FAJAR, SURABAYA — Kehadiran Miguel Pereira berpotensi mengubah wajah lini serang Persebaya Surabaya musim depan. Di tengah rumor kedatangan Ramadhan Sananta yang terus menguat, nama striker asal Portugal itu kini mulai muncul sebagai bagian penting proyek besar Green Force era Bernardo Tavares.
Jika seluruh skenario transfer itu benar-benar terwujud, maka Persebaya tampaknya tidak lagi sekadar membangun tim kompetitif. Mereka sedang mencoba membentuk lini depan yang benar-benar menakutkan untuk menyambut Super League 2026/2027 — musim yang sangat penting menjelang perayaan 100 tahun klub pada Juni 2027.
Rumor kedekatan Miguel Pereira dengan Persebaya mulai mendapat perhatian luas setelah media Portugal ikut menyorot kemungkinan transfer tersebut.
Media asal Portugal, Cabine Desportiva, bahkan menyebut sang pemain sangat dekat bergabung dengan Green Force. Mereka menyoroti faktor Bernardo Tavares dan keberadaan Pedro Matos sebagai alasan utama yang membuat peluang transfer semakin terbuka.
“Miguel Pereira sangat dekat memperkuat Persebaya Surabaya dan bergabung dengan Pedro Matos dan pelatih asal Portugal Bernardo Tavares di Indonesia,” tulis Cabine Desportiva melalui akun Instagram mereka.
Kabar itu kemudian diperkuat oleh berbagai fanbase Persebaya di media sosial. Salah satu akun pendukung Green Force, @bondonekat_media, bahkan menyebut manajemen sudah menyodorkan kontrak berdurasi dua musim kepada sang pemain.
Situasi tersebut membuat publik Surabaya mulai percaya bahwa negosiasi memang sedang berjalan serius.
Dan jika melihat profil Miguel Pereira, ketertarikan Persebaya sebenarnya cukup masuk akal.
Striker kelahiran Peso da Régua, Portugal, itu dikenal sebagai penyerang fleksibel yang bisa bermain di beberapa posisi sekaligus. Selain sebagai striker utama, ia juga mampu bergerak dari sisi kiri maupun kanan penyerangan.
Karakter seperti itu sangat cocok dengan filosofi permainan Bernardo Tavares yang dikenal menyukai penyerang agresif, mobile, dan aktif melakukan pressing.
Miguel Pereira memang bukan nama besar di Eropa. Namun statistiknya menunjukkan perkembangan yang cukup stabil dalam beberapa musim terakhir.
Bersama Lusitânia FC Lourosa, ia menjadi bagian penting dalam perjalanan klub promosi dari Liga 3 menuju Liga 2 Portugal.
Pada musim pertamanya bersama Lourosa, Miguel tampil dalam 34 pertandingan dan mencetak delapan gol. Musim ini, produktivitasnya kembali terjaga dengan delapan gol dari 35 pertandingan di Liga Portugal 2 dan Taça de Portugal.
Namun angka statistik yang lebih menarik sebenarnya terlihat dari akumulasi performanya dalam beberapa musim terakhir.
Sepanjang karier senior dan level usia muda, Miguel Pereira tercatat mengoleksi 35 gol dan 18 assist. Ia juga mencatat tiga brace dan satu hattrick — sebuah indikator bahwa dirinya cukup konsisten sebagai finisher maupun kreator serangan.
Bagi Persebaya, kehadiran striker dengan profil seperti itu tentu sangat menarik.
Green Force memang membutuhkan dimensi baru di lini depan. Musim ini, mereka beberapa kali dinilai terlalu bergantung pada momen individu dan belum memiliki variasi serangan yang benar-benar stabil untuk bersaing dalam perebutan gelar.
Karena itu, proyek mendatangkan Miguel Pereira dan Ramadhan Sananta terlihat seperti bagian dari rencana besar Bernardo Tavares membangun lini serang yang lebih agresif dan fleksibel.
Dan di situlah skenario “trio bomber” mulai menjadi pembicaraan.
Jika Miguel Pereira datang bersamaan dengan Ramadhan Sananta, maka Persebaya berpotensi memiliki kombinasi lini depan yang sangat menarik bersama Mariano Peralta atau David da Silva — tergantung komposisi akhir skuad musim depan.
Sananta menawarkan agresivitas, duel fisik, dan kemampuan menyerang ruang kosong. Miguel Pereira memberi fleksibilitas pergerakan serta kemampuan bermain di berbagai posisi. Sementara sosok seperti Mariano Peralta atau David da Silva menghadirkan insting predator dan pengalaman mencetak gol.
Kombinasi karakter berbeda itu bisa membuat lini depan Persebaya jauh lebih sulit dibaca lawan.
Apalagi Bernardo Tavares dikenal sebagai pelatih yang cukup detail dalam membangun transisi menyerang. Saat membawa PSM Makassar juara musim 2022/2023, ia berhasil menciptakan lini depan yang agresif, cepat, dan sangat efektif memanfaatkan ruang.
Ramadhan Sananta sendiri menjadi salah satu pemain yang paling berkembang di bawah tangan dingin pelatih asal Portugal tersebut.
Karena itu, kemungkinan reuni keduanya di Surabaya mulai dipandang realistis.
Selain faktor taktik, Persebaya juga tampaknya sedang mencoba membangun identitas baru lewat koneksi Portugal yang semakin kuat di dalam tim.
Kehadiran Bernardo Tavares, Pedro Matos, hingga rumor Miguel Pereira menunjukkan arah proyek yang cukup jelas. Green Force tampaknya ingin membangun fondasi permainan dengan sentuhan sepak bola Portugal — cepat, intens, dan agresif dalam transisi.
Hal lain yang membuat peluang transfer Miguel Pereira semakin terbuka adalah situasi kontraknya.
Kontrak sang pemain bersama Lusitânia FC Lourosa akan habis pada 30 Juni 2026. Artinya, Persebaya berpeluang mendapatkan striker tersebut tanpa biaya transfer besar.
Dalam era sepak bola modern, kondisi seperti itu jelas sangat menguntungkan.
Persebaya bisa mengalokasikan dana untuk memperkuat sektor lain tanpa harus mengeluarkan biaya mahal demi menebus pemain.
Kini, publik Surabaya tinggal menunggu langkah resmi manajemen.
Sebab jika Miguel Pereira benar-benar datang, lalu disusul Ramadhan Sananta, maka Persebaya bukan hanya membangun tim baru.
Mereka sedang membentuk lini serang dengan wajah yang jauh lebih garang — kombinasi kekuatan Eropa, agresivitas lokal, dan sentuhan taktik Bernardo Tavares yang perlahan mulai mengubah arah Green Force menuju proyek juara.





