Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia memprediksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal II 2026 akan melambat, seiring perlemahan rupiah dan masih bergejolaknya geopolitik global.
Dipo Satria Ramli Ekonom CORE Indonesia memperkirakan, pertumbuhan tidak akan mencapai angka 5,61 persen, seperti di kuartal I 2026.
“Pemerintah juga belanjanya agak jor-joran (awal tahun), tetapi justru kekawatiran itu namanya hard landing, jadi takutnya di Triwulan 2 dan selanjutnya itu malah jatuhnya lebih kencang gitu, karena memang ke depan tuh ada tiga badai sih yang yang jadi ujian buat Indonesia,” kata Dipo kepada suarasurabaya.net, Jumat (15/5/2026).
Tiga badai yang melemahkan ekonomi Indonesia adalah perlemahan nilai tukar rupiah, krisis energi imbas Perang Timur Tengah dan imported inflation. Imported inflation adalah kenaikan harga barang dan jasa di dalam negeri, yang disebabkan tingginya biasa produksi atau bahan baku.
Dipo menjelaskan, pada kuartal I 2026, perang Timur Tengah yang mencuat pada 28 Februari 2026 Maret 2026 dampaknya belum terlalu terasa ke Indonesia. Namun pada kuartal II 2026, dampak perang akan sangat terlihat.
“Jadi dampak perang Iran itu sendiri belum belum dirasakan gitu. Sedangkan secara fundamental dan struktural, ya kan, terlepas perang Iran emang ekonomi kita sudah mulai agak kelemahan tuh. Jadi kalau kita lihat berapa angka kayak PMI manufacturing itu kayak Februari, Maret, April itu turun,” ungkapnya.
Perlemahan juga didorong merosotnya nilai tukar rupiah, yang sempat menembus Rp17.600 per dolar Amerika Serikat pada pembukaan perdagangan hari ini.
Dipo juga mengatakan target pemerintah yang mau mendorong pertumbuhan ekonomi 6 persen di kuartal 3 dan 4 2026, sulit direalisasikan.
“Saya rasa sih sangat sangat rendah kemungkinan. Setelah perang Iran, itu banyak sekali negara-negara di seluruh dunia yang sudah menurunkan proyeksinya. Malah kita salah satu negara yang belum menurunkan proyeksi kita gitu. Jadi ini Indonesia aja nih yang hebat nih, sementara semua dunia gonjang ganjing gitu. Saya rasa itu sangat sulit,” ujarnya.
Ekonom CORE Indonesia tersebut menekankan, kondisi ekonomi di kuartal I 2026 sulit direplika pada kuartal kedua. Karena ada berbagai stimulus yang dikucurkan pemerintah di awal tahun, di tambah ada bulan Ramadan dan Idulfitri yang mendorong tingkat konsumsi masyarakat.
“Kita memang ada beberapa badai, tetapi yang mungkin yang penting juga itu sebenarnya pertumbuhan 5,61 persen di Triwulan 1, sangat sulit direplika di Triwulan 2. Karena kan misalnya ya di Triwulan 1 itu kita gede buat belanja negara ya. Jadi belanja negara itu digenjot sama pemerintah itu naik 21,81 persen dan itu karena buat si MBG dan THR,” ujarnya.
Sebelumnya, Kementerian Keuangan (Kemenkeu) akan mendorong pertumbuhan ekonomi pada kuartal 3 dan 4 2026 mencapai 6 persen. Purbaya Yudhi Sadewa Menteri Keuangan akan mendorong pertumbuhan sektor riil.
“Kalau dari kita ya akan insentif di mobil listrik. Nanti perbaikin tadi akses ke pendanaan dari perusahaan-perusahaan yang export oriented seperti tekstil, furniture, sepatu,” kata Purbaya.
Ia memastikan pertumbuhan ekonomi ke depan akan di atas 5,5 persen.
Kementerian Keuangan akan mengadakan rapat dalam waktu dekat, untuk mendorong akses pendanaan yang lebih bagus dan lebih murah untuk sektor riil.
“Saya akan panggil rapat lagi dalam waktu dekat supaya mereka punya akses ke pendanaan yang lebih bagus dan lebih murah. Saya bisa masuk lewat lembaga penjaminan ekspor Indonesia. Di situ uangnya juga banyak, sebagian nganggur selama ini rupanya.”(lea/iss)




