Bisnis Reasuransi Tertekan Konflik AS-Iran, Sektor Energi dan Maritim Paling Terdampak

idxchannel.com
8 jam lalu
Cover Berita

Ketegangan geopolitik global yang dipicu oleh konflik berkepanjangan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran berdampak pada industri perasuransian domestik.

Bisnis Reasuransi Tertekan Konflik AS-Iran, Sektor Energi dan Maritim Paling Terdampak. (Foto: iNews Media Group)

IDXChannel - Ketegangan geopolitik global yang dipicu oleh konflik berkepanjangan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran berdampak pada industri perasuransian domestik.

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengungkapkan bahwa situasi ini menekan bisnis reasuransi nasional, terutama pada sektor-sektor yang berkaitan erat dengan jalur perdagangan internasional dan pasokan energi global.

Baca Juga:
Aset Industri Asuransi Rp1.195 Triliun, Naik 4,38 Persen pada Maret 2026

Kepala Eksekutif Pengawas Perasuransian, Penjaminan, dan Dana Pensiun OJK Ogi Prastomiyono menjelaskan bahwa konfrontasi di kawasan Timur Tengah tersebut secara otomatis meningkatkan sensitivitas profil risiko industri.

"Gejolak geopolitik, termasuk konflik antara Amerika Serikat dan Iran, berpotensi memberikan tekanan terhadap bisnis reasuransi sejak awal tahun 2026. Kondisi ini meningkatkan eksposur risiko, khususnya pada lini usaha yang sensitif terhadap perdagangan global dan energi," ujar Ogi dalam keterangan tertulisnya, Sabtu (16/5/2026).

Baca Juga:
Lindungi Konsumen dan Industri, OJK Aplikasikan QR Code STTD Pialang Asuransi dan Reasuransi

Menurut Ogi, gangguan operasional di jalur-jalur laut strategis seperti Selat Hormuz memicu potensi lonjakan klaim yang harus ditanggung oleh perusahaan reasuransi.

Imbasnya, pasar reasuransi mengalami fase hardening, di mana harga premi cenderung merangkak naik sebagai kompensasi atas tingginya risiko keamanan global.

Baca Juga:
OJK Catat Laba Industri Asuransi Jiwa Naik Drastis, Asuransi Umum Stabil

"Selain itu, terdapat peningkatan risiko klaim akibat gangguan operasional dan aktivitas perdagangan internasional, serta tekanan terhadap harga premi reasuransi yang cenderung mengalami penyesuaian (hardening)," tambahnya.

Tekanan eksternal ini tecermin dari data operasional industri per Maret 2026. OJK mencatat total perolehan premi reasuransi berada di angka Rp7,62 triliun, atau mengalami penurunan sebesar Rp0,11 triliun (turun 1,43 persen) secara year-on-year (YoY).

Secara spesifik, lini bisnis yang paling terkoreksi tajam akibat konflik ini yaitu Premi Rangka Kapal merosot sebesar Rp0,04 triliun atau turun 11,40 persen secara tahunan, Premi Energi Onshore menyusut Rp0,03 triliun atau berkurang hingga 17 persen YoY dan Premi Energi Offshore mengalami penurunan sebesar Rp0,01 triliun, yang dinilai sebagai penurunan cukup signifikan secara YoY.

Meskipun pendapatan premi di lini usaha strategis tersebut mengalami kontraksi akibat faktor makro global, industri asuransi umum dan reasuransi secara akumulatif masih mampu mempertahankan efisiensi internalnya.

Berdasarkan data OJK pada periode yang sama (Maret 2026), kelompok industri asuransi umum dan reasuransi berhasil membukukan laba bersih setelah pajak sebesar Rp4,22 triliun.

Angka profitabilitas tersebut mencatatkan pertumbuhan tipis atau meningkat sekitar Rp0,08 triliun dibandingkan dengan capaian tahun lalu.

(Febrina Ratna Iskana)


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
KO Brutal dalam Hitungan Detik Guncang Dunia Tinju
• 7 menit laluviva.co.id
thumb
Ko Hee-jin Sindir Elisa Zanette? Setelah Resmi Datangkan Vanja Bukilic dan Zhong Hui, Pelatih Red Sparks Itu Bilang...
• 16 jam lalutvonenews.com
thumb
Ponsel Wisatawan Jatuh ke Laut di Pulau Pari, Polisi Menyelam Bantu Cari
• 6 jam laludetik.com
thumb
Kronologi Pendaki Meninggal di Gunung Rinjani, Ternyata Sempat Lakukan ini Sebelum Jatuh ke Bukit Penyesalan
• 10 jam lalugrid.id
thumb
Kronologi Kepsek SMK di Tangsel Dicopot Usai Diduga Lakukan Child Grooming ke Siswi, Jejak Digital Jadi Sorotan
• 7 menit lalugrid.id
Berhasil disimpan.