JAKARTA, DISWAY.ID - Pemerintah berencana meningkatkan alokasi subsidi untuk kendaraan listrik.
Kebijakan itu dilakukan guna mengurangi penggunaan Bahan Bakar Minyak (BBM).
BACA JUGA:120 Ribu Orang Diprediksi Padati Ragunan Selama Libur Kenaikan Yesus Kristus 2026
Rencananya, dalam tahap awal, sebanyak 100 ribu unit kendaraan listrik baik motor dan mobil akan mendapatkan insentif.
Menyikapi itu, Pengamat Ekonomi M. Rizal Taufikurahman, menyampaikam kesepakatanya akan rencana itu.
Menurutnya, kebijakan subsidi kendaraan listrik memang berada di jalur yang benar sebagai bagian dari strategi jangka panjang untuk menekan ketergantungan impor BBM dan menjaga ketahanan energi nasional.
BACA JUGA:Tips Pilih Deterjen untuk Cuci Pakaian Dalam, Perhatikan Senyawa Pelindung Serat Halus
Namun secara skala, kata Dia, target 100 ribu mobil dan 100 ribu motor listrik masih terlalu kecil jika dibandingkan total kendaraan nasional yang sudah menembus lebih dari 166 juta unit.
"Karena itu, dampaknya terhadap pengurangan konsumsi BBM maupun penghematan beban subsidi energi belum akan terlalu terasa dalam jangka pendek," katanya saat dikonfirmasi Disway.id, dikutip Jumat, 15 Mei 2026.
Ia menjelaskan, program ini lebih bersifat sinyal awal transisi energi dibanding solusi struktural untuk memperbaiki tekanan fiskal akibat subsidi dan kompensasi energi, yang nilainya masih sangat besar.
"Terutama di tengah volatilitas harga minyak dunia dan pelemahan rupiah," ujarnya.
Di sisi lain, lanjut Dia, desain kebijakan ini harus benar-benar dijaga agar tidak menjadi subsidi konsumsi bagi kelompok menengah atas.
BACA JUGA:Aktor di Balik Kasus Tambang Samin Tan Belum Tersentuh, Kejagung Diminta Menindak
Ia menegaskan jika orientasinya benar-benar ingin mengurangi konsumsi Pertalite dan Solar, maka fokus insentif seharusnya diarahkan pada sektor produktif yang konsumsi BBM nya tinggi
"Seperti ojek online, kendaraan logistik UMKM, transportasi publik, dan program konversi motor BBM ke listrik," jelasnya.
- 1
- 2
- »





