“Agen Tidur” Iran Menyusup ke AS, Komunitas Intelijen Khawatir akan Ancaman Terhadap Piala Dunia 2026

erabaru.net
6 jam lalu
Cover Berita

Kalangan intelijen Amerika Serikat khawatir bahwa sel-sel tidur Iran yang saat ini berada di AS dapat mengancam penyelenggaraan Piala Dunia 2026. Sementara itu, setelah beberapa anggota Garda Revolusi Iran ditangkap di Kuwait, negara-negara Teluk juga mencapai kesepakatan untuk bersama-sama melawan aktivitas terorisme.

EtIndonesia. Ajang Piala Dunia sepak bola akan dimulai pada Juni mendatang. Baru-baru ini, mantan agen FBI Jonathan Gilliam menyatakan bahwa Iran mungkin akan memanfaatkan kesempatan tersebut untuk mengaktifkan “agen tidur” yang ditempatkan di Amerika Serikat.

Ia mengatakan bahwa saat ini sudah ada kelompok-kelompok rahasia Iran yang beroperasi di wilayah AS. Pertanyaan utamanya adalah apakah selama pertandingan berlangsung kelompok-kelompok tersebut akan diaktifkan dan diperintahkan untuk melakukan serangan.

“Pada akhirnya, kuncinya adalah apakah para pejabat tinggi mampu memprediksi siapa yang akan melakukan serangan, apa motifnya, kapan, di mana, dan bagaimana caranya. Setelah itu, mereka harus melakukan simulasi skenario secara proaktif dan melacak balik sumber ancamannya, menggunakan berbagai sumber intelijen dan metode investigasi untuk mencari apakah ada individu yang diam-diam merencanakan serangan seperti itu. Ini bukan tugas yang mustahil,” kata Jonathan Gilliam. 

Ia berpendapat bahwa Amerika Serikat seharusnya lebih dulu memberi peringatan tegas kepada Iran, bahwa jika berani bertindak, maka AS akan sepenuhnya menghentikan dialog dan menghancurkan rezim Iran.

mantan agen FBI Jonathan Gilliam (tangkapan layar)

Jonathan Gilliam juga mengatakan:“Berikan sinyal tertentu, misalnya menjatuhkan ‘Mother of All Bombs’ di wilayah terpencil Iran, untuk memberitahu mereka bahwa jika berani menyakiti warga Amerika, itulah konsekuensinya. ‘Mother of All Bombs’ adalah bom non-nuklir paling kuat dalam sejarah dunia.”

Pada awal Maret lalu, Presiden AS Donald Trump juga pernah menyinggung ancaman dari “agen tidur” Iran, dan menuduh pemerintahan sebelumnya membiarkan mereka masuk ke Amerika Serikat. Namun pemerintah AS disebut terus memantau pergerakan mereka secara ketat.

Pada Selasa (12 Mei), Kuwait mengumumkan penangkapan empat anggota pasukan komando Islamic Revolutionary Guard Corps. Setelah itu, para menteri dalam negeri negara-negara anggota Gulf Cooperation Council menyerukan peningkatan koordinasi untuk menghadapi ancaman terhadap stabilitas kawasan dan memberantas aktivitas terorisme.

Selain United Arab Emirates, Qatar, dan Bahrain, Saudi Arabia — yang belakangan dikabarkan beberapa kali menyerang Iran selama konflik — juga ikut mengecam tindakan Iran dan menuduhnya merusak stabilitas kawasan.

Kuwait menyatakan bahwa empat warga Iran yang ditangkap berusaha menyusup ke Bubiyan Island, sebuah pulau strategis yang dekat dengan Irak dan pantai Iran. Mereka memasuki perairan Kuwait menggunakan kapal nelayan sewaan dan disebut mendapat perintah untuk melakukan aksi permusuhan setelah masuk ke wilayah Kuwait.

Namun Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi membantah tuduhan tersebut. Ia mengatakan bahwa keempat orang itu tersesat ke wilayah Kuwait akibat kerusakan sistem navigasi, dan menuduh Kuwait mencoba memecah belah hubungan regional.

Sementara itu, UK Maritime Trade Operations (UKMTO) sebelumnya melaporkan bahwa sebuah kapal yang sedang berlabuh di timur laut Pelabuhan Port of Fujairah dibajak oleh pihak tak dikenal dan diarahkan menuju perairan Iran. Namun nama kapal dan jumlah awaknya masih belum diketahui.

Pihak Inggris mengimbau kapal-kapal di sekitar area tersebut agar meningkatkan kewaspadaan dan segera melaporkan aktivitas mencurigakan. Investigasi masih berlangsung.

Pada Kamis, otoritas India juga mengumumkan bahwa kapal barang berbendera India bernama Haji Ali diserang dan terbakar pada Rabu (13 Mei) saat berlayar dari Somalia menuju Sharjah di UEA. Kapal tersebut kemudian tenggelam di dekat pantai Oman. Identitas pelaku serangan masih belum diketahui.

Komandan United States Central Command, Laksamana Brad Cooper mengatakan:“Selama 47 tahun, rezim Iran terus menyebarkan teror di kawasan dan menjadikan ‘permusuhan terhadap Amerika’ sebagai inti ideologi pemerintahannya.”

Dalam sidang dengar pendapat hari itu, Cooper mengatakan bahwa kemampuan ancaman Iran telah melemah secara signifikan akibat serangan militer AS. Iran tidak lagi mampu mengancam mitra regional maupun Amerika seperti sebelumnya, dan juga tidak lagi mampu mengirim senjata serta sumber daya kepada organisasi seperti Hezbollah, kelompok Houthi, dan Hamas.

Laksamana Cooper juga mengatakan:“CENTCOM dibentuk memang untuk secara langsung menghadapi ancaman dari Republik Islam Iran.”

“Dalam pengalaman pribadi saya, dulu dari 100 kali pelayaran melewati Strait of Hormuz, biasanya terlihat 20 hingga 40 kapal cepat Iran. Namun belakangan ini jumlahnya menurun drastis menjadi hanya dua atau tiga kapal,” katanya

Dilaporkan oleh reporter NTD, Wang Ziyi, dari Amerika Serikat.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Gara-gara Megawati Hangestri Gabung Hyundai Hillstate, Pemain Red Sparks Langsung Beri Ancaman
• 19 jam lalutvonenews.com
thumb
BMKG: Sebagian Wilayah DKI Akan Diguyur Hujan Pada Sabtu Siang hHngga Sore
• 11 jam lalutvonenews.com
thumb
Tantang Dua Kontestan Piala Dunia 2026, Singapura Mau Beri Kejutan di Grup D Piala Asia 2027
• 23 jam lalubola.com
thumb
Usai Kunjungan ke China, Trump Akui Kehilangan Sabar atas Iran
• 7 jam lalukumparan.com
thumb
Trump Minta China dan Taiwan Menahan Diri di Tengah Ketegangan Selat Taiwan
• 4 jam lalupantau.com
Berhasil disimpan.