Pantau - Menteri Luar Negeri India S. Jaishankar dan Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi membahas perang Amerika Serikat-Israel melawan Iran, situasi di Selat Hormuz, serta kerja sama bilateral di sela-sela pertemuan menteri luar negeri BRICS di New Delhi, India, Kamis (14/5/2026).
Pertemuan tersebut berlangsung di tengah perang yang melibatkan Amerika Serikat dan Israel melawan Iran sejak 28 Februari 2026 meski saat ini sedang berlangsung gencatan senjata sementara yang disebut masih rapuh.
Jaishankar menyampaikan melalui platform media sosial X bahwa dirinya melakukan percakapan mendalam dengan Araghchi terkait berbagai perkembangan strategis di kawasan Timur Tengah.
“Kami membahas situasi di Timur Tengah beserta implikasinya,” tulis Jaishankar dalam pernyataannya di X.
Ia juga menyebut kedua negara bertukar pandangan mengenai sejumlah isu bilateral yang menjadi kepentingan bersama India dan Iran.
Fokus Selat Hormuz dan Perang 40 HariSituasi keamanan di Selat Hormuz serta perang yang telah berlangsung selama 40 hari menjadi fokus utama konsultasi bilateral kedua menlu tersebut.
Araghchi turut memberikan penjelasan kepada Jaishankar mengenai perkembangan terbaru perang, kondisi gencatan senjata yang masih rapuh, serta proses negosiasi untuk mengakhiri konflik.
Kedua pihak juga membahas perkembangan keamanan maritim dan stabilitas kawasan di sekitar Selat Hormuz yang menjadi jalur vital perdagangan energi dunia.
Araghchi berharap selama masa keketuaan India di BRICS akan tercipta koordinasi dan pencapaian yang lebih besar di antara negara-negara anggota.
Pertemuan Digelar Saat India Pimpin BRICSIndia saat ini memegang keketuaan BRICS dan menjadi tuan rumah pertemuan menteri luar negeri kelompok tersebut selama dua hari sejak 14 Mei 2026 di New Delhi.
BRICS merupakan kelompok yang terdiri atas 11 negara ekonomi berkembang termasuk Iran yang kini telah menjadi anggota organisasi tersebut.
Pertemuan Jaishankar dan Araghchi berlangsung di tengah meningkatnya ketegangan kawasan akibat perang yang dilaporkan telah menewaskan lebih dari 3.300 orang di Iran.
Ribuan warga Iran lainnya juga dilaporkan mengungsi akibat konflik tersebut.
Di sisi lain, serangan balasan Iran disebut menghantam pangkalan dan aset militer Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah.
Serangan tersebut dilaporkan menewaskan sedikitnya 13 personel militer Amerika Serikat serta melukai puluhan lainnya.




