakhir.
Di Indonesia, tingginya minat menjadi pemengaruh dan kreator konten didukung oleh besarnya jumlah pengguna media sosial dan pertumbuhan ekonomi digital. Laporan We Are Social mencatat lebih dari separuh penduduk Indonesia aktif di media sosial, sementara laporan e-Conomy SEA menempatkan Indonesia sebagai pasar ekonomi digital terbesar di Asia Tenggara. Kondisi ini membuka peluang luas bagi individu untuk membangun karier digital secara mandiri melalui produksi konten.
Meski sering disamakan, pemengaruh dan kreator konten memiliki perbedaan mendasar. Pemengaruh berfokus pada kemampuan memengaruhi keputusan audiens, terutama dalam konteks pemasaran, sedangkan kreator konten menitikberatkan pada proses kreatif, kualitas, dan konsistensi karya digital. Keduanya dapat saling tumpang tindih, tetapi tidak semua kreator konten memiliki daya pengaruh luas. Di tengah rumitnya ekosistem ketenagakerjaan nasional dan tingginya angka pengangguran yang dicatat Badan Pusat Statistik, profesi ini juga menjadi alternatif pekerjaan yang fleksibel.
Bagi generasi muda, media sosial menjadi ruang berekspresi, membangun identitas, dan berkarya melalui berbagai niche konten. Sejumlah kreator Indonesia bahkan meraih pengakuan internasional, termasuk masuk daftar Forbes 30 Under 30 Asia, seperti Andrew Brule dan Pandawara Group. Tingginya minat ini menuntut dukungan kebijakan progresif agar ekosistem konten digital tumbuh sehat, berintegritas, dan berdaya saing global.
Tahun 2026 diprediksi menjadi titik krusial bagi industri media. Media yang mampu bertahan adalah yang memiliki identitas kuat, nilai tambah bagi audiens spesifik, dan mampu memadukan kecerdasan buatan dengan sentuhan manusia yang otentik. Nikita Roy, pendiri Newsroom Robots Lab di Harvard Innovation Labs, menilai ruang redaksi akan bertransformasi dari sekadar ”pabrik artikel” menjadi mesin pengetahuan berbasis AI yang disusun ulang berdasarkan nilai, bukan format lama.
Namun, transformasi ini juga membawa risiko. Daniel Trielli dari Universitas Maryland memperingatkan bahwa jurnalisme 2026 akan semakin dirancang untuk sistem AI, bukan manusia, sehingga berpotensi mengurangi kendali editorial dan memperdalam ketergantungan pada algoritma. Survei terhadap 280 eksekutif media global menunjukkan hanya 38 persen yang optimistis terhadap masa depan jurnalisme, dipicu tekanan politik, penurunan dana, dan merosotnya trafik situs berita.
Laporan Reuters Institute mengungkap media terjepit oleh dua kekuatan besar: platform AI generatif yang memotong trafik langsung dan kreator konten yang lebih menarik audiens lewat pendekatan personal. Menurut Nic Newman, perubahan mesin pencari menjadi ”mesin penjawab” berbasis AI diperkirakan menurunkan trafik hingga 43 persen dalam tiga tahun. Di sisi bisnis, langganan dan keanggotaan kini menjadi sumber pendapatan utama, menandai pergeseran media menuju model berbasis komunitas.
Menghadapi persaingan dari kreator dan pemengaruh, banyak penerbit mulai mengadopsi pendekatan yang lebih personal dengan menjadikan jurnalis ”berwajah”, bermitra dengan kreator, dan berinvestasi pada video serta audio. Meski tantangan besar, sebagian media tetap optimistis dengan merekayasa ulang bisnis dan konten agar lebih khas dan manusiawi. Pesan utamanya jelas: media yang hanya mengandalkan teks umum, iklan konvensional, dan trafik massal akan tersingkir; masa depan menuntut jurnalisme yang berkepribadian, bernilai, dan menjadi pendamping tepercaya audiens.





