Tahu Tempe, Rupiah, dan Ketergantungan yang Tak Pernah Selesai

kompas.com
11 jam lalu
Cover Berita

“Kita ini bangsa yang makan tahu tempe, tapi kedelainya impor.”

PERNYATAAN Titiek Soeharto terdengar sederhana, tetapi sesungguhnya menggambarkan ironi besar ekonomi pangan Indonesia.

Negeri yang menjadikan tempe dan tahu sebagai makanan harian rakyat justru masih bergantung pada kedelai impor hingga sekitar 85–90 persen kebutuhan nasional. 

Ketika rupiah melemah hingga mendekati Rpm17.500 per dolar AS pada Mei 2026, kegelisahan itu kembali muncul.

Harga kedelai impor naik, biaya produksi pengrajin meningkat, ukuran tempe mengecil, harga tahu merangkak, dan warung-warung kecil mulai menaikkan harga jual.

Lagi-lagi rakyat kecil menjadi pihak pertama yang menerima efek rambatan gejolak global. 

Baca juga: Ironi Dominasi Kebenaran dalam Lomba Cerdas Cermat Pilar Kebangsaan

Padahal kebutuhan kedelai nasional diperkirakan mencapai sekitar 3 juta ton per tahun, sementara produksi domestik sering kali hanya berkisar 300–500 ribu ton.

Sisanya harus ditutup melalui impor, terutama dari Amerika Serikat dan Brasil.

Ketika kurs rupiah melemah 5–10 persen saja, dampaknya langsung terasa sampai ke pasar tradisional dan dapur rumah tangga. 

Ironinya, narasi tentang kedelai sebenarnya sudah sangat panjang.

Kajian akademik dilakukan, seminar ketahanan pangan digelar, diskusi tentang swasembada muncul hampir setiap tahun, dan setiap kali rupiah melemah isu tahu-tempe kembali menjadi berita utama.

Namun hasil akhirnya hampir selalu sama: impor tetap menjadi solusi utama. 

Masalahnya bukan karena Indonesia tidak mampu menanam kedelai. Banyak perguruan tinggi menghasilkan varietas unggul.

Teknologi budidaya tersedia. Lahan potensial juga masih ada di berbagai daerah. 

.ads-partner-wrap > div { background: transparent; } #div-gpt-ad-Zone_OSM { position: sticky; position: -webkit-sticky; width:100%; height:100%; display:-webkit-box; display:-ms-flexbox; display:flex; -webkit-box-align:center; -ms-flex-align:center; align-items:center; -webkit-box-pack:center; -ms-flex-pack:center; justify-content:center; top: 100px; }

Namun seluruh mata rantai kebijakan berjalan sendiri-sendiri. Petani enggan menanam kedelai karena margin keuntungan kalah dibanding jagung atau padi.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
BRI Super League: Imran Nahumarury Punya Misi Strategis di Balik Kekalahan Telak Semen Padang dari Persebaya
• 3 jam lalubola.com
thumb
Prabowo Ungkap Kepala BPKP Gemetar Laporkan Orang Dekatnya Menyeleweng
• 11 jam laluokezone.com
thumb
Persipura Dihukum Tanpa Penonton Kandang Semusim & Rp 240 Juta Imbas Rusuh
• 13 jam lalukumparan.com
thumb
Garap Film Komedi Horor, Imam Darto Dapat Pelajaran Berharga Trik Sembunyikan Hantu
• 6 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Hampir Sebulan Menikah dengan El Rumi, Syifa Hadju Curhat soal Pernikahannya hingga Alasan Jarang Posting di Sosmed
• 11 jam lalugrid.id
Berhasil disimpan.