Washington: Duta Besar Kuba untuk Amerika Serikat (AS) Lianys Torres Rivera menegaskan negaranya siap mempertahankan diri dari potensi agresi militer Washington di tengah meningkatnya ketegangan hubungan kedua negara.
Dalam wawancara yang dipublikasikan Jumat waktu setempat, Torres Rivera mengatakan persiapan Kuba bersifat defensif dan bukan untuk menyerang AS lebih dulu.
“Kami sedang bersiap untuk membela diri. Cara kami mempersiapkan diri bukanlah dengan cara ofensif. Kami tidak bersiap menjadi pihak pertama yang melakukan tindakan apa pun terhadap wilayah atau rakyat AS,” ujar Torres Rivera, dikutip dari TRT World, Sabtu, 16 Mei 2026.
Ia menegaskan pemerintah Kuba tidak menginginkan konflik bersenjata dengan Washington karena berpotensi memicu korban jiwa dari kedua belah pihak.
“Kami tidak ingin melihat warga Kuba maupun tentara Amerika kehilangan nyawa,” katanya.
Pernyataan tersebut muncul di tengah krisis energi yang memburuk di Kuba akibat kekurangan bahan bakar dan pemadaman listrik berkepanjangan. Havana menuding tekanan ekonomi dan blokade minyak dari AS sebagai penyebab utama kondisi tersebut.
Torres Rivera menegaskan kedaulatan dan hak rakyat Kuba menentukan masa depan negaranya tidak dapat dinegosiasikan.
“Kami adalah pulau kecil yang hanya ingin dibiarkan menentukan masa depan kami sendiri sesuai keinginan rakyat Kuba,” ujarnya. Tekanan AS terhadap Kuba Di sisi lain, tekanan Washington terhadap Havana diperkirakan akan semakin meningkat. Sejumlah laporan menyebut pemerintahan Presiden Donald Trump tengah mempertimbangkan dakwaan pidana terhadap mantan Presiden Kuba Raul Castro terkait insiden penembakan pesawat kelompok pengungsi Kuba pada 1996.
Menurut laporan Reuters, jaksa federal AS disebut berencana membuka dakwaan di pengadilan Miami pada 20 Mei mendatang, meski proses tersebut masih memerlukan persetujuan dewan juri.
Ketegangan antara AS dan Kuba meningkat sejak Washington memperketat tekanan ekonomi terhadap Havana, termasuk ancaman sanksi terhadap negara atau perusahaan yang memasok minyak ke Kuba. Situasi itu semakin memburuk setelah operasi militer AS di Venezuela pada awal 2026 yang menggulingkan pemerintahan Nicolas Maduro.
Meski demikian, pejabat militer AS sebelumnya menyatakan Washington tidak sedang mempersiapkan invasi terhadap Kuba.
Baca juga: Dampak Sanksi AS Memburuk, Kuba Liberalisasi Harga Bahan Bakar Nasional




